Oleh : Lilik Yani
Bulan Muharram adalah bulan yang pertama dan salah satu dari 12 bulan dalam kalender hijriyah yang tercantum pada Kitabullah, sejak Allah menciptakan alam semesta.
"Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi. Diantaranya empat bulan haram (Dzulqo'dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab). Itulah ketetapan agama yang lurus. Maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu. Dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa." ( TQS At Taubah : 36)
Makna Muharram adalah diharamkan. Yakni sesuatu yang dihormati/terhormat dan yang diharamkan dari hal-hal yang tidak baik. Sebagaimana tertulis dalam sejarah, bahwa pada bulan Muharram umat muslim diharamkan Allah untuk berperang.
Adapun kata hijrah, di dalam Al Qur'an dirangkai dengan kata iman dan jihad. Hal itu menunjukkan bahwa hijrah itu adalah dalam rangka perjuangan (jihad) yang berlandaskan pada keimanan.
"Orang-orang yang beriman, yang berhijrah dan berjihad pada jalan Allah dengan harta benda dan dirinya, lebih tinggi derajatnya pada sisi Allah. Mereka itulah orang-orang yang menang. Tuhan menyampaikan berita gembira kepada mereka dengan beroleh rahmat, ridhaNya dan surga yang di dalamnya mereka memperoleh nikmat yang abadi." (TQS At Taubah : 20-21)
Allah memberikan derajad yang tinggi, adalah bentuk penghargaan dan penghormatan bagi orang-orang yang berjuang, berjihad dan berkorban demi agama-Nya. Perjuangan itu harus dilandasi dengan iman yang kuat dan mendalam.
//Cara Memaknai Muharram yang Salah//
Saudaraku, pada tahun baru Hijriyah ini, makna Muharram bagi mereka yang tidak mengerti karena kurang memahami tentang syariat Islam. Maka mereka akan memperingatinya dengan cara yang tidak tepat.
Berawal dari pemahaman yang salah dalam memaknai bulan Muharram. Mereka memaknai Muharram (syura) sebagai bulan keramat, angker, naas atau berbahaya. Oleh karena itu, peringatan yang dilakukan juga dalam rangka mengantisipasi agar bahaya itu tidak menimpa diri dan keluarganya.
Hingga bentuk peringatannya bermacam-macam seperti mengadakan larung sesaji ke laut atau tempat-tempat keramat, menyembelih hewan ternak kemudian kepalanya ditanam di suatu tempat keramat, mandi keramas dan berendam dengan bunga, memandikan pusaka, seperti keris, tombak, dan sejenisnya.
Mereka melakukan semua itu karena menurut keyakinannya, mereka takut celaka, takut kena musibah, atau yang lainnya. Padahal semua perbuatan tersebut tidak ada tidak diajarkan dalam syariat Islam. Rasulullah saw tidak pernah memberikan teladan amalan seperti itu. Bahkan perbuatan tersebut bisa mengantarkan pelakunya pada jurang kesyirikan (musyrik). Na'udzu billah min dzaalik.
Jika ada umat muslim yang mengerjakan perbuatan terlarang pada bulan Muharram, maka akan dianggap melanggar kehormatan bulan itu.
//Cara Memaknai Muharram yang Benar//
Saudaraku, jika Allah menghendaki kebaikan buat hamba-Nya, maka tidak ada seorang pun yang bisa menghalanginya. Walaupun bekerja sama dengan sebanyak orang sekalipun. Sebaliknya jika Allah menghendaki kesengsaraan buat seorang hamba, maka tak ada yang bisa menghalanginya walau bekerja sama dengan sebanyak apapun.
Maka, kita lebih baik berdoa saja kepada Allah yang mengusai langit dan bumi, agar kita selalu dalam perlindungan dan kemudahan semua urusan.
Saudaraku, hindarilah perbuatan yang mendekatkan pada kesyirikan, apalagi sampai berbuat syirik. Akan sangat berbahaya karena Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan bisa menghilangkan pahala amal yang sudah kita simpan.
Cukuplah Allah dijadikan andalan untuk mengatasi segala masalah dan urusan kita. Tidak usah memakai jimat atau keris untuk membentengi diri dari bahaya. Walau berpuluh jimat atau senjata membentengimu, jika Allah menghendaki bahaya terjadi padamu, maka yang terjadi adalah ketentuan dari Allah.
Oleh karena itu, yang paling relevan untuk dilakukan ketika datang tahun baru Hijriyah, di bulan Muharram ini adalah apa yang diucapkan Amirul Mukminin Umar bin Khathab : "Haasibuu anfusakum qabla an tuhasabuu". Koreksilah diri kalian, sebelum kalian dikoreksi di akherat kelak.
Saudara muslimku, pada momentum tahun baru ini, marilah kita semua melakukan introspeksi diri dari perbuatan apapun yang sudah kita perbuat pada tahun-tahun sebelumnya. Apakah sudah beramal sesuai syariat Allah ataukah masih banyak amalan yang tanpa dasar alias semaunya sendiri.
Saudaraku, mari kita perbanyak memohon ampunan Allah agar dosa-dosa kita dihapus dan kita diberi kesempatan untuk memperbaiki diri, dengan beramal sesuai syariat Islam dan meneladani Rasulullah saw.
In syaa Allah.
Surabaya, 12 September 2018
#MuharramBulanMuhasabah
#YukTaubat
#CukupBagikuAllah