Jalan Tengah Kunci Perdamaian Dunia, Benarkah?

Oleh : Rosmita 

(Muslimah Peduli Umat) 


Ide "jalan tengah" sebagai kunci perdamaian dalam peradaban manusia menjadi perbincangan dalam acara Forum Perdamaian Dunia (World Peace Forum) ketujuh yang diselenggarakan pada tanggal 14-16 Agustus 2018 di Hotel Sultan, Jakarta. 

Seperti dilansir dari kompas.com - Para peserta yang diwakilkan oleh Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerja Sama Antar Agama dan Peradaban Din Syamsuddin, menyimpulkan jalan tengah sebagai orientasi terhadap nilai positif dalam kehidupan. "Jalan tengah sebagai jalan atau pendekatan dalam membangun kehidupan, menyelesaikan masalah yang ada, sangat berorientasi kepada nilai-nilai yang positif." kata Din, saat konferensi pers untuk menutup acara WPF di Hotel Sultan. 

Nilai-nilai positif tersebut dapat berupa keadilan, toleransi, kerja sama, inklusi, dan kompromi. Sebanyak 250 tokoh dari 43 negara menyepakati komitmen untuk mendorong para pemuka agama untuk memberikan contoh, mempromosikan, dan memimpin pelaksanaan jalan tengah di komunitas masing-masing.

Namun benarkah jalan tengah dapat menjadi solusi untuk mengatasi seluruh problematika masalah yang dihadapi umat manusia diberbagai belahan dunia?  Saat ini peradaban dunia sedang menghadapi berbagai krisis, seperti krisis ekonomi, krisis politik, krisis moral, dan sebagainya yang menyebabkan tingginya angka kemiskinan, meningkatnya kriminalitas, ketidak adilan meluas, bencana lingkungan, dan hilangnya perdamaian. 

Ide jalan tengah lahir dari asas sekulerisme yang memisahkan agama dari kehidupan, maka sudah bisa dipastikan jalan tengah hanya akan menjauhkan umat Islam dari ajaran Islam tanpa ada sedikitpun maslahat untuk umat. 

Pengertian jalan tengah dan pelopornya

Jalan tengah menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah jalan yang ditempuh atau keputusan yang diambil oleh yang berselisih pendapat, jalan kompromi, dan jalan damai. 

Saat sidang PPKI yang merumuskan ideologi negara, ada dua kelompok yang berseteru. Untuk mendamaikan kedua kubu tersebut maka Bung Hatta sebagai salah satu tokoh negara mengambil jalan tengah dengan alasan untuk kepentingan bangsa. Dia menjadikan Pancasila sebagai ideologi negara guna menghindari perpecahan bangsa. Sampai disini jelas bahwa Bung Hatta adalah pelopor ide jalan tengah di Indonesia.

Dari sejarahnya kita ketahui bahwa jalan tengah telah menjauhkan umat dari syari'at Islam. Jadi bohong jika jalan tengah dijadikan solusi yang  adil karena dalam Islam, adil adalah sesuai dengan syari'at. Yang namanya syari'at sudah pasti membawa maslahat.

Jika agama dijadikan kambing hitam atas segala bentuk intoleransi, ekstremisme, dan terorisme adalah salah besar. Karena faktanya sistem sekuler kapitalisme yang menjadi biang keladi seluruh masalah dinegeri  ini dan seluruh dunia. Dengan alasan demokrasi mereka membuat aturan untuk menggantikan aturan Allah. Padahal Allah sebagai pencipta langit dan bumi berserta isinya termasuk manusia didalamnya, maka hanya Allah yang tahu aturan yang terbaik untuk manusia.

Didalam Islam tidak ada kompromi terhadap hal yang berkaitan dengan aqidah dan syari'at. Harus jelas antara yang hak dan yang batil, antara halal dan haram. Maka tidak ada yang namanya jalan tengah karena yang hak tidak bisa bercampur  dengan yang batil, begitu juga yang halal tidak bisa bercampur dengan yang haram. Jika suatu perkara ada ditengah-tengah atau ada keragu-raguan (syubhat) maka harus ditinggalkan. 

Berkaca pada perjuangan dakwah Rasulullah saw Saat kafir quraisy dahulu memberi tawaran kepada Nabi saw untuk berkompromi, mereka berkata : "Wahai Muhammad, bagaimana kalau kami beribadah kepada Tuhanmu dan kalian (muslim) juga beribadah kepada Tuhan kami. Kita bertoleransi dalam segala permasalahan agama kita. Apabila ada sebagian dari ajaran agamamu yang lebih baik (menurut kami) dari tuntunan agama kami, kami akan amalkan hal itu. Sebaliknya, apabila ada dari ajaran kami yang lebih baik dari tuntunan agamamu, engkau juga harus mengamalkannya." Maka dengan tegas Nabi saw menolak tawaran tersebut dengan mengatakan : "Demi Allah, andaikan mereka menaruh matahari di tangan kananku dan bulan  di tangan kiriku supaya aku meninggalakan urusan (agama) ini, niscaya aku tidak akan meninggalkannya sampai Allah memenangkan agama-Nya atau aku binasa karenanya."

Maka sebagai umat Nabi Muhammad saw kita  harus menolak ide jalan tengah yang jelas-jelas bukan ajaran Islam. Apalagi jalan tengah merupakan upaya untuk membungkam ajaran Islam dan mengokohkan ideologi kapitalisme sekuler.

Kembali pada Islam

Untuk mengatasi krisis yang terjadi diseluruh dunia adalah dengan menjadikan syari'at Islam sebagai aturan yang mengatur seluruh aspek kehidupan. Dan apabila kamu berselisih pendapat maka kembalilah kepada Al-Qur'an dan sunnah, sebagaimana firman Allah swt : "Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya." (Qs. An-Nisa : 59). Dengan menjalankan ajaran Islam secara kaffah, seluruh masalah dapat teratasi.Terbukti selama lebih dari 1300 tahun Islam berjaya memimpin dunia dan rakyatnya hidup sejahtera dibawah naungan khilafah. Negerinya menjadi negeri yang barokah , baldatun thoyibatun wa robbun Ghofur. 


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak