Oleh : Sarlina
Keke dan momo bukan bahasa anak balita yang baru belajar bicara, tetapi nama yang di sematkan untuk ajang untuk memenuhi tantangan yang membooming akhir-akhir ini. Keke Challange menuntut para pemainnya untuk bergoyang dengan iringan lagu "In My Feelings" milik Drake. Ada yang bergoyang mengikuti mobil yang sedang berjalan dengan pintu tetap terbuka, ada yang dijalan dan ragam versi. (idntimes.com 03/08/2018). Mulai dari remaja, kawula muda hingga orang dewasa, bahkan yang memakai kerudungpun beramai-ramai mengikuti tantangan ini.
Sama halnya dengan Momo. Ialah nama akun media sosial yang hadir di sosmed, seperti WhatsApp, Facebook dan YouTube. Menurut unit Investigasi kejahatan komputer di negara bagian Meksiko, Tabasco, permainan ini di mulai di Facebook. Para pengguna ditantang untuk berkomunikasi dengan nomor yang tidak diketahui, kemudian Momo akan menanggapi panggilan dengan gambar kekerasan sambil memberikan perintah. Bila pemain menolak untuk mengikuti perintah permainan, maka dirinya bisa merasa terancam bahkan mengajak seseorang untuk bunuh diri. (Okezone.com 14/08/2018).
Potensi bahaya dari challange pun sangat beresiko. Misalnya Will Smith. Dia melakukan tantangan keke challange diatas jembatan tinggi dan tanpa pengaman. Juga melakukan tantangan dijalan raya yang bisa perpotensi kecelakaan. (Cnn.indonesia 24/07/2018). Ya, sekilas mungkin terlihat lucu dan menarik. Hanya saja bahaya dari permainan ini tidak lantas membuat para pelakunya berfikir dua kali. Mereka bahkan berlomba melakukannya, agar terlihat trendi dan kekinian.
Munculnya beragam tingkah laku remaja yang nyeleneh ini merupakan hasil dari kebebasan berekspresi yang selama ini telah mewabah di tengah-tengah masyarakat. Ialah paham dimana foya-foya dan kesenangan menjadi tujuan utama. Tak ada tolak ukur Islam yang dilibatkan. Semua bebas semaunya. Inilah dampak dari penerapan sekularisme dan kapitalisme yang diemban oleh negara. Aturan Islam tidak di bawa dalam mengatur urusan umat. Hingga lahirlah gaya hidup liberal (bebas). Karena liberalisme prioritasnya bukan halal haram, tetapi kesenangan semata.
Padahal, seharusnya negara adalah pihak sentral yang paling bertanggung jawab untuk mengontrol masyarakat (social control). Negara harusnya menerapkan seluruh aturan Allah, yang salah satunya tentang aturan berekspresi. Sayangnya, negara seolah abai bahkan terkesan melindungi dan memfasilitasi kerusakan generasi muda tersebut.
Islam Melahirkan Generasi Cemerlang
Remaja merupakan tonggak perubahan dan ditangan merekalah terukir peradaban. Karena itu, Islam memberikan perhatian besar kepada mereka, bahkan sejak dini. Tidak akan lahir generasi penggiat berbagai challange yang tidak memberikan dampak posotif ketika Islam diterapkan. Karena kepribadian yang diusung oleh negara adalah masyarakakat, termaksud remaja yang memiliki kepribadian Islam. Remaja yang menjadikan halal haram sebagai tolak ukurnya, bukan kebahagiaan semu yang melenakkan.
Jika kita tengok gambaran masyarakat Islam, kita akan melihat sosok generasi berkepribadian islam yang mumpuni. Ialah Imam syafii. Siapa yang tak kenal dengan beliau. Beliau berumur 7 tahun sudah menghafal quran. Dan umur 13 tahun menghafal kitab Al-muwatho dan menjadi Imam Masjidil haram.
Kita juga pasti mengenal Ibnu sina , Al-khawarismi, Ibnu Firnas dan masih banyak lagi. Mereka adalah sosok generasi emas yang lahir pada masa ke khilafahan, yang tidak hanya sebagai ilmuwan dan ahli dalam agama, tetapi juga memilimi ketakwaan dan kedekatan kepada Allah, serta tunduk terhadap hukum-hukum Allah.
Sehingga, virus-virus aplikasi atau permainan seperti momo dan keke akan terus ada ketika negara tidak mengambil Islam sebagai solusinya. Aplikasi sejenis ini akan senantiasa ada, mewarnai para generasi ketika sistem yang diterapkan masihlah sekularisme kapitalisme.
Olehnya itu, sudah saatnya beralih kepada sistem Islam yang akan mewujudkan terciptanya generasi unggul berjiwa pemimpin. Sistem Islam yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah, Sahabat-sahabatnya.Wallahu'alam bishawab.