Nasib Haru Guru Honorer Dalam Sistem Sekuler

Oleh Nursiyati, A.Md Komp (Guru Honorer)


Miris! Itulah kata yang tepat untuk menggambarkan aksi demonstrasi yang dilakukan oleh ribuan guru honorer di depan Istana Merdeka pada Selasa (30/10/2018) hingga Rabu  (31/10/2018) di karenakan para guru honorer ini tidak di temui oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Kepala Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko menanggapi unjuk rasa ribuan guru honorer di depan Istana Merdeka pada Rabu 31 Oktober. Ia mengungkapkan alasan tidak menemui perwakilan dari guru honorer tersebut. "Sebenarnya bukan enggak mau nerima, sama-sama padat semua kemarin ya," kata Moeldoko di Istana Kepresidenan, Bogor, Jawa Barat, Jumat (2/11/2018). 


Menurut Moeldoko, pemerintah sudah menyiapkan solusi untuk mengkoordinir para guru honorer, khususnya mengenai gaji mereka.Satu di antaranya yaitu dengan menjadikan para pekerja honorer menjadi pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (P3K). "Ya sudah itu solusinya. Kan demo bukan hanya sekarang, tapi dari dulu. Karena demo itu lah terus kita ada solusi itu," ucap Moeldoko.  (Liputan6.com) 


Hal ini sangat di sayangkan karena bagi guru yang selalu di kenal dengan sebutan pahlawan tanda jasa, tidak temui oleh kepala pemerintahan yang harusnya menjadi tempat bagi guru honorer untuk menumpahkan segala keluh dan kesah ternyata berbanding terbalik dengan yang di dapatkan oleh mereka ketika berunjuk rasa.

Jadi kalau melihat hal ini bisa dapat kita simpulkan bahwa pada saat sekarang ternyata pendidikan tidak mendapat perhatian yang serius dari pemerintah dilihat bahwa dia sebagai tonggak perubahan dan kemajuan suatu negeri pendidikan sangat memainkan andil nya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. 

Sehingga ketika pendidikan tidak mendapat kan perhatian yang serius dari pemerintah dapat di pastikan Negara ini menuju kepada kemiskinan intelektual yang nantinya akan berimbas kepada naiknya orang-orang yang tidak mengetahui atau tidak ahli dalam bidang nya untuk memimpin negeri ini.

Fenomena melihat guru honorer dengan sebelah mata di karenakan status mereka padahal jika melihat usia mereka yang sangat produktif bisa kita pastikan ini lah guru yang jika di bina dapat membawa negeri ini menjadi negeri yang tidak hanya dari pengetahuan yang baik namun dari akhlak nya juga baik. Namun inilah lalai nya pemerintah dalam memenuhi kesejahteraan para pendidik khususnya guru honorer merupakan bukti menunjukkan ketidakpedulian mereka terhadap posisi strategisnya dalam2 menyiapkan generasi masa depan.

Jika menilik sejarah Islam, dalam rentang waktu kurang lebih 13 Abad, Khilafah islam telah memberikan perhatian yang sangat serius terhadap dunia pendidikan, karena melalui pendidikanlah akan lahir generasi-generasi terbaik umat yang akan mengabdi untuk kemaslahatan umat. Di dalam wahyu pertama yang diturunkan kepada Baginda Nabi saw., Allah Swt telah meletakkan dasar-dasar pendidikan melaluui pola perubahan pemikiran dengan memerintahkan manusia untuk membaca, baik ayat-ayat Qouliyah maupun Kauniyah.

Allah Swt berfirman dalam surat al-'Alaq ayat 1-5:

"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya." (TQS. al-'Alaq [96]: 1-5)

Dari wahyu pertama inilah Allah Swt mengajarkan manusia untuk membangun peradaban yang agung dan mulia yang akan melebihi peradaban manapun, bahkan kemajuan peradaban islam jauh melebihi zamannya.

Selain itu, Islam juga sangat memberikan perhatian yang sangat tinggi terhadap pada pengajar dengan memberikan upah yang sangat layak atas ilmunya. Sebagai gambaran, di masa kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab, setiap guru mendapat gaji yang luar biasa besar yaitu sekitar 15 dinar/ bulan. Jika pada tahun 2011 harga 1 dinar setara dengan 2.258.000, itu artinya 15 dinar x Rp. 2.258.000 = 33.870.000/bulan.. Subhanallah, suatu nilai gaji yang fantastis tanpa harus memikirkan lagi soal tunjangan profesi, apalagi kalau sampai harus berpolemik soal sertifikasi vs resonansi finansial.

Satu hal yang harus kita pahami, bahwa kesejahteraan tersebut akan benar-benar akan terwujud manakala ada dalam  sistem Islam yg dibterapkan. Wajib  para guru dan seluruh kaum muslimin terlibat dalam perjuangan untuk mewujudkannya. 

Wallahu’alam Bishawab

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak