Sindikat Perdagangan Anak Mengintai Korban Bencana

Oleh : Nafisah Mumtazah

Ibarat pepatah sudah jatuh tertimpa tangga itulah yang dialami saudara kita yang terkena korban bencana gempa dan tsunami di  Donggala, Palu, Sulawesi Tengah. Di saat kondisi mereka yang rapuh dan memprihatinkan karena bencana, masih saja ada sekelompok orang yang tidak bertanggungjawab mengambil kesempatan dalam kesempitan mereka tega memanfaatkan situasi yang ada hanya demi meraih keuntungan pribadi. Dengan mengksploitasi anak - anak korban gempa untuk diperjualbelikan.


Sebagaimana dilansir dari batamnews ( 4/10 ), sindikat perdagangan anak mengincar anak - anak korban gempa Sulawesi Tengah, yang di evakuasi ke Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Setidaknya hingga kekinian terdapat satu kasus seorang anak korban gempa Kota Palu, nyaris menjadi korban sindikat tersebut.


Para sindikat perdagangan anak ini memasuki daerah bencana dengan modus menyamar sebagai pembawa bala bantuan. Dengan iming - iming bahwa anak mereka akan dibawah ke wilayah yang lebih aman plus janji memenuhi segala kebutuhan anak - anak korban, para sindikat ini mampu merayu dan membius para orang tua yang dalam kondisi terpuruk hingga percaya kepada para sindikat ini dan dianggap sebagai juru "penyelamat", dilasir dari Hidayatullah com (26/9/2016).


Astagfirullahaladzim...

Miris, melihat kodisi masyarakat negeri ini yang notabene mereka adalah mahkluk sosial rasa kemanusiaan dan persaudaraan seharusnya terjalin kuat antara kaum muslim apalagi dengan kondisi saudara mereka yang terkena musibah, bukan malah sebaliknya di manfaatkan sebagai ajang bisnis demi meraup keuntungan pribadi.


Sekulerisme kapitalisme telah mengikis rasa "kemanusiaan" sebagian  masyarakat. Akhirnya menjadikan mereka manusia yang tak berhati nurani, egois dan mau menang sendiri. Mereka tidak punya rasa empati pada sesama berperilaku dzhalim, bengis dan kejam demi harta, tahta, dan kekuasaan.Tiada lagi kawan dan lawan yang ada hanya "kemaslahatan".


Semakin jauhnya masyarakat dari pemahaman agama ini juga sebagai pemicu semakin minimnya rasa kemanusiaan antara sesama. Kalau tidak segera di cari solusinya maka di masa depan tiada lagi tersisa kemanusiaan dan persaudaraan ini.


Kurangnya perhatian yang di berikan negara kepada para korban bencana terutama anak -anak, baik secara moril maupun materil kondisi inilah yang menjadikan mereka mudah  di eksploitasi, dirayu dan dimanfaatkan oleh orang - orang yang tidak bertanggung jawab. Dan hukuman yang tidak menjadikan para palaku kejahatan jera sehingga mereka terus berkeliaran dan  memakan korban.


Solusi Islam


Didalam Daulah Islam, negara akan cepat tanggap dan menjadi nomor satu dalam mencari solusi pada setiap persoalan yang ada dalam tubuh Daulah. Karena itu sudah kewajiban negara meriayah masyarakatnya.Apalagi terhadap orang - orang yang kena musibah. Negara akan langsung tanggap darurat memberikan bantuan secara moril maupun materil. memberi bantuan untuk mempertahankan hidup, memulihkan kesehatan dan dukungan moral, pendidikan dan program konseling terutama untuk anak - anak merupakan unit yang sangat penting.


Sebagaimana yang di contohkan oleh Khalifah Umar bin Khattab RA pada saat daerah Hijaz benar - benar kering kerontang akibat musibah paceklik pada akhir tahun 18 H, tepatnya pada bulan Dzulhijjah dan berlangsung selama 9 bulan. Yang di ceritakan dalam At - Thabaqatul - Kubra karya Ibnu Sa'ad. Penduduk pedesaan banyak yang mengungsi ke Madinah dan mereka tidak lagi memiliki bahan makanan sedikitpun. Mereka segera melaporkan nasib mereka kepada Amirul Mukminin Umar bin Khattab RA. 


Beliau langsung cepat tanggap dan menindaklanjuti laporan ini. Beliau segera membagi - bagikan makanan dan uang dari Baitul Mall hingga Baitul Mal kosong total. Beliau juga memaksakan dirinya untuk tidak makan lemak, susu, maupun makanan yang dapat membuat gemuk hingga musim paceklik berlalu. Beliau hanya menghisap minyak dan tidak  pernah kenyang dengan makanan tersebut. Hingga warna kulit Umar Radhiyallahu anhu menjadi hitam dan tubuhnya kurus, dan di khawatirkan dia akan jatuh sakit dan lemah. 


Kondisi ini berlangsung 9 bulan. Setelah itu keadaan berubah kembali normal sebagaimana biasanya. Akhirnya para penduduk yang mengungsi tadi bisa pulang kembali ke rumah mereka. Negara pun akan memberikan sanksi yang berat pada pelanggar hukum syara', termasuk pelaku penculikan dan perdagangan anak.


 Rasulullah saw. bersabda : Perumpamaan orang - orang mukmin dalam hal saling kasih, saling cinta, saling menyayangi adalah seperti sebuah tubuh, jika salah satu anggotanya merasa sakit, maka anggota tubuh yang lain ikut merasakan sulit tidur dan demam. (Shahih Muslim No.4685).


Apa yang di sabdakan Rasulullah saw dari hadist diatas melukiskan gambaran ideal umat islam. Umat Islam satu sama lain saling memelihara dan saling menjaga, sehingga tercipta ikatan sosial yang kuat dan solid. Rasa ini akan semakin terpupuk jika masyarakatnya satu akidah, satu pemikiran, satu perasaan serta satu aturan. Dan aturanya di emban oleh negara dan diterapkan ditengah - tengah  masyarakat. Dengan demikian jadilah mereka masyarakat yang khas dan unik dan ikatan yang ada pun tak muda lekang oleh waktu dan tak mudah tergerus oleh zaman.

Wallahu a'lam  bi ashawab



Gresik. Jawa Timur.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak