Kemerdekaan Semu Dibalik Rekayasa

Oleh: Fajrina Laeli (Mahasiswi STIE Insan Pembangunan)


Masih segar di ingatan. Bagaimana riuh sorak gembira dalam rangka memperingati hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia. Ditambah lagi sekarang sedang berlangsung Asian Games yang membuat jiwa nasionalisme kita semakin membumbung tinggi. 


Merasa bangga akan Indonesia dan merasa bangga terhadap keaneka ragaman suku dan budaya yang ada. Merdeka, sebuah kata yang membuat haru, sebuah kata yang didapatkan melalui proses panjang yang diperjuangkan para pahlawan.


Semua orang tenggelam dalam euforia nasionalisme. Seolah lupa, apakah semua orang merasakan euforia yang sama? Seakan lupa kalau ternyata banyak sekali warga yang tidak sempat memikirkan riuhnya hari merdeka. Karena mereka sibuk mengisi perut lapar mereka. 


Seluruh masyarakat sibuk dengan jiwa nasionalisme dan membanggakan diri sebagai rakyat Indonesia. Namun melupakan fakta bahwa di sisi kanan dan kiri masih banyak saudara kita yang terinjak oleh sistem yang bercokol di Indonesia. Ya, sistem nasionalisme yang selama ini dielu-elukan.


Kami ingin merdeka yang nyata, merdeka dengan realita. Merdeka dengan arti kami tidak harus berpusing ria dengan kebutuhan hidup yang semakin mencekik. Merdeka tanpa memikirkan mahalnya biaya dalam menuntut ilmu dan aspek kesehatan. Bahkan untuk keluar dari belenggu kemiskinan pun sepertinya kami belum sanggup.


Ingin rasanya kembali ke jaman kemerdekaan Islam di masa kepimpinan Khilafah. Agar kami juga bisa merasakan bagaimana merdeka dalam naungan islam. Merdeka dari jajahan asing dan jauh dari peranan asing yang terlalu turut campur kedalam kedaulatan negara.


Faktanya, kemerdekaan ini adalah momen yang  fana dan tampak rekayasa. Buktinya kami hanya merasa merdeka saat datangnya tanggal 17 Agustus. Itupun hanya merasakan riuhnya bukan benar-benar mengalami kemerdekaan. Setelah hari itu, masyarakat tetap mengeluh dengan kebutuhan hidup yang tinggi. Angka putus seolah tetap meningkat. 


Datangnya 17 agustus sebagai hari kemerdekaan tidak membuat anak yang putus sekolah serta merta dapat langsung bersekolah dengan layak. Masyarakat  kurang mampu yang sakit tidak secara tiba-tiba mendapat pengobatan gratis dengan mudahnya. Semua masih tetap sama seperti sebelumnya. Tidak ada yang berubah kecuali umur Indonesiaku yang semakin menua.


Seharusnya bukan hanya sekedar memperingati hari kemerdekaan dengan cara bersenang-senang. Kami juga perlu kerja nyata dalam pemberantasan kemiskinan dan kelaparan. Kami butuh merdeka dan terlepas dari beban hutang dan tipu daya asing. 


Bukan hanya mememikirkan bagaimana Indonesia semakin dikenal publik dan gencar untuk mendapat pengakuan di mata dunia. Ada hal yang lebih penting dalam menangani masyarakat luas. Jika rakyat ini makmur dan sejahtera maka dengan sendirinya dunia akan mengenal Indonesia. Bahkan cenderung mempelajari bagaimana hebatnya negeri ini.


Sama halnya saat dahulu dunia jatuh cinta terhadap daulah Islam. Menjadikan daulah Islam sebagai kiblat peradaban. Seluruh negeri mencontoh daulah Islam dalam berbagai hal sebab kemajuan di segala. Tanpa harus bersusah payah mencari pengakuan di mata dunia.


Maka adalah sebuah keniscayaan. Jika cahaya Islam kembali memebebaskan negeri ini dari segala penjajahan. Serta membawa negeri menyongsong kegemilangan nan merdeka. Merdeka dengan Islam saja.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak