Pemuda Rusak, Gerakan Pelangi Marak, Indonesia Darurat

Oleh : Tuti Hermawaty, S.Sos.

Diskursus mengenai pemuda dan peranannya di dalam membangun bangsa sebagai kalangan yang digugat sepanjang sejarah , seperti dikatakan oleh pendiri bangsa indonesia, Bung karno : ”Beri aku seribu orag tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya berilah aku sepuluh pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia” pepatah arab, “Pemuda hari ini pemimpin masa depan”. 

Sebetulnya ini sebuah tuntutan dan tantangan yang harus dijawab oleh pemuda dan tidak boleh ditawar-tawar. Secara tidak langsung kata – kata ini pun tampak sudah mendarah daging dalam segala bentuk perjuangan pemuda dimanapun ia berada. Ketika pemuda memulai perananya, berkarya, berkorban dan berjuang dalam rangka mengaktualisasikan potensinya sebagai warga negara, negara pun memberikan ruang baginya untuk mengabdikan diri sebagai “pelayan negara”.

Semangat perjuangan pemuda selalu hidup dan menghidupkan romantika perjuangan dan juga perubahan di segala penjuru dunia. Pemudalah yang menggagas perubahan, memecahkan kebuntuan, dan menemukan solusi atas permasalahan yang terjadi pada umat, bangsa bahkan dunia. Kata “pemuda” (baca: kamus besar bahasa indonesia ) akan membuat orang berfikir tentang semangat yang membara, energi yang berlebih, kekuatan yang tiada habisnya, inovatif serta daya kreasi yang tak pernah henti. Dan generasi untuk kepemimpinan dimasa depan. Namun bagaimana kondisinya hari ini jika peran pemuda mulai dibungkam, kehidupannya mulai rusak oleh arus kehidupan barat yang membuat pemuda terlena dengan gaya hidup yang sekuler.

Bagaimana tidak, Rakyat Indonesia kembali dikejutkan dengan kabar miris akan digelarnya kontes LGBT yang merupakan grand final Mister dan Miss Gaya Dewata 2018 di Bali. Kontes ini diikuti puluhan LGBT yang merupakan perwakilan dari daerah-daerah di Indonesia. Beruntung acara tersebut akhirnya dibatalkan oleh kepolisian atas dasar banyaknya penolakan dari berbagai elemen masyarakat salahsatunya adalah MUI Bali (www.republika.co.id 13 oktober 2018).

Temuan adanya Grup Gay Garut di Facebook yang jumlahnya mencapai ribuan terlebih pelakunya mayoritas berusia belia, pelajar SMP dan SMA. Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa perilaku menyimpang ini sudah sangat memprihatinkan, Tak heran Psikolog terkenal, Prof. Adriano Rusfi menyebut LGBT sebagai suatu gerakan penularan, yang berusaha memperluas dan menambah pengikutnya agar eksistensinya bisa diterima oleh masyarakat.

Kasus kasus tersebut seakan mempertegas gerakan LGBT yang semakin massif mengkampanyekan gaya hidupnya yang menyimpang. Mereka mulai terang-terangan mempromosikan dan mempertontonkan kebebasan perilaku seksualnya.

Perkembangan teknologi media digital memungkinkan para pelaku LGBT menyebarkan perilakunya yang menyimpang sekaligus mengkampanyekannya, sehingga banyak anak-anak yang terpapar oleh derasnya informasi yang rusak ini. Adanya Grup sosial media ataupun aplikasi kencan memungkinkan mereka bisa bertemu dan membentuk komunitas sesama jenis.

Akar Masalah

Jika melihat fenomena semakin bebasnya pergaulan di kalangan remaja termasuk meningkatnya angka homoseksualitas di kalangan remaja maka kita bisa melihat bahwa ada beberapa faktor yang menjadi penyebabnya. Diantaranya adalah :

Pertama, Lemahnya pemahaman agama yang dimiliki oleh remaja pada saat ini. Pelajaran agama hanya diajarkan secara formal dan teoritis di sekolah, tanpa ada pembinaan dan pendampingan bagaimana mengaplikasikan nilai-nilai agama dalam kehidupan.anak-anak tidak mampu membedakan mana yang boleh diikuti dan mana yang tidak, mana yang baik dan mana yang buruk dan merusak. Keluarga khususnya ibu sebagai “madrasatul ula” yang berkewajiban meletakkan fondasi dasar keimanan saat ini banyak yang tidak hadir dalam kehidupan anak. 

