Oleh: Annisa Mutiani
Seringkali kita melakukan hal yang berbau individualis, namun kita tak merasa bahwa yang kita lakukan itu indivualis ataukah tidak.
Individualis dianggap hal yang spele, padahal karenanya akan membuat seseorang sakit hati serta merasa tidak dihormati dan dihargai.
By the way, individualis itu apa sih? Sebuah kata yang asing di telinga. Perlu difahami, individualis adalah orang yang mementingkan diri sendiri.
Pointnya sudah kita ketahui, bahwa definisi individualis adalah sama dengan orang yang egois. Sinonim 'egois' adalah 'individualis'.
Orang yang menganut paham individualis disebut individualisme. Paham individualis ini akan membawa kemudharatan jika tidak ada yang membentengi.
Salah satu contoh prilaku individualis adalah ketika ada tugas sekolah, karena merasa 'bisa' maka dikerjakan oleh sendiri dan tidak mengamalkan kemampuannya untuk orang lain.
Karena, tabiat orang individualis memang seperti itu. Tak peduli apakah orang lain bisa mengerjakan ataukah tidak, yang jelas ia bisa menyelesaikannya sendiri.
Merasa diri paling bisa, hingga abai terhadap orang yang tidak memiliki kemampuan. Ilmunya pun tidak berkah karena hanya dilahap sendiri.
Padahal segala sesuatu ada pertanggung jawabannya kelak di akhirat. Apakah ilmu itu hanya difahami oleh diri sendiri ataukah di amalkan?
Allah-pun tidak ridha terhadap ilmu yang tidak berkah. Sejatinya ada hal yang amalannya tidak akan terputus, yakni ilmu yang bermanfaat.
Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara, yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim)
Setiap manusia terpatri didalamnya kelebihan dan kekurangan. Ada yang mampu hanya dalam pelajaran fisika, namun tidak dalam pelajaran kimia.
Ada juga yang mampu dalam bidang seni namun tidak dalam mata pelajaran. Di dunia ini tidak ada orang yang bodoh, yang ada hanya orang malas.
Selayaknya kita sebagai pelajar muslim membantu orang-orang yang tidak paham akan mata pelajaran, tidak memakan kemampuan sendiri.
Karena sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Hidup bukan hanya di dunia, namun kelak akan ada kehidupan kedua, yakni akhirat.
Bila pemikiran masih terfokuskan kepada diri sendiri dan tak peduli kepada sesama maka itu semua akan dihisab di akhirat.
Tujuan hidup setiap muslim hanyalah menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangannya. Untuk menjadi baik di mata Allah, ialah menjadi orang yang bermanfaat.
"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ no:3289).
Jadikan ilmu yang kita miliki bermanfaat agar memiliki pahala yang tak terputus. Jauhi prilaku individualis agar sesuatu yang kita miliki berkah.
Kehidupan individualis tak akan terjadi bila Islam selalu menjadi poros kehidupan.
Wallahu'alam