Renungan untuk Sebuah Kemerdekaan

Oleh: Nor Aniyah, S.Pd

Ketika hari itu tiba, banyak yang menyanyikan lagu suka cita. Semua mempersiapkan acara. Panjat pinang, balap karung. Makan kerupuk, tarik tambang. Agar kemenangan meriah, telah berbaris bermacam hadiah. 


Hari yang ditunggu beritanya pun tiba. Berjuang habis-habisan seharian. Hingga acara bubar, keramaian orang berpencar. Yang tersisa, hanya sampah berserakan di pinggir jalan, dan harus dibereskan. Plus, hitungan dana yang dikeluarkan buat anggaran. 


Lagu yang dinyanyikan untuk mengisi moment kebahagiaan, tapi hanya sekadar perayaan sehari saja. Diisi dengan lomba-lomba, bawa kelerang, makan kerupuk, balap karung, panjat pinang, mobil hias, dan sebagainya. Tapi, setelah dipikir-pikir, adakah hubungannya dengan kemajuan pembangunan negeri? 


Mungkin, dengan hiburan ingin berusaha melupakan sejenak kesedihan. Namun, tetap saja ada. Setelah acara selesai digelar kembali kita tersadar. Makin menumpuknya hutang negara. Beban hidup yang makin sulit dan tak terurusi dengan baik. 


Padahal, sudah 73 tahun kita terbebas dari penjajah. Memang sejak awal datangnya, mereka memang bertujuan untuk menguasai sumber daya alam. Dulu diangkut rempah-rempah hasil bumi ke luar negeri. Penjajahan begitu terasa. Rakyat dibuat kerja paksa dengan bergagai ancaman siksaan. 


Jadi bertanya-tanya, sudahkah kita merdeka? Penjajahan fisik memang tidak kita rasakan lagi saat ini. Tapi, di zaman sekarang katanya sih bentuk penjajahan tak lagi sama, sudah berubah. 


Yang namanya penjajah tetap saja bermental sama. Mereka ingin menguasai seluruh dunia dan mengeruk kekayaannya. Tak peduli kendati menyengsarakan sesama manusia. 


Neoimperialisme. Mereka menancapkan cengkraman lewat kuku perjanjian, dan menghisap kekayaan alam untuk keserakahan. Sementara, negeri yang dijajah itu tidak juga menyadari. Karena, terjajah lewat cara lebih halus, soft. Pemikiran, budaya, ekonomi, dan politik, hingga tanpa sadar menyerahkan dengan cuma-cuma segala yang dipunya.


Pemikiran terjajah oleh pola pikir sekuler. Bisa dilihat, pada kebanyakan kaum muda yang lebih bangga dengan budaya luar, dari Barat dan Timur. Bergaya alay, lebay. Tergerus moralnya oleh hedonis dan pergaulan bebas. Kehilangan identitas diri, sebagai pribadi muslim dengan kepribadian berkualitas. 


Kita terjajah ekonomi dan politik juga. Tambang-tambang masih diambil alih. Berton-ton emas tak membawakan hasil apapun. Sumberdaya alam jadi bahan rebutan. Terus diperas untuk menghidupi negara kapitalis. Ini, tidak lain terjadi akibat kolaborasi pengusaha dan penguasa negeri. Mereka yang berpesta dari hasil bumi, rakyat sendiri kebagian limbah pencemaran alamnya saja. 


Padahal, semua sumber daya alam, baik laut, sungai, hutan dan tambang (emas, minyak, gas, batu bara dll) adalah milik bersama. Ini sebagaimana sabda Rasulullah. “Kaum Muslim, berserikat dalam tiga perkara yaitu padang rumput, air dan api.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad).


Menurut para ulama pendahulu kita, bahwa dalam sistem Islam mengatur agar kekayaan milik umum tidak boleh dimiliki atau dikuasai oleh seseorang atau hanya sekelompok orang, apalagi pihak aseng dan asing. Negara lah yang mewakili kita untuk mengelolakan dan mengatur pemanfaatannya agar semua masyarakat bisa mengakses dan mendapatkan manfaat, secara adil dari harta-harta milik umum tersebut. 


Namun kini, bukti-bukti nyata penguasaan kekayaan alam oleh tangan asing sudah sangat kasat mata. Cengkeraman kapitalis sangat kuat, menggila. Negara yang harusnya mengurusi berubah menjadi korporasi. Negara menjadikan rakyat sebagai korban yang selalu tertindas dan diperas. 


Perlu segera kita sadari dan bersegera melepaskan diri, dari sistem pemerintahan demokrasi dan sistem ekonomi kapitalis-liberal. Sebab, sistem ini memang rusak dan hanya bisa menyengsarakan rakyat. Bahkan, sebenarnya sistem ini bathil dan bertentangan dengan aqidah kita Islam. Kenapa masih dipertahankan? Sistem ini memang sengaja diwariskan oleh para penjajah tempo dulu, dan dipaksakan untuk diterapkan agar mereka bisa terus menerus menancapkan hegemoni kekuasaan. 


Itulah fakta nyata bahwa memang penjajahan saat ini masih ada. Melanda negeri-negeri kaum Muslim, termasuk Indonesia. Dominasi asing terhadap kekayaan alam kita semakin massifnya. Penerapan demokrasi dan sistem ekonomi Kapitalis liberal menghasilkan APBN yang pendapatannya bersumber dari pajak dan hutang. Pajak yang dipungut dari rakyat dan hutang yang harus dibayar pula oleh rakyat. Sementara APBN menurut sistem Islam harus dikelola oleh negara dengan bersumber dari pengelolaan kekayaan alam, tanpa pajak dan hutang. 


Saatnya kita benar-benar bekerja bersama untuk berjuang mengakhiri penjajahan mencontoh para pahlawan. Membangun negeri. Agar menjadi lebih baik lagi. Lebih bermartabat. Berdaulat di mata negara lain. Memperjuangkan yang sebenarnya kemerdekaan. 


Merdeka adalah ketika kita bebas untuk taat pada syariat secara sempurna (kaffah). Menghamba hanya pada Sang Pencipta, kepada Allah SWT saja. Seperti itulah, Islam datang untuk membebaskan manusia dari kesempitan dunia akibat penerapan buatan aturan segelintir manusia menuju rahmatanlil alamin. Yang semua itu hanya akan terjadi jika umat manusia mengembalikan penetapan aturan hukum hanya kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. 


Ingatlah, teladan para pahlawan kita yang telah berjuang dengan misi mulia. Agar penjajahan di muka bumi ini bisa dihapuskan. Sebuah tujuan agar membebaskan manusia dari segala bentuk ketertindasan. Supaya kita bisa taat sepenuhnya hanya pada Pencipta. 


Perayaan kemerdekaan tahun ini harusnya menjadi sebuah refleksi. Apakah benar kita telah merdeka? Sesungguhnya kemerdekaan sekarang ini mau dibawa ke mana? Mau begini-begini sajakah? 


Tentu kita inginkan perubahan untuk mengisi kemerdekaan. Oleh karena itu, umat ini harus berani untuk melakukan perjuangan menuju perubahan itu. Yakni perubahan mendasar ke arah sistem hidup dengan syariat Allah SWT, yang akan membawa kebaikan terhadap seluruh alam.[]



*) Pemerhati Masalah Sosial dan Generasi, tinggal di Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalsel.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak