Oleh : Radhia (Pemerhati Generasi, Member Akademi Menulis Kreatif daerah Banjarbaru Kalimantan Selatan)
Apa yang dimaksud The Endless Love ? Cinta yang tiada akhir. Kepada siapa ? Kepada semua yang berarti/berharga.
Akankah kita mencintai orang yang tidak kita kenal ? Tidak, karena mencintai berawal dari merasa nyaman karena mengenalnya.
Kita sayang dan cinta dengan orangtua karena mereka sayang dengan kita, kita mengetahui perjuangannya dalam melahirkan, merawat dan membesarkan kita. Kita sayang dengan teman2 kita karena kita mengenal mereka.
Sama halnya dengan kita bisa mengidolakan sosok Rasulullah, karena kita sering diceritakan tentang shirah Rasul dan para shahabat. Dan yang pasti nanti di akhirat kelak kita ingin bersama orang yang kita cintai.
Artinya, benar, tak kenal maka tak sayang.
*Kembali ke laptop* 😄
Siapa kita ?
Benar, kita ini adalah anak dari orangtua kita, kita adalah pelajar, kita adalah guru dan lain sebagainya.
Namun yang terpenting yang harus kita ingat dan sadari adalah bahwa kita ini adalah manusia, kita ini adalah makhluk, kita ini hamba.
Maka kalau kita menyadari bahwa diri ini adalah makhluk, pasti yang namanya makhluk itu mempunyai sifat terbatas, artinya pasti ada yg menciptakan, pasti ada al-Khalik yang sifatnya tidak terbatas, al-Khalik itu Ada, Terdahulu, Kekal, tidak berawal dan tidak berakhir.
Dalam menentukan sifat al Khaliq, ada 3 kemungkinan: Pertama, Dia diciptakan orang lain (sangat tidak mungkin kalau Pencipta diciptakan orang lai); Kedua, Dia menciptakan dirinya sendiri (juga tidak mungkin Pencipta bisa menciptakan diri sendiri sekaligus menciptakan yang lain); Ketiga, Dia bersifat azali dan wajibul wujud, wajib adanya (ini yang benar dan masuk akal).
Dari ketiga kemungkinan tadi siapakah Al-Khaliq ? *Allah swt*
Kita sebagai manusia, sebagai hamba haruslah memahami bahwa kita bersifat terbatas, pasti berakhir. Coba kita lihat tanaman, dari kecil, tumbuh tumbuh tumbuh sampai akhirnya mati, bisa karena ditebang atau memang mati dengan sendirinya, artinya sifatnya terbatas.
Kita lihat diri kita, asalnya kita dalam rahim ibu, lahir, menjadi bayi, batita, balita, kanak-kanak, remaja, dewasa, tua, lansia dan akhirnya tiada.
Sehingga jelas, tak ada yang pantas bersombong diri dihadapan Allah. Apalagi berani melakukan maksiat dibumi Allah.
Bencana demi bencana yang terjadi dibumi ini, negeri ini, harusnya bisa kita jadikan pelajaran, kita ambil ibrahnya agar kemaksiatan jangan pernah kita lakukan dimanapun dan kapanpun.
Kita yakin Allah Ada, Allah Maha Melihat Maha Mendengar Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Maka pantaskah kita utk ingkar kepadaNya ?
Yuk, kita kenali Sang Pencipta kita, tunduklah kita kepada setiap aturanNya, karena apa yang sudah menjadi aturanNya, maka itulah yang terbaik untuk kita, HambaNya. Aturan itu sudah jelas terang benderang tertuang dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah.
Ingat, kita meyakini adanya Allah ini merupakan aqidah, keimanan. Sebagaimana ada dalam Rukun Iman: Iman kepada Allah, Iman kepada Malaikat2 Allah, Iman kepada Kitab2 Allah, Iman kepada Rasul2 Allah, Iman kepada Hari Kiamat, Iman kepada Qadha dan Qadar
Bagaimana proses keimanan pada Al-Khaliq ?
Disini Islam menjawab bahwa dibalik alam semesta, manusia dan kehidupan pasti ada Pencipta yang mengadakan itu dari ketiadaannya. Karena Al-Khaliq bersifat wajibul wujud, dan Ia bukanlah makhluq.
Kita sebagai makhluq diperintahkan untuk memperhatikan dan memikirkan tanda-tanda kekuasaan Allah.
Allah berfirman dalam QS. Al-Jatsiyat ayat 3-4 yang artinya:
"Sesungguhnya pada langit dan bumi benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah untuk orang-orang yang beriman."
"Pada penciptaan kalian dan binatang-binatang melata yang bertebaran (dimuka bumi) terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang yakin."
Juga dalam QS. Al-Ghasyiyyah ayat 17-20
أفلا ينظرون إلى الإ بل كيف خلقت.
"Apakah kalian tidak memperhatikan unta, bagaimana ia diciptakan?"
و إلى السماء كيف رفعت.
"Dan langit, bagaimana ia ditinggikan?"
و إلى الجبال كيف نصبت.
"Dan gunung, bagaimana ia ditegakkan?"
و إلى الأرض كيف سطحت.
"Dan bumi, bagaimana ia dihamparkan?"
Untuk memahami hakikat dan tujuan hidup, maka kita harus bisa menjawab tiga pertanyaan besar (yang mendasar). Jawaban kita terhadap tiga pertanyaan ini sangat menentukan bagaimana arah kehidupan kita setelahnya.
Tiga pertanyaan itu adalah: Pertama, dari mana manusia dan kehidupan ini? Dari Allah yg Menciptakan segala sesuatu. Kedua, untuk apa manusia dan kehidupan ini ada? Untuk beribadah kepada Allah (QS.Adz-Dzariyat:56). Dan yang ketiga, mau kemana manusia dan kehidupan ini nantinya? Pastinya kembali kepada Allah, Sang Pemilik kehidupan.
Ketika kita sudah memahami tujuan hidup kita sebagai makhluk, maka disitulah kita menyadari bahwa Cinta yang tiada pernah berakhir itu hanyalah cinta kepada Sang Maha Cinta, cinta kepada Sang Maha Pemberi Cinta, cinta kepada Allah 'ajja wajalla.
Itulah *The Endless Love in Islam*