Oleh.Tety Kurniawati
( Anggota Akademi Menulis Kreatif )
Dengan semangat juang yang menyala 12.000 pasukan muslim pimpinan Thoriq bin ziyad bertempur melawan 100.000 pasukan Visighot di kawasan sungai Barbate, Spanyol. Kawasan yang kemudian disebut kaum muslimin sebagai Andalusia ini akhirnya berhasil ditaklukkan pada tahun 92 H. Penaklukan inilah yang kemudian membawa Andalusia sebagai kota modern. Kiblat pengetahuan dunia selama 8 abad
Sejarah penaklukkan bumi Andalusia diawali dengan keberadaan seorang raja yang dikenal dholim bernama Rodrick. Ia raja yang tdk adil kepada rakyatnya bahkan kepada bawahannya sendiri. Sikap dhzolim Rodrick ini mengundang amarah Julian, penguasa Ceuta ( Sabatah) diperbatasan spanyol. Apalagi saat ia mengetahui putrinya yang cantik jelita diperkosa oleh Rodrick saat menuntut ilmu di Toledo, ibukota Spanyol. Berangkat dari kebencian tersebut, Julian akhirnya mendekati pemimpin kaum muslimin di Afrika untuk membalaskan dendamnya kepada sang raja. .
Gubernur Afrika Utara Musa bin Nusair, merasa perlu menguji Count Julian. Maka pada tahun 91 H, Ia mengirim 500 tentara di bawah komando Tharif ke wilayah yang hingga kini disebut Tarifa, kawasan di ujung selatan Spanyol. Tharif membawa misi utama pengintaian kekuatan Kerajaan bangsa Visigoth, serta penjajakan bagi sebuah operasi militer besar.
Gubernur Musa semakin yakin akan kejujuran Count Julian, setelah mendapatkan dukungan kapal-kapal yang akan digunakan untuk menyerang Spanyol. Maka setelah mendapat ijin dari Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik di Damaskus, Musa pun bersiap menyerang Spanyol. Untuk melaksanakan misi besarnya, Musa memilih seorang Barber, Thariq bin Ziyad sebagai komandan.
Thariq bin Ziyad bersama pasukannya menyeberang ke Spanyol. Setelah sampai ke daratan Spanyol. Thariq bin Ziyad mengambil langkah yang hingga kini membuat tercengang para ahli sejarah. Kapal-kapal yang telah ia gunakan bersama pasukan untuk menyeberang dibakar. Dengan tujuan membakar semangat jihad para pasukan. Agar tidak pernah berpikir kembali pulang sebelum meraih kemenangan. Lalu sambil berdiri di puncak Jabal Thariq, Ia berpidato dengan lantang, tegas dan berwibawa, "Di belakang kita lautan, di depan kita musuh. Kita tidak dapat melarikan diri. Demi Allah Subhanahu Wata’ala , kita datang ke bumi Andalusia untuk menjemput syahid atau meraih kemenangan. Demi Allah Subhanahu Wata’ala jika kita mundur, lautan akan menenggelamkan kita. Jika kita maju, musuh telah menanti kita. Kita hanya memiliki senjata, jika kita tenggelam di laut, nama kita tercemar dan Allah Subhanahu Wata’ala akan mencabut rasa gentar di hati musuh. Jika kita maju, Allah Subhanahu Wata’ala akan membuat musuh takut. Syahid dan syurga menunggu kita. Allahu Akbar,”
Pertempuran besar tersebut terjadi di bulan Ramadhan. Meski jumlah pasukan tidak berimbang, namun pasukan muslim terus maju menyerang dengan gigih, mencurahkan seluruh tenaga dan kemampuannya. Bahkan Count Julian pun ikut membantu pasukan Islam. Hingga akhirnya pasukan Islam berhasil memperoleh kemenangan gemilang.
Kemenangan ini membuka kesempatan Thariq bin Ziyad beserta pasukannya untuk memasuki kota-kota dan daerah-daerah kecil hingga akhirnya tiba di jantung kerajaan Visigoth, Toledo. Disinilah pergerakan Thariq bin Ziyad dihentikan oleh gubernur Musa bin Nusair. Sementara itu, gubernur Musa bin Nusair menyusul Thariq bin Ziyad ke Toledo dengan memasuki kota-kota di bagian barat Spanyol. Sampai akhirnya bertemu dengan Thoriq bin Ziyad di Toledo.
Dari Toledo mereka meneruskan pergerakan ke utara, hingga berhasil menaklukkan Castilla, Aragon dan Catalonia ( Barcelona). Keduanya bahkan sampai di pegunungan Pyrennes yang menjadi batas antara Spanyol dan Perancis. Sekiranya tidak ada perintah dari Damaskus untuk menghentikan penaklukan, niscaya gerakan mereka berdua tak terbendung untuk menguasai seluruh benua Eropa.
Sungguh ketundukan kepada Allah sematalah yang mengantarkan Thoriq bin Ziyad menjadi sosok pemimpin ideal di zamannya. Sejarah mencatat bahwa Thoriq bin Ziyad merekrut pasukannya berdasarkan kualitas spiritual yang dimiliki. Beliau sadar betul bahwa kemenangan Islam hanya bisa diraih dengan ketaatan dan ketundukan penuh kepada aturan-aturan Allah. Ditanamkan dalam benak pasukannya untuk tidak gentar menjemput kematian. Karena sejatinya hanya ada dua pilihan bagi seorang muslim, hidup demi kemuliaan Islam ataukah mati syahid. Alhasil kemenangan demi kemenangan Allah berikan. Bukti bahwa Allah seadil-adilnya pemberi balasan. Kemuliaan dunia dicurahkan sebagai ganjaran atas tiap upaya menjaga ketaatan. Menghambanya manusia secara total atas seluruh aturan Robb-Nya. Hingga ia layak dikenal sebagai pemimpin yang merdeka.
Hal yang sulit kita temui saat ini. Kapitalisme liberalisme telah mencetak pemimpin-pemimpin yang senantiasa haus akan materi. Kemampuan, rekam jejak, keahlian, integritas dan terutama kualitas spiritualitas tak lagi menjadi acuan dalam memilih pemimpin negeri. Biaya tinggi dalam prosesi pemilihan pemimpin telah mengebiri hak para politikus sejati. Tergantikan para politikus karbitan, hasil rekayasa pencitraan. Wajar jika kemudian mereka hanya pandai menebar pesona di depan kamera, namun gagap di medan kerja. Berhitung untung rugi ekonomi pun jadi solusi rasional atasi bencana.
Negeri ini telah 73 tahun mengenyam kemerdekaan. Namun nyatanya keterpurukan disegala bidang justru kita rasakan. Koordinator Indonesian for Transparency and Akuntability (Infra) Agus Chaerudin, mengungkapkan, hampir semua sektor migas dan minerba di Bumi Nusantara baik di wilayah barat hingga kawasan timur, di pulau-pulau besar, kepulauan-kepulauan kecil hingga di laut lepas sudah dikuasai oleh perusahaan asing ( m.harianterbit.com 07 /08 /2018). Indonesia yang berpenduduk 250 juta itu, mayoritas penduduknya miskin, dan bahkan 40 juta penduduk Indonesia berada di bawah garis kemiskinan absolut. Sementara itu, kelompok Cina yang note bene, pendatang, menguasai 80 persen asset ekonomi Indonesia. ( law-justice.co 12/02/2018)
Tingginya biaya pendidikan di Indonesia menyebabkan anak-anak putus sekolah, bahkan sebagian dari mereka yang tidak beruntung tersebut harus ikut bekerja untuk mencari nafkah. Setidaknya ada 1,6 juta pekerja anak di Tanah Air. Hal ini berbanding lurus dengan tingkat putus sekolah yang juga cukup besar di berbagai daerah di Indonesia. Di level SD pada tahun ajaran 2017/2018 tercatat 32 ribu anak yang putus sekolah. Di level SMP, jumlah siswa yang tidak bisa melanjutkan pendidikannya mencapai 51 ribu anak. Sedangkan untuk SMA dan SMK tercatat masing-masing 31 ribu dan 73 ribu anak. ( katadata.co.id 23/07/2018) dan masih banyak lagi temuan dilapangan yang menunjukkan masih jauhnya kita dari esensi kemerdekaan.
Tidakkah kita mendamba pemimpin merdeka seperti Thoriq bin Ziyad hadir diantara kita? Pemimpin yang menghamba pada Allah semata. Halal haram jadi pedoman segala prilakunya. Mengatur negeri dengan kebijakan politik, pengelolaan sumber daya alam, serta seluruh aset ekonomi negeri sesuai syariah Illahi. Hingga kemerdekaan hakiki sebagai bangsa akan bisa kita nikmati. Wa Allahu a'lam bish showab.