Oleh : Vivin Indriani(Member Komunitas Revowriter)
Bagi para politikus yang bergelut dalam politik sekulerisme, perilaku-perilaku yang tak biasa dan kadang tercela menjadi hal yang wajar di lakukan. Ketika aqidah sekulerisme(fashluddin 'anil hayah) dijadikan sebagai asas dalam berpolitik, maka seorang politikus tak akan peduli apakah langkah yang dihasilkannya memberi manfaat atau tidak. Apakah kebijakan yang dikeluarkannya melanggar syariat Islam atau tidak. Bahkan dia tidak peduli seandainya keputusan yang diambil membawa kemaslahatan atau kemudlaratan bagi masyarakat luas yang dipimpinnya.
Politikus sekuler kapitalistik hanya akan memandang kepada ada-tidaknya manfaat secara material bagi dirinya. Dia akan mengesampingkan nilai moral, nilai akhlak bahkan nilai-nilai beragama jika itu menyangkut kepentingan pribadi atau partainya. Politikus sekuler akan melakukan berbagai daya upaya agar kepentingannya bisa terealisir sebagaimana tujuan awalnya terjun ke dunia politik. Maka kita bisa melihat, para politikus sekuler kapitalistik hari ini akan nampak mati-matian membela suatu hukum atau pendapat di tengah masyarakat, hanya agar kepentingan diri dan partainya bisa terwujud meski harus mengorbankan banyak pihak selain dirinya.
Inilah sesungguhnya wajah asli perpolitikan hari ini di banyak negara. Ideologi kapitalis sekuler yang menancap di dalam benak masyarakat terutama umat Islam menjadikan mereka menganggap biasa jika ada seorang politikus atau pejabat negara melakukan berbagai intrik dan politik kebohongan demi mempertahankan atau meraih sebuah jabatan pemerintahan. Strategi dan kebijakan tak wajar sah-sah saja dilakukan dalam politik sekuler hari ini sebab itulah ruh dari ideologi ini. Fashluddin 'anil hayah yang artinya memisahkan urusan agama dengan urusan kehidupan dunia telah menjadi semboyan dan visi misi yang menghiasi aktivitas politik mereka.
Berpolitik di dalam sistem demokrasi kapitalistik dimana sekulerisme sebagai akidahnya, berarti memisahkan aturan agama dengan pengambilan kebijakan dalam berpolitik. Agama hanya sekedar simbol. Atau sekedar alat pemanis kampanye calon pemimpin. Agama bahkan diperalat untuk menggolkan kebijakan, tak tanggung-tanggung bahkan menyitir ayat-ayat suci al quran sebagai pelengkap retorika meraih simpati publik.
Sesungguhnya berpolitik ala kapitalis sekuler adalah sesuatu yang bertentangan dengan politik dalam Islam. Dimana Islam menjadikan urusan politik tidak semata kekuasaan dan intrik untuk memperolehnya. Politik Islam telah kita singgung di bab sebelumnya yakni aktivitas mengurusi, mengatur, memperbaiki dan memberi petunjuk kepada masyarakat. Dengan demikian muslim yang berkecimpung dalam dunia perpolitikan berarti harus seseorang yang mampu mengatur, memperbaiki dan mengurusi urusan masyarakat dengan menggunakan petunjuk dari Islam. Sebab tidak ada pemisahan urusan agama dengan dunia dalam pandangan islam.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (QS. A Baqoroh : 208).
Wallahu 'alam bish showab.