Kerasnya kehidupan di era kapitalis menyebabkan banyak ibu bekerja di luar rumah dan menitipkan anak-anaknya pada pembantu, tempat penitipan anak, ataupu nenek kakeknya. Akhirnya anak-anak kurang pengawasan dan menjadikan gawai sebagai sarana untuk hiburan sekaligus mendapatkan informasi yang sayangnya malah justru merusak

Kedua, Masyarakat yang individualis dan acuh terhadap lingkungannya sehingga aktivitas saling mengingatkan atau amar makruf nahi munkar menjadi sesuatu hal yang aneh pada saat ini. Orang yang peduli seringkali dilabeli usil, mau tahu urusan orang atau “kepo”. Sehingga kemudian perilaku menyimpang dianggap menjadi biasa karena tidak ada yang merasa terganggu. 

Padahal Rasulullah SAW menggambarkan masyarakat sebagai perahu yang sedang berlayar di kapal yang sama. Orang yang diatas kapal akan menjaga supaya orang yang berada di lambung kapal jangan sampai melubangi kapal karena menginginkan air dengan mudah yang akan menyebabkan kapal karam. Ini menggambarkan bahwa rusaknya sebagian masyarakat bisa menyebabkan kerusakan masyarakat secara menyeluruh jika tidak ada aktivitas pencegahan.

Ketiga, Tidak adanya sanksi yang menimbulkan efek jera sebagai hukuman atas perilaku seksual menyimpang. Selama ini kita sering membaca penangkapan atau penggerebekan pesta-pesta seks akan tetapi sesudah penangkapan itu para pelakunya tidak lama dibebaskan kembali karena memang tidak ada aturan yang bisa menjerat mereka kecuali jika ada prostitusi di dalamnya baru bisa diproses pengadilan, jika dilakukan suka sama suka maka bisa dengan mudah bebas. 

Sebagaimana kasus 129 pengunjung pesta seks gay di kelapa gading Jakarta yang dbebaskan sesudah tertangkap denga alasan bahwa mereka hanya sebagai tamu. (www.kompas.com 22 mei 2017). Tentu hal ini menyebabkan pelaku bisa mengulang  perilaku yang sama sekaligus menjadi contoh buruk karena seakan perilaku tersebut adalah perilaku yang wajar dan tidak perlu diberikan hukuman. 

Islam, Solusi Tuntas

Hal ini sungguh berbeda dengan Islam dalam menerapkan hukuman terhadap pelaku liwath (homoseksual). Islam sudah memberikan langkah preventif mencegah perilaku homoseksual menyebar yaitu dengan mengasingkan orang yang berperilaku kebanci-bancian dan menghukum mati orang yang melakukan praktek homoseksual. Hukuman berat ini menjadikan orang takut untuk melakukan perbuatan tersebut sekaligus menjaga masyarakat dari penyakit menular ini.

Sungguh kita sayangkan persoalan ini terus menerus berulang tanpa ada solusi yang tuntas dan komprehensif.seyogyanya penanganan terhadap berbagai perilaku menyimpang membutuhkan peran dari semua pihak. Individu yang bertaqwa yang senantiasa taat kepada Allah merupakan hasil dari didikan keluarga yang peduli terhadap pendidikan agama anak sejak dini,  didukung oleh masyarakat yang saling mengingatkan dan menasehati dan memahami bahwa itu adalah aktivitas dakwah yang wajib dilaksanakan karena termasuk ibadah,  serta dinaungi oleh sistem yang menjaga serta memastikan hukum-hukum Ilahi diterapkan secara menyeluruh di dalam kehidupan termasuk di dalamnya memantau segala aktivitas yang diduga menyimpang baik dalam kehidupan nyata maupun di dunia maya atau media digital. 

Sehingga generasi yang kuat, masyarakat yang makmur serta negara yang kuat tidak mustahil akan terwujud. Karena kuatnya suatu bangsa adalah karena kuatnya generasi muda. Bila generasi muda dilemahkan denganperilaku menyimpang diantara adalah homoseksualitas maka bukan kekuatan yang akan didapat justru kelemahan karena akan semakin meluasnya penyakit menular seksual, menurunnya angka kelahiran yang merupakan ancaman demografi. Dan yang lebih penting lagi adalah ancaman murka Allah yakni adzab yang tidak hanya menimpa para pelakunya akan tetapi juga orang-orang shalih yang berada di negeri tersebut. Naudzubillahi min dzalik



Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak