Muhasabah Karena Musibah

Oleh : Noris Turyati S.Pd

Di dunia ini tidak selamanya kita hidup dalam keadaan yang sama. Kadang kita sedih, senang, susah, mudah, kadang kita diatas kadang pula kita dibawah.  


Setiap keadaan yang kita rasakan, entah itu suka cita ataupun kesedihan yang mendalam kita pasti mengalaminya.


Ketika kita mengalami sebuah musibah.  Kadang kita marah dan tidak menerima, kita melakukan sesuatu yang malah memperparah keadaan. Bukan mencari jalan keluarnya. 


Kadang banyak orang yang nekat melakukan 

kemaksiatan dengan alasan menghilangkan kesedihan. Banyak yang menjerumuskan diri dalam kedzaliman karena menuruti kemarahannya. 


Banyak juga yang berkeluh kesah ataupun berputus asa. Padahal hal itu tidak akan merubah keadaan. 


Alih-alih bermuhasabah,  malah menyengsarakan  diri. Misalnya sudah gelap mata dan pikiran hingga menghabisi nyawanya sendiri (baca:bunuh diri). Padahal, bukan selesai satu masalah,  malah menambah masalah baru yang lebih besar lagi. Yaitu siksa Allah Swt. 


Di tengah-tengah gelombang musibah yang silih berganti, katakanlah seperti yang dikatakan Syuraih Al- Qadhi dalam Syu'abul Imam Lil Baihaqi (9507) :


"Sesungguhnya saya memuji Allah atas musibah yang menimpaku dengan empat pujian,

Pertama: Saya memuji-Nya, karena musibah yang menimpaku tidak lebih besar dari kenyataannya sekarang yang sedang saya rasakan.

Kedua: dan sayapun memuji-Nya, karena Dia telah menganugerahkan kesabaran kepadaku dalam menghadapinya,

Ketiga: demikian pula saya memuji-Nya, karena Dia telah menganugerahkan kepadaku taufik untuk bisa mengatakan : ‘Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun’, dengan maksud mengharap pahala.

Keempat: dan saya memuji-Nya, karena tidak menjadikan musibah itu mengenai agamaku"

 

Begitulah kiranya seorang mukmin jika menghadapi musibah. Secara sadar menyikapinya dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. Mengerti betul bahwa dalam hidup ada masa-masa sulit. Ada saat-saat bahagia.


Pentingnya ketika kita mendapatkan musibah,  jadikan ajang untuk bermuhasabah. 


Memaknai Arti Muhasabah

Allah Swt berfirman mengenai muhasabah yang artinya :


_"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepad Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”_

 (TQS.Al-Hasyr (59):18).


Di dalam hadits Nabi Muhammad SAW, beliau bersabda,


_“Dari Syadad bin Audirinyal dari Rasulullah SAW, bahwa beliau berkata, “Orang yang pandai adalah yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah yang dirinya mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah SWT”._

(HR. Imam Turmudzi).


Muhasabah, yang berarti mengintropeksi diri sendiri, menghitung dan mengevaluasi diri dengan amal perbuatan yang pernah dilakukan. 


Senantiasa bermuhasabah adalah salah satu jalan untuk mengantarkan kita menjadi manusia yang terus melakukan perbaikan. Yang terus selalu ingin berbuat baik dan terus mendekat kepada Allah Swt. 


*Musibah adalah Ujian*


Allah Swt memberi musibah kepada kita untuk menguji, seberapa sanggup kita, seberapa kuat kita. Allah Swt berfirman :


_"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan mengetahui orang-orang yang dusta."_

 (TQS. Al-Ankabût (29) : 2-3)


 Allah Swt juga berfirman dalam ayat lain, yang artinya :


_"Apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka, tetapi Allah hendak menguji sebagian kamu dengan sebagian yang lain"._

(TQS. Muhammad (47) : 4)


Allah Swt akan uji setiap manusia,  karena itu merupakan sunnatullah. Semakin kita beriman,  semakin Allah Swt uji kita. 


Ingatlah,  dalam kamus seorang mukmin,  segala urusannya adalah baik baginya.  Jika diberi kesenangan dia bersyukur,  jika ditimpa kesedihan ia bersabar. Dan keduanya sama-sama baiknya, karena itu berpahala baginya. 


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


_“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Sebaliknya apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya.”_

 (HR.Muslim, shahih).


Bagi seorang Mukmin, tertimpa musibah dan mendapatkan kesenangan adalah sama-sama baik akibatnya, karena keduanya merupakan ujian. Sebagaimana suatu musibah, jika dihadapi dengan sabar, itu adalah kebaikan dan berpahala. Maka demikian pula kesenangan, jika dihadapi dengan syukur, itu juga kebaikan yang diiringi pahala.


Wallahu'alam bi showab

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak