Oleh:
Fatimah Azzahra, S.Pd
(Guru Homeschooling Group SMP
Generasi Pemimpin Cemerlang, Bandung)
Dilraba dilmurat, aktris cantik yang sedang
naik daun di negeri tirai bambu. Namanya kian terkenal setelah aksi Alexander
Pato, mantan pemain bola AC Milan dan Chelsea, yang membentangkan poster
Dilraba di tengah lapangan sambil berlari merayakan kemenangan
timnya(tribunnews, 21/3/2018). Walau tinggal di Tiongkok, nama dan
penampilannya tidak seperti orang Tiongkok. Itu karena Dilraba merupakan
keturunan suku Uighur. Suku yang terkenal akan
kerupawanan parasnya. Suku Uighur dikenal memiliki fisik yang lebih mirip bangsa
Kaukasia. Mereka umumnya memiliki tubuh tinggi, kulit pucat, mata lebar, hidung lurus mancung, dan alis yang lebat.
Saat Uighur kini terkenal
karena sosok Dilraba. Pemerintah Cina justru mengekang dan menindas etnis
Uighur. China mengklaim adanya ancaman ekstremisme Islam di wilayah Turkistan
timur, sehingga mereka membuat tindakan otoriter. Business Insider melaporkan
bahwa wanita Muslim dilarang menutup aurat seperti memakai rok dan burqa.
Penduduk dilarang berpuasa selama Ramadhan, sementara ratusan ribu – dan bahkan
mungkin 1 juta – orang telah dikirim ke kamp ‘indoktrinasi’ atau “pusat
pendidikan ulang” (re-education) untuk pelanggaran
seperti menumbuhkan jenggot, menerima telpon keluarga terdekat atau orang
yang dicintai dari luar negeri atau, dalam beberapa kasus, tidak ada alasan
yang jelas sama sekali (hidayatullah.com, 19/7/2018). Bahkan, kini, muslimah
Uighur dipaksa menikah dengan lelaki China, dalam rangka indoktrinisasi dan
asimilasi politik Tiongkok. Ini dilakukan untuk menekan populasi muslim di
Uighur, Xinjiang.
Inilah bentuk nyata
Islamphobia di tengah kita. Dengan dalil ekstrimis, fundamentalis, lantas
penguasa merasa berhak untuk mengekang dan menindas muslim. Hal ini bukan baru
terjadi kemarin, pekan lalu, atau bulan lalu. Ini sudah terjadi bertahun-tahun.
Semakin lama, semakin brutal penindasan yang dialami kaum muslim di Uighur.
Mereka susah payah mempertahankan aqidah dan agamanya ditengah penindasan
rezim.
Yang sangat disesalkan
adalah duduk manisnya masyarakat internasional ditengah pembantaian secara
terang-terangan ini. Tak ada rasa harus bersegera menyelamatkan mereka, saudara
seiman kita. Kini kita disibukkan dengan diri sendiri. Disekat oleh batas
negeri, atas nama nasionalisme. Rasa aman meninabobokan kita dari perjuangan
hakiki. Mereka bukan hanya butuh kritikan, saran kita disini. Tapi turunkan
segera bantuan nyata. Karena saran PBB pun tak didengar oleh rezim China.
Kecaman organisasi HAM internasional pun tak digubris. Mungkin karena China
jadi salah satu anggota tetap Dewan Keamanan PBB. Merasa kuasanya tak bisa
diganggu negera lainnya.
Saudara kita di Uighur sana butuh rasa aman
dalam memeluk aqidahnya, butuh rasa tenang menjalankan semua aturan Rabbnya,
yang juga jadi Rabb kita semua. Apa yang sudah kita lakukan untuk mereka,
saudara seiman kita? Sanggupkah kita menjawab pertanyaan di akhirat kelak dalam
pembelaan terhadap mereka?
Mari satukan suara. Rapatkan barisan.
Hilangkan semua sekat yang tak penting. Jangan menunggu nasib kita yang sama
seperti mereka. Naudzubillahi min dzalik. Kembalikan kehormatan dan kemuliaan
kaum muslim dengan perjuangan menerapkan kalimat tauhid di bumi Allah. Ingatlah
bahwa kita satu tubuh, dimana pun kita berada.
Allah SWT
berfirman :
“Dan
berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu
bercerai-berai”. (TQS. Ali Imran: 103)
Rasulullah saw
pun bersabda :
“Perumpamaan
kaum Muslimin dalam saling mengasihi, saling menyayangi, dan saling menolong di
antara mereka seperti perumpamaan satu tubuh. Tatkala salah satu anggota tubuh
merasakan sakit, maka anggota tubuh yang lainnya akan merasakan pula dengan
demam dan tidak bisa tidur.” (HR. Muslim)
Wallahu’alam bish shawab
Tags
Opini
