Oleh: Mimin Mintarsih (Ibu Rumah Tangga)
Sedih, perih, pilu itulah mungkin kata-kata yang bisa mewakili ragam duka nestapa bangsa ini akibat musibah yang datang bertubi-tubi. Belum reda duka Lombok akibat gempa, muncul duka baru gempa Palu. Belum berakhir gempa kali ini muncul tsunami Banten yang juga memakan banyak korban meninggal dan terluka.
Dalam musibah kali ini lebih dari 200 orang meninggal dunia, ratusan lainnya masih hilang. Tsunami Banten seolah menutup akhir tahun 2018 dari rentetan bencana yang melanda negeri ini khusus nya dalam setahun terakhir.
Refleksi tahun 2018 adalah tahun kesedihan bagi umat Islam. Kedzaliman demi kedzaliman, kedurhakaan demi kedurhakaan terjadi dengan telanjang hingga mengundang azab Allah SWT. Namun tahun 2018 kini sudah berlalu, tak ada yang tersisa kecuali berbagai cerita sedih yang melengkapi perjalanan berat umat dari tahun ke tahun yang hidup dalam sistem sekuler yang kian nyata rusak dan merusak.
Sebagai muslim kita tentu harus menyikapi berbagai musibah yang terjadi secara benar sesuai dengan tuntunan syariah. Dalam arti musibah ini harus betul-betul kita pahami sebagai sebuah ujian dari Allah bagi hambaNya. Terkait dengan waktu, tempat dan kepada siapa musibah ini terjadi, bahwa hal tersebut merupakan Qodho Allah yang tidak bisa dielakkan. Sehingga kita harus bersikap tawakal dan bersabar dalam menerimanya.
Adapun Pihak penguasa, mereka nampak sudah berusaha menyakinkan bahwa sepanjang tahun 2018 kondisi dalam negeri akan baik-baik saja. Bahkan nyaris setiap kementerian dan lembaga pandukungnya merilis laporan prestasi kerja mereka di sepanjang tahun 2018 dengan positif.
Namun rakyat bisa menilai dan merasakan yang sebenarnya terjadi menimpa mereka saat ini. Rakyat merasakan derita menganga akibat penerapan aturan rezim ada, yang jauh dari mensejahterakan mereka. Rakyat juga merasakan bahwa yang disebut prestasi penguasa adalah bohong besar, yang bahkan sepanjang 2018 rezim mengukuhkan sebagai rezim gagal, pembohong, ingkar janji, antek asing dan represif serta anti Islam .
Sebagai contoh di bidang politik, penetapan sistem demokrasi sekuler makin menampakkan wajah buruknya. Bagaimana tidak, perselingkuhan penguasa-pengusaha makin telanjang, kasus-kasus korupsi berjamaah terus mencuat. Sehingga tingkat kepercayaan terhadap aturan penguasa yang ada mulai luntur.
Maka dari itu, di tahun 2019 ini selayaknya umat fokus dan lebih giat lagi berjuang mewujudkan perubahan hakiki. Perubahan yang didasarkan pada perubahan secara fundamental dari asas awalnya yang bertentangan dengan aqidah Islam. Sebuah perubahan yang tidak sekedar berpindah saja akan tetapi berpindah dari kondisi buruk kepasa kondisi yang sesuai dengan islam. Dan semua realitas buruk ini tentu harus memicu keinginan kuat untuk melakukan perubahan kedepan nya.
Semua itu dilakukan dengan mengajak umat mencampakan sistem sekuler demokrasi dan menerapkan hukum Allah SWT. Perubahan yang di maksud tentu bukan perubahan parsial ganti rezim semata, tetapi harus mengarah pada perubahan sistem yakni sistem Khilafah Islam yang akan menerapkan Syariat Islam dan menyebarkan dakwah ke seluruh dunia. Sistem inilah adalah sistem khilafah yang akan menjamin kebaikan dan keberkahan.
Wallohu’alam Bi Shawwab.