Mewaspadai Kristenisasi Saat Evakuasi Lombok

Oleh : Ammylia Rostikasari, S.S.

(Akademi Menulis Kreatif)

Lombok dirundung nestapa. Bangunan hingar bingar  yang ada di sana porak poranda karena guncangan gempa. Korban jiwa bergelimpangan. Bagian Provinsi Nusa Tenggara Barat itu tengah disentuh tangan Sang Pencipta.

Pascakejadian, tercatat lebih dari 1.393 orang luka-luka, 22.000 rumah rusak, 8 titik desa dalam kondisi luluh lantak. 

Empati begitu deras menghujam dalam hati penghuni ibu pertiwi. Bantuan kemanusiaan pun spontan berdatangan. Seribu sayang, di balik bantuan evakuasi korban gempa Lombok aroma kristenisasi ikut mewarnai. Korban gempa jadi sasaran penyesetan Akidah di kala kondisi emosional mereka ikut diguncang. Dokter Sapto Sutardi dari Help-S (Healthcare Profesional for Sharia) membenarkan adanya tindak keji kristenisasi tersebut.

Terdapat buku- buku Kristen yang hendak dibagikan kepada warga yang diselipkan dalam paket bantuan. Beruntung adanya belum sampai di tangan masyarakat karena terdeteksi dengan sigap saat penyortiran di kantor desa. Akhirnya paket tersebut pun disita.

Alhamdulillaah, relawan Muslim pun menindak upaya kristenisasi tersebut dengan sigap. Adanya relawan Muslim mendekap erat korban Lombok yang tengah diguncang emosional dan spiritualnya. Mereka mengadakan recovery fisik juga psikis. Mencoba menyadarkan akan hikmah di balik musibah.

Sejatinya Allah tengah menunjukkan kasih sayangnya yang lebih. Menyadarkan hamba-Nya agar kembali ada dalam jalan ketaatan dan menjauhkan diri dari tindak kemaksiatan.

Kristenisasi atau pemurtadan adalah upaya kemaksiatan yang sangat dibenci dalam ajaran Islam. Bahkan sanksi murtad begitu tegas  dinyatakan dalam Al-Quran. Tentulah ini tindak pemurtadan ini sebuah kebahayaan yang mengancam korban Lombok. Aqidah disesatkan dalam kondisi yang memprihatinkan. 

Oleh sebab itu, maka fokuslah wahai korban Lombok dan Kaum Muslim yang ada di Nusantara untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wata’ala. Beriman dan bertakwa dengan mengamalkan Islam sebagai agama juga pandangan hidup yang paripurna. Insyaallah, kita dapat memetik pelajaran dari setiap peringatan yang Allah berikan.

“Barang siapa yang kafir kepada Allâh sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allâh), kecuali orang yang dipaksa kafir, padahal hatinya tetap tenang dalam keimanan (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allâh menimpanya dan baginya adzab yang besar” (an-Nahl/16:106).


 Wallahu’alam bishowab.




Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak