Oleh : Indri N. R
Nusa Tenggara Barat dan Bali kembali diguncang gempa. Hingga Jum’at (10/08/2018), jumlah korban tewas mencapai 321 orang. Gempa bermagnitudo 7 itu juga menyebabkan 270.168 orang mengungsi. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa ada 447 gempa susulan yang terjadi hingga berita ini diterbitkan (Kompas.com.10/08/2018). Ribuan rumah serta bangunan lainnya hancur luluh lantah. Korban selamat sekarang berada di lokasi pengungsian yang serba terbatas, mereka menggantungkan hidupnya dengan bantuan kemanusiaan. Sembari menunggu langkah konkrit pemerintah untuk pemulihan kondisi pasca gempa.
Gempa yang terjadi berulang merupakan fenomena alam yang menjadi teguran bagi manusia. Pada masa Rasulullah SAW pernah terjadi gempa, maka baginda Nabi meletakkan tangannya diatas bumi dan mengatakan “Tenanglah, kamu tidak boleh berguncang lagi setelah ini”. Baginda Nabi kemudian menoleh kepada para sahabatnya lalu bersabda “Sesungguhnya Rabb kalian menegur kalian, maka jawablah (buatlah Allah ridha kepada kalian)."
Pada masa kekhalifahan Umar bin Khatab pernah terjadi gempa bumi sebagaimana dalam riwayat Ibnu Abid Dunya. Kemudian Umar meletakan tangannya ke tanah dan berkata pada bumi “Ada apa denganmu ?”. Kemudian beliau berkata kepada penduduk Madinah : “Tidaklah gempa ini terjadi karena ada sesuatu yang kalian lakukan. Alangkah cepatnya kalian melakukan dosa. Demi jiwaku yang ada di tangan-Nya, jika terjadi gempa lagi, aku tidak akan mau tinggal bersama kalian selamanya”
Banyak petuah dan hikmah yang bisa kita ambil dari para suri tauladan kita. Khalifah Umar bin Khatab saja enggan tinggal bersama di tengah-tengah kaumnya sebagai pemimpin karena gempa bumi tersebab kemaksiatan yang mereka lakukan. Tetapi di saat gempa terjadi di zaman sekarang para pemimpin masih mendahulukan kepentingan elit mereka, melupakan aktifitas muhasabah (introspeksi) bersama terhadap kemaksiatan yang dilakukan yang menjadi sebab datangnya bencana.
Bagaikan air yang selalu mengalir karena ada celah. Maka teguran Allah akan tetap ada selama kita berpaling dari syariat-Nya. Sejatinya musibah ini adalah ujian bagi mukmin yang taat dan peringatan bagi kaum yang ingkar. Ratusan gempa susul menyusul menjadi pengingat bagi kita semua kaum muslim, bahwasannya kemaksiatan sudah sangat nyata dipertontonkan. Hingga satu guncangan belum cukup untuk mengembalikan iman.
Indonesia negeri mayoritas muslim justru menunjukkan jauhnya negeri ini dari Islam. Para ulama lentera umat kerap dipersekusi dalam dakwahnya. Isu terorisme selalu menjurus kepada umat Islam. Simbol-simbol Islam dikriminalisasi dan ajaran Islam dimusuhi. Kedzhaliman rezim semakin menjadi-jadi dengan tindakan sewenang-wenang terhadap ormas-ormas Islam yang berdakwah di tengah-tengah umat. Saatnya negeri ini dan para penguasanya kembali kepada jalan yang lurus yang diridhoi Allah supaya dapat menjadi baldatun thayyibatun wa robbun ghafur.
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain? Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi” (TQS Al A’raf: 96-99)