Hidup Galau? Cek Imanmu!

Oleh: Hamsina Halik

Galau. Sebuah kata yang menggambarkan sebuah perasaan yang dipenuhi ketidaktenangan disertai dengan pikiran yang tak karuan. Masalah yang tak kunjung selesai semakin membuat runyam keadaan. Galau ini identik dengan remaja. Kata yang paling sering disebut oleh mereka. Coba lihat saja, media sosial yang pemiliknya adalah remaja, maka akan didapati postingan-postingan yang tak jauh dari kata galau. 

Ketika putus cinta, nilai ulangan yang tak memuaskan, cinta bertepuk sebelah tangan hingga rasa galau ini juga menghinggapi para jomblo, misalnya. Semua dimuntahkan di media sosial ini. Tak peduli, ini memalukan atau tidak. Mengapa? Karena, ada perasaan tenang ketika telah melampiaskan kegalauannya. Begitulah cara remaja meminta untuk diperhatikan. Berharap ada yang bisa menangkan. Memberi motivasi ataupun solusi. Tanpa sadar bahwa mengumbar kegalauan di media sosial tak akan mengubah hidupnya menjadi lebih baik. Meskipun ada rasa lega sedikit yang dirasakan. Tapi, sifatnya hanya sementara.


Sebuah Pilihan

Setiap manusia punya kadar masalah yang berbeda. Sesuai dengan tingkat keimanannya. Allah ingin menguji sejauh mana keimanan seseorang. Dalam kondisi seperti ini, tak jarang banyak remaja yang ketika dihinggapi masalah, mereka menyikapinya dengan kegalauan. Padahal, tak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan oleh hambaNya. Sebab, Allah tidak pernah membebankan sesuatu diluar kemampuan hambaNya.


Hidup adalah pilihan. Demikian pula dengan rasa galau ini merupakan sebuah pilihan. Antara galau atau sebaliknya, senang dan bahagia. Bagaimana sikap dalam menghadapi masalah, merasa galau atau mencari penyebabnya. Hati tenang atau tidak karuan, ada dalam kendali pilihan kita.


Pilihan inilah yang akan menentukan sejauh mana masalah  yang dihadapi mampu diselesaikan. Ketika tahu nilai anjlok, maka coba cari penyebabnya, mengapa sampai demikian. Galau karena putus cinta? Coba cari tahu, benarkah ini cara pelampiasan rasa suka kepada lawan jenis  sudah benar? Atau apakah dengan kembali, perasaan akan tenang kembali? 


Ubahlah pilihan kita, jangan jadikan galau dalam menyikapi masalah. Misalnya, ketika nilai menurun ubahlah pola belajar dan gunakan waktu untuk hal-hal yang bermanfaat. Kurangi melakukan hal-hal yang tak bermanfaat. Bersikap bijak dalam menyikapi masalah adalah yang terbaik, bukan justru melebih-lebihkan masalah tersebut. Sebab, jika demikian ini menunjukkan ketidaksanggupan menerima ujian yang sedang menimpa.


Obat Galau

Ibarat game, setiap level kesulitannya berbeda-beda. Demikian pula dengan iman seseorang, semakin tinggi imannya maka ujian yang menimpanya semakin berat pula.  Sebagai remaja muslim, bersikap bijak dan berbaik sangka harus senantiasa ada dalam diri. Tak ada keluhan secara berlebihan apalagi sekedar untuk eksis di media sosial demi kegalauannya agar mendapatkan perhatian. 


Paham bahwa ujian itu tak akan melebihi batas kemampuannya. Ujian itu datang dari Allah untuk menguji keimanannya. 


“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS Al-Baqarah: 155)


Ujian itu datangnya dari Allah. Maka jika ingin mengeluh, mengeluhlah kepada Allah. Mohonlah agar diberikan jalan keluar. Kemudian sabarlah dalam menghadapi ujian ini, seraya tetap mencari jalan keluar. 


“Dan mintalah pertolongan kepada Allah dengan Sabar dan Sholat dan sesungguhnya Sholat itu amatlah berat kecuali kepada orang-orang yang khusyuk” (QS Al Baqarah: 45)


Maka, jika hidup terus-terusan galau, kudu cek keimanan sudah sejauh mana. Iman yang lemah tentu akan merasa ujian ini tidak adil buatnya. Beda lagi jika iman sekokoh karang, ujian apapun yang menghampirinya akan dihadapi dengan sabar. Senantiasa bermunajat kepada Allah agar dimudahkan dalam menghadapai. 


Carilah teman yang bisa jadi pendengar sekaligus menenangkan hati. Tempat curhat yang akan senantiasa mengingatkan kepada kebenaran. Menjadi pereda dan pendingin suasana  manakala galau menyerang. Teman seperti ini adalah sebuah berkah dari Allah, sebab selalu mengingatkan kepada kebaikan. 


Kemudian, menjadikan Islam sebagai Way of Life. Sebab, Islam itu memiliki aturan yang komplit. Apapun masalah yang dihadapi Islam punya solusinya. Sehingga mengkaji Islam, akan mampu menghilangkan kegalauan. Tujuan hidup akan menjadi terarah, punya target yang hendak dicapai, ada dorongan yang kuat untuk mewujudkan impian yang menjadi tujuan hidup. Apapun tantangan yang dihadapi, akan berusaha untuk dihadapi. 


Dengan demikian, mengkaji Islam dengan mendalam  dan mencari teman yang senantiasa mengingatkan dalam kebenaran bisa dijadikan sebagai obat galau. Agar diri tak terus dirundung masalah yang tak kunjung selesai. 


Wallahu a'lam.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak