Oleh Ummu Harun
Agresi entitas Zionis terhadap Palestina terus berlangsung tanpa menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Di tengah berbagai seruan dunia internasional untuk menghentikan peperangan, Gaza masih menjadi sasaran serangan yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa, hancurnya fasilitas umum, dan memburuknya kondisi kemanusiaan. Bahkan, berbagai laporan menunjukkan Israel terus memperkuat kehadiran militernya di wilayah Gaza melalui pembangunan pos-pos militer baru.
Di Tepi Barat, perluasan permukiman Yahudi terus dilakukan. Kebijakan ini semakin mempersempit wilayah yang dapat ditempati rakyat Palestina dan memperkuat penguasaan Israel atas tanah yang selama puluhan tahun menjadi sengketa.
Berbagai pihak menilai langkah tersebut sebagai bagian dari upaya sistematis untuk mengubah peta demografi dan geografis Palestina.
Masjid Al-Aqsa pun tidak luput dari ancaman.
Berbagai tindakan provokatif dan upaya yang berpotensi mengubah status pengelolaan Al-Aqsa menimbulkan kekhawatiran besar di kalangan umat Islam. Sebagai kiblat pertama umat Islam dan salah satu masjid suci, Al-Aqsa memiliki kedudukan yang tidak dapat dipisahkan dari aqidah kaum Muslim.
Sementara itu, penderitaan rakyat Palestina terus bertambah. Ribuan warga dilaporkan menjadi korban, hilang, terluka, atau kehilangan tempat tinggal akibat konflik yang berkepanjangan. Kondisi ini menunjukkan bahwa tragedi kemanusiaan di Palestina masih jauh dari kata selesai. (Metro TV News, ANTARA News, Al Jazeera, CNN Indonesia, Hidayatullah.com, Juni 2026).
Berbagai fakta di atas menunjukkan bahwa apa yang terjadi di Palestina bukan sekadar konflik biasa, melainkan bagian dari agenda yang lebih besar untuk memperkuat dominasi Israel atas wilayah Palestina.
Penghancuran Gaza, perluasan permukiman di Tepi Barat, hingga berbagai tindakan yang menyasar Al-Aqsa dipandang sebagai langkah yang saling berkaitan dalam memperluas pengaruh dan kontrol Israel.
Akibatnya, rakyat Palestina tidak hanya kehilangan tanah dan tempat tinggal, tetapi juga menghadapi ancaman terhadap identitas, sejarah, dan masa depan mereka. Dunia menyaksikan bagaimana penderitaan terus berlangsung, sementara penyelesaian yang adil masih belum terwujud.
Di sisi lain, dukungan politik dan militer yang diberikan negara-negara besar kepada Israel turut memengaruhi jalannya konflik. Berbagai kecaman internasional sering kali tidak mampu menghentikan tindakan yang terjadi di lapangan.
Sementara itu, dunia Islam masih menghadapi tantangan besar dalam membangun persatuan dan langkah strategis yang efektif untuk membela Palestina.
Persoalan Palestina membutuhkan lebih dari sekadar simpati dan kecaman. Diperlukan langkah nyata dan berkelanjutan untuk menghentikan penderitaan rakyat Palestina serta menjaga kesucian Masjid Al-Aqsa.
Negara-negara Muslim perlu memperkuat persatuan dan kerja sama sehingga mampu menjadi kekuatan yang diperhitungkan dalam percaturan internasional.
Perbedaan kepentingan politik seharusnya tidak menghalangi upaya membela rakyat Palestina yang selama puluhan tahun hidup di bawah tekanan dan penjajahan.
Umat Islam juga perlu terus menjaga kepedulian terhadap Palestina melalui doa, edukasi, bantuan kemanusiaan, dan berbagai bentuk dukungan yang dibenarkan.
Kesadaran bahwa Palestina adalah bagian dari persoalan umat harus terus ditumbuhkan agar tragedi yang terjadi tidak dianggap sebagai sesuatu yang biasa.
Palestina bukan hanya tentang sebidang tanah yang diperebutkan, tetapi tentang perjuangan mempertahankan hak, kehormatan, dan keadilan. Selama penjajahan dan perampasan hak masih terjadi, selama itu pula perjuangan untuk membela Palestina akan tetap hidup di hati kaum Muslim dan para pencinta keadilan di seluruh dunia.
Wallahu alam bisshawab.
Tags
Opini