Oleh : Lilik Yani
Ka'bah adalah sebuah bangunan yang terbuat dari batu yang tersusun tanpa menggunakan perekat tanah liat. Orang-orang Arab takut merusaknya, meski dalam rangka untuk membangun kembali. Keadaan seperti itu terus berlanjut hingga Makkah terjadi banjir besar. Melihat situasi seperti itu, mereka takut ada air yang masuk ke dalam Ka'bah. Kemudian mereka sepakat untuk membongkar Ka'bah dan membangunnya kembali.
Berdirilah seorang tokoh bernama Abu Wahhab bin Amru bin A'iz bib Abdu bin Amran bin Mahzum mengambil batu dari Ka'bah, lalu berkata, "Wahai orang-orang Quraisy, jangan kalian campurkan dalam membangun Ka'bah dari hasil usahamu, kecuali yang baik. Jangan dicampurkan pula uang hasil melacur dan uang hasil usaha apapun yang diperoleh dengan cara zalim."
//Membangun Ka'bah adalah Kemuliaan Besar//
Membangun Ka'bah merupakan sebuah kemuliaan terbesar. Maka dari itu semua orang-orang Quraisy ingin merasakan kemuliaan itu bersama-sama. Hingga dalam membangun Ka'bah ini mereka membagi tugas sebagai berikut :
-Bani Abdi Manaf dan Bani Zuhrah ditugaskan membangun Ka'bah bagian pintu.
-Bani Mahzun dibantu beberapa suku Quraisy lainnya ditugaskan membangub bagian antara ruknul aswad (sudut hitam) dan ruknul yamani (sudut Yamani)
-Bani Jumah dan Suham ditugaskan membangun permukaan Ka'bah
-Bani Abdul Dar bin Qushai, Bani Asad bin Abdil Uzza dan Bani Adi bin Ka'ab ditugaskan membangun bagian pondasi.
Walau sudah dibagi dan mendapat tugas masing-masing. Tapi mereka masih takut untuk memulai membongkar Ka'bah."
Kemudian tampillah al-Walid bin Mughirah, "Saya yang akan memulai menghancurkan Ka'bah."
Kemudian dia mengambil cangkul
dan lalu berdiri di atas Ka'bah sambul berdo'a, "Yaa Allah, kami tidak berharap kecuali kebaikan."
Ketika malam hari mereka berjaga-jaga. Mereka berkata, "Kita lihat dulu. Jika kita mendapat musibah, berarti kita dilarang menghancurkannya. Sedang yang terlanjur kita rusak, kita kembalikan lagi ke tempatnya semula. Jika kita tidak mendapatkan musibah, berarti Allah merestui apa yang kita perbuat dan kita akan menghancurkannya."
Ketika pagi tiba, al-Walid datang mendahului yang lainnya untuk meneruskan pekerjaannya. Kemudian ia mulai menghancurkannya, orang-orang lain pun ikut menghancurkannya. Kemudian semua suku dari suku Quraisy mengumpulkan batu untuk membangun Ka'bah. Setiap suku mengumpulkan batu sebanyak-banyaknya.
Setelah pembangunan sampai pada tahap meletakkan Hajar Aswad, mereka berselisih. Masing-masing suku merasa paling berhak untuk meletakkan Hajar Aswad pada tempatnya. Perselisihan semakin memanas, hingga mereka siap untuk berperang. Namun tidak lama kemudian mereka berdamai dan menyerahkan keputusannya kepada orang yang pertama masuk dari pintu masjid ini.
Ternyata orang yang pertama masuk adalah Muhammad saw. Mereka berkata, "Al Amin, kami semua senang dengannya. Setelah mereka menceritakan apa yang terjadi di antara mereka, maka Muhammad saw berkata, "Berikan aku sorban."
Muhammad saw mengambil Hajar Aswad dan menaruhnya di atas sorban, lalu beliau berkata, "Sekarang masing-masing suku memegang ujung sorban. Selanjutnya kita angkat bersama-sama." Mereka melakukannya hingga Hajar Aswad sampai di tempatnya. Kemudian Muhammad saw yang menaruhnya dan membangunnya."
Setelah kejadian ini, Muhammad saw menjadi perhatian. Bahkan mereka tidak akan pernah melupakan kejadian ini. Mereka menganggap itu semua bukti akan kecerdasan dan kepiawaiannya dalam menyelesaikan berbagai krisis.
Sungguh kejadian seperti ini merupakan pembelajaran dan hikmah yang akan membantu Muhammad saw untuk mengajak manusia ke jalan Allah. In syaa Allah.
Surabaya 10 November 2018
#SirahNabawiyah10
#PeranMuhammadMembangunKabah