Oleh: Ranti
(Ibu Rumah Tangga)
30 Juni 2019 Jawa, Bali dan Nusa Tenggara harus bersiap siap menghadapi kekeringan , ini terjadi karena kekeringan extrem berlangsung lama, peringatan ini disampaikan badan meterologi (BMKG) berdasarkan hasil monitoring hari tanpa hujan. Beberapa daerah di jawa yang berpotensi mengalami kekeringan antara lain Sumedang, Gunung kidul, Magetan, Ngawi, Bojonegoro, Gresik, Tuban , Pasuruan , dan Pameukasan.
Untuk mengatasi kekeringan pemerintah pusat melalui kementrian pekerjaan umum dan perumahan rakyat membuat sumur sumur dan tangki-tangki untuk mengurangi dan membantu agar air tetap ada. Sehingga saat kekeringan sudah mulai datang akan di pompa untuk menyediakan air, adapun bagi wilayah wilayah yang jauh dari sungai dapar memanfaatkan air permukaan.
Sebelumnya Badan nasional penanggulangan bencana sudah mengingatkan pemerintah daerah untuk siap menghadapi cuaca extrem kekeringan yang berlangsung cukup panjang, berdasarkan catatan BMKG wilayah yang memiliki potensi kekerinhan adalah yang telah mengalami HTH lebih dari 60 hari dan perkiraan curah hujan rendah kuramg dari 20 mm dalam 10 hari mendatangkan dengan peluang lebih dari 70%.
Selain itu monitoring perkembangan terhadap musim kemarau menunjukan berdasarkan luas wilayah 37% sudah mengalami musim kemarau dan 63% wilayah mengalami musim hujan, karena hampir terjadi setiap tahun musim kekeringan saat ini telah di siap kan balai balai sebagai antisipasi, tentunya hal ini akan di koordinasikan dengan BMKG mengenai wilayah mana saja yang mengalami kekeringan.
Adapun dampak secara langsung dari musim kemarau ini ialah gagal panen yang dialami para petani beras. Dimana pasokan akan cenderung berkurang akibat gagal panen oleh petani sedangkan permintaan pasar tetap tinggi, dan ini akan berakibat naik nya harga beras sehingga akan lebih menyengsarakan rakyat.
Sebenarnya kerusakan yang terjadi di bumi ini memang karena ulah manusia itu sendiri, Dengan tidak menebang pohon sembarangan, tidak menggunduli gunung gunung sehingga tidak ada air yang terserap karena tidak ada pohon pohon yang habis di manfaatkan orang orang yang dzolim. yang pertama memang karena musim kemarau yang panjang , lalu minimnya resapan air karena sedikitnya pohon, penggunaan air yang berlebihan (mubadzir), lalu solusi dari semua permasalahan ini sebaiknya mulai menanam banyak pohon agar resapan air lebih banyak, membuat bendungan tempat air yang bisa di tampung terlebih dahulu dan di gunakan saat kemarau mulai melanda, dan tidak berlebihan menggunakan air
Maka perlulah sistem yang menerapkan aqidah yang baik karena sesungguhnya Allah menciptakan alam semesta dan kebaikannya harus di rasakan oleh setiap manusia dan makhluk hidup yang lain nya, hanya sistem Khilafah-lah yang bisa menjadi solusi dalam berbagai aspek kehidupan, sehingga kesejahteraan dan kebaikan dapat dirasakan oleh semua umat.
Wallahu'alam bish-shawab.
Tags
Opini
