Oleh : Lukita afandi.Amd.keb
Indonesia merupakan Negara yang mempunyai wilayah yang strategis sehingga memiliki kekayaan sumber daya alam yang berlimpah dengan kondisi tanahnya yang subur. Indonesia mempunyai peringkat 3 seduniadengan penghasil beras setelah India dan tiongkok.
Pusat penghasil beras terbesar terletak di Jawa Timur. Propinsi ini mampu menghasilkan 1,1 juta ton setiap tahunnya. Jawa timur pun mampu memenuhi kebutuhan beras di daerahnya.
Tapi sayangnya dengan melimpahnya produksi beras di Indonesia, Pemerintah justru impor beras sebesar 2 juta ton pada tahun 2018. Hal itu guna untuk mencegah terjadinya krisis pangan akibat kekurangan pasokan.
Tidak ada pilihan lain selain impor kita butuh tidak akan mampu bagikan rastra dan operasi pasar, kata menteri kordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution dihadapan anggota Badan Anggaran DPR di kompleks Parlemen Jakarta pada rabu (6/9). Republika.com
Pada tanggal 20 september 2018, dalam diskusi bertajuk “Polemik Impor Beras” bersama anggota komisi VI DPR Ramdhani dari Fraksi Nasdem, Pak Rizal mengatakan kebijakan impor muncul disaat musim panen. Ini system yang kejam sekali. Para kartel menguasai seluruh komoditas terkait kebijakan impor yang muncul ini. (tempo.com)
Kisruh impor pangan bukan hanya sekedar soal ego sektoral tapi karena penerapan system kapitalisyang memangmenjadi alat penguasayang berkolaborasi dengan penguasauntuk mencari keuntungan secara legal.
Sehingga kerugian yang mengakibatkan menurunnya penghasilan petani beras yang tidak bisa mengembalikan modal panen beras. Dikarenakan pemerintah lebih memilih kebijakan untuk mengimpor beras dengan harga yang lebih murah. Sedangkan petani kita di Indonesia mempunyai harga yang jauh lebih mahal yang disebabkan karena pengelolaan penanaman padi yang juga membutuhkan dana tidak sedikit dari segi pengairan pupuk, bibit, belum lagi factor hama yang menyerang. Ini yang mengakibatkan tingginya harga jual beras di Indonesia lebih tinggi di pasar.
Islam sebagai agama juga sebagai ideology memunyai tatacara dalam mewujudkan ketahanan pangan . karena Islam memandang pangan merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia yang wajib dipenuhi per individu.
Dari Aspek manajemen rantai pasok angan, kita dapat belajardari Rasulullah SAW yang ada saat itu sudah sangat konsen terhadap persoalan akurasi data produksi. Bliau mengangkat Hudzaifah Ibn al Yaman sebagai khatib untuk mencatat hasil produksi Khaybar dan hasil produksi pertanian. Sementara itu kebijakan pengendalian harga dilakukan melalui mekanisme pasar dengan mengendalikan supply and demand bukan kebijakan pematokan harga.
Praktek pengendalian supply pernah dicontohkan Umar bin Al Khattab ra. Pada tahun paceklik dan Hijaz dilanda kekeringan. Umar bin Al Khattab menulis surat kepada Walinya di MesirAmrubin al Ash tentang kondisi pangan di Madinah dan memerintahkannya untuk mengirimkan pasokan. Kemudian Amru bin al Ash membalas surat tersebut “ Saya akan mengirim unta – unta yang penuh muatanbahan makanan yang “kepalanya” ada dihadapan Anda (di Madinah)dan ekornya masih dihadapan saya (Mesir) dan aku lagi mencari jalan untuk mengangkutnya di laut.