Oleh Susi Sukaeni
(Anggota Komunitas Revowriter)
Guys, kita saksikan saat ini, Islam bukanlah satu-satunya jalan hidup. Bilapun banyak yang mengaku Islam, sebatas identitas dalam KTP. Tidak tampak warna Islam dalam pola pikir maupun pola sikapnya. Justru yang kental adalah warna lain yaitu sekularisme dengan keturunannya seperti kapitalisme, liberalisme, pluralisme, individualisme dan lain-lain.
Sekulerisme adalah faham yang memisahkan agama dari pengaturan kehidupan. Agama hanya berlaku dalam masalah ibadah. Awal sekularisme muncul di Barat sebagai hasil kompromi antara pihak gerejawan dan para cendekiawan. Jalan ini hasil kompromi agar keduanya dapat berkuasa. Para gerejawan diberikan kekuasaan dalam mengatur masalah ibadah di gereja. Sementara para cendekiawan leluasa mengatur kehidupan bermasyarakat dan bernegara yang memang tidak diatur dalam kitab suci mereka.
Tentu hal ini berbeda dengan Islam. AlQuran dan As Shunnah telah mengatur segala aspek kehidupan. Namun anehnya mereka memaksa ummat Islam melakukan hal yang sama, menerapkan sekulerisme. Disisi lain ummat Islam telah mengalami kemunduran berpikir dan menjauh dari Islam. Akibatnya mudah dicekoki pemikiran-pemikiran barat walaupun bertentangan jauh dengan Islam.
Maka jangan heran ketika ada seorang ustadz masih menggunakan cara-cara kapitalis dalam berbisnis. Seorang remaja rajin sholat tapi masih doyan pacaran dan mabuk-mabukan. Seorang ibu aktifis majlis taklim tapi mendidik anaknya dengan cara-cara materialis.
Begitupun seorang kyai begitu fanatik dan anti politik. Katanya islam itu suci harus dijauhkan dari politik yang kotor.
Bahkan seorang presiden mengatakan jangan bawa-bawa Islam dalam politik. Jangan bawa -bawa Islam dalam negara (ini ciri sekuler). Ini bukan negara agama (tapi malu juga ngaku negara sekuler). Tapi giliran lihat duit...dana haji dipake infrastruktur. Gaji PNS mau dipotong 2,5 persen buat zakat. Sekarang menggandeng ulama sebagai cawapres. Alasannya untuk menghormati ulama. Bukan untuk menjadi rujukan? Atau untuk mendulang suara?. Ala maak!
Akibat penerapan sekulerisme oleh negara, remaja pun terkena dampaknya. Banyak kasus menimpa remaja yang membuat miris. Pergaulan bebas, kehamilan diluar nikah, aborsi, tawuran, pesta miras dan narkoba,
Sebagai gambaran nyata, pada tahun 2008, hasil survei oleh salah satu lembaga, 63 persen remaja di Indonesia usia sekolah SMP dan SMA sudah melakukan hubungan seksual di luar nikah dan 21 persen di antaranya melakukan aborsi (Republika.co.id, 20/12/2008).
Pada tahun 2012, sebanyak 21,5 persen remaja adalah pengguna narkoba 20,9 (Riaupos.com, 5/11/2012). Pada tahun 2017 pengguna narkoba di kalangan remaja/pelajar dan mahasiswa menjadi sekitar 27,32 persen. Angka tersebut kemungkinan meningkat kembali karena beredarnya sejumlah narkotika jenis baru (Republika.co.id, 30/10/2017).
Bayangkan, apa jadinya remaja dalam 10-20 tahun ke depan. Kehidupan remaja semakin rusak jika sistem sekular ini terus dipertahankan dan syariah Islam tidak diterapkan.
Tidak dipungkiri pergaulan remaja saat ini diwarnai dengan hedonisme (serba bebas). Hal ini menyeret remaja pada pergaulan bebas tanpa batas.
Remaja smart tentu harus membentengi diri dan menjauh dari situsi yang demikian. Remaja Islam smart harus tampil dengan jati dirinya sebagai muslim religius dan muslim sejati.
Memang tidak mudah memilih istiqomah di jalan Islam. Ibarat menyeberangi sungai harus melawan arus yang sangat deras. Tentu berat dan melelahkan. Bila tidak sabar, waspada dan berhati-hati akan terikut arus membahayakan. Karenanya butuh tekad baja, keyakinan yang kokoh serta kesabaran tanpa batas. Insya Allah perjuangan kalian akan berbuah kebahagiaan di dumia sampai akhirat.
Terkadang muncul perasaan terasing dan terkucilkan. Mungkin karena selalu menolak diajak mejeng di mall, nonton film teranyar, hura-hura berpesta pora dan lain sebagainya.
Sementara remaja muslim smart lebih memilih kajian Islam, dakwah berjamaah, belajar kelompok, berolahraga, menyalurkan hobi yang bermanfaat.
Tidak mengapa hal itu dirasakan sebagai konsekuensi dari berpegang teguh kepada jalan Islam. Sebagaimana hadist yang dirimayatkan oleh Umar bin Auf bin Zaid bin Milhah al Mazani bahwa Rasulullah Saw bersabda;
"Islam pada awalnya terasing dan akan kembali terasing sebagai mana awalnya. Maka berbahagialah orang-orang yang terasing. Yaitu orang-orang yang memperbaiki Sunnahku yang telah dirusak.