Budaya Barat Perusak Generasi Muslim

Oleh: Maslakhah, S.Pd.I

Beberapa waktu terakhir media sosial diramaikan dengan tren In My Feelings Challenge atau lebih dikenal dengan Keke Challenge . Tantangan itu berupa aksi gerakan yang menari keluar mobil. Aksi ini terus berkembang di Indonesia dengan berbagai versi. Sebelumnya, tantangan ini mulai dikenalkan pertama kali oleh creator asal Amerika Serikat (AS) yaitu Shiggy. Dalam video yang diunggah lewat akun Instagram miliknya, Shiggy menari dengan diiringi lagu oleh Drake In My Feelings yang baru dirilis pada 29 Juni 2018 di album Scorpion. Karena aksi tersebut pula, kini banyak orang yang berlomba-lomba untuk membuat video serupa. Namun, karena ingin lebih menantang mulailah dikembangkan dengan cara yang lebih unik yaitu menari mengikuti mobil yang tengah berjalan. Tidak sedikit yang menilai bahwa tantangan Keke Challenge ini membahayakan. Apalagi, jika melakukannya di jalan umum, tak hanya dapat membahayakan pelaku aksi yang sedang menari, tetapi juga berdampak bagi pengguna jalan lainnya.

Ternyata, challenge atau tantangan yang berbahaya bukan hanya Keke Challenge. Ada banyak tantangan atau challenge yang sempat hadir dan meramaikan media. Apa saja challenge tersebut?

1. Skip Challenge. 

Challlenge satu ini memang cukup populer, namun sempat menuai kontra karena resikonya yang tinggi. Dalam permainannya, salah seorang akan menjadi target yang akan ditekan dadanya dengan menahan nafas. Sedangkan pemain lainnya akan bertugas sebagai pemeran pembantu untuk menahan dada pemain target hingga kejang-kejang, atau bahkan pingsan.

2. Eraser Challenge

Eraser challenge merupakan sebuah tantangan yang menggunakan penghapus karet di bagian tangan. Tantangan ini dikenal juga sebagai ABC game, yang identik dilakukan pada anak-anak. Dalam permainannya, seseorang akan menulis sesuatu di kulitnya kemudian menghapus dengan cara menggosok menggunakan karet penghapus. Begitu seterusnya sambil bergantian pada pemain lain. Dalam tantangan ini pemain akan menahan sakit yang timbul dari gosokan penghapus, hingga mengakibatkan kulit akan terkelupas dan menjadi luka. Sementara itu diakhir permainan, pemain yang memiliki luka besar merupakan pemenangnya.

3. Cinnamon Challenge 

Cinnamon challenge merupakan tantangan yang mencoba memakan satu sendok kayu manis bubuk dengan hanya sekali telan. Dalam tantangan ini tak sedikit orang yang gagal untuk mencobanya, hal ini disebabkan karena sulitnya menelan bubuk kayu manis yang diketahui memiliki aroma yang tajam. Selain itu, kayu manis berasal dari kulit pohon atau selulosa, jika dihirup akan memicu seseorang untuk muntah. Oleh karena itu, sifatnya yang membahayakan bagi kesehatan menjadikan challenge satu ini telah banyak dilarang dari berbagai pihak.

4. Blue Whale Challenge

Berbeda dengan challenge berbahaya lainnya, tantangan satu ini dilakukan secara bertahap. Jika dilihat dari namanya, banyak yang beranggapan bahwa nama blue whale challenge diambil dari perilaku sejumlah paus biru yang sengaja terdampar di pinggir pantai. Sehingga akhirnya mereka mati. Sedangkan, dalam permainannya salah seorang akan menjadi pengawas yang akan menugaskan 50 peserta selama 50 hari. Tugasnya bermacam-macam dan terus meningkat ke yang lebih menantang. Seperti diantaranya dari menonton video kekerasan, ke film horor, bahkan seruan untuk bunuh diri. Begitu seterusnya, tahap demi tahap akan ditugaskan. (pikiran-rakyat. com, 26/07/2018).

Dilihat dari sudut pandang manapun, tantangan-tantangan tersebut sama sekali tidak memiliki manfaat, malah justru menimbulkan bahaya. Tidak mendidik, justru menghancurkan para remaja. Namun sayangnya, tantangan ini masih menghiasi masyarakat, khususnya para remaja. Inilah buah dari peradaban kapitalisme, melahirkan para remaja yang memiliki gaya hidup hedonis dan pragmatis. Tantangan permainan tersebut merupakan produk dalam sistem liberalis kapitalis yang sengaja dikemas semenarik mungkin dan dijajakan kepada generasi muslim. Berbagai challenge tersebut terselip bahaya  yang mengancam disertai pemahaman yang rusak dan merusak. Generasi Muslim seharusnya berfikir dan berbuat berdasarkan landasan hidupnya. Namun, malah mengikuti trend dan terbawa arus zaman.

Benar yang disampaikan Rasulullah saw.

"Sampai ke lubang biawak kamu akan ikut, walaupun jelas nampak" bodoh" tapi kamu rasa berbangga dan ingin berlomba- lomba melakukanya, sungguh kita terlalu dekat dengan kiamat"

Mereka mengikuti apa saja yang sedang populer dan viral tanpa mengetahui bagaimana seharusnya bersikap sesuai agama. Padahal seorang muslim tidak layak mengikuti trend apalagi yang bersumber dari peradaban barat liberal kapitalis. Tentu bertentangan dengan Islam. Sehingga menjauhkan para remaja dari cara berpikir yang produktif, visioner, kreatif dan inovatif dalam hal kebaikan.

Remaja atau pemuda adalah generasi penerus yang akan membangun peradaban di masa depan. Mereka memiliki potensi yang bisa diharapkan. Pikirannya masih jernih dan tajam. Tenaganya masih kuat dan sehat. Semangat mereka pun sulit dipadamkan. Apalagi jika semangat itu didorong oleh keimanan dan pengetahuan tentang agama Islam, maka mereka akan mampu membuat sebuah perubahan besar. Namun, jika para remaja disibukkan dengan aktivitas challenge seperti itu, bagaimana masa depan sebuah negara ke depannya? 

Mewujudkan Pemuda Yang Visioner, Produktif, Kreatif dan Inovatif dalam Islam

Pemuda visioner adalah pemuda yang memiliki cita-cita untuk masa depan. Pemikiran visioner ini akan membentuk pemuda yang memiliki produktifitas tinggi. Produktifitas ini akan merangsang kreatifitas dan inovasi di kalangan pemuda. Pemuda visioner tidak akan terwujud kecuali ada kerja sama antara orang tua, masyarakat dan juga negara. Dalam keluarga, orang tua berkewajiban mendidik anak-anak. Menanamkan akidah yang kokoh, menguatkan pemahaman Islam, dan membentuk kepribadian Islam. Masyarakat memiliki peran untuk melakukan amar ma'ruf nahi munkar. Mereka akan peka terhadap berbagai kesalahan yang dilakukan para pemuda dan akan meluruskannya. 

Dengan sistem pendidikan Islam, negara menerapkan kurikulum berbasis akidah yang akan melahirkan pemuda berkepribadian Islam. Dengan kata lain, ketiga pilar yakni keluarga, masyarakat, dan negara memiliki satu visi dan misi, mewujudkan khairu ummah. Pemuda yang lahir dari peradaban Islam tidak akan terpikir untuk membuat atau mengikuti tantangan-tantangan seperti Keke Challenge dan yang semisalnya. Saatnya generasi islam lebih sibuk membenahi diri ikut dalam memperbaiki umat dan berada di garda terdepan memperjuangkan seluruh syariat Islam dalam kehidupan.

Wallahu a’lam bishshowab.


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak