Krisis Mental Gen Z: Islam Kaffah sebagai Solusi Hakiki

Oleh: Shifa Nurul Aini, Muslimah Peduli Umat, Ciparay Kab. Bandung.

Di tengah tekanan ekonomi dan tuntutan produktivitas yang semakin tinggi, Generasi Z (Gen Z) menunjukkan kepedulian yang lebih besar terhadap isu kesehatan mental. Berbeda dengan generasi sebelumnya yang cenderung memendam persoalan psikologis, Gen Z lebih terbuka untuk membicarakannya dan memandang kesehatan mental sebagai bagian penting dari kesejahteraan hidup.

Kesadaran tersebut tampak dari cara mereka menyikapi berbagai persoalan emosional. Hampir separuh Gen Z yang mengalami gangguan kesehatan mental memilih mencari bantuan profesional melalui konseling, terapi, maupun pengobatan. Sikap ini menunjukkan adanya perubahan cara pandang terhadap masalah psikologis, yaitu bukan lagi dianggap sebagai kelemahan, melainkan kondisi yang perlu ditangani secara tepat.

Berdasarkan survei terhadap 1.158 responden, faktor yang paling banyak memicu gangguan kesehatan mental pada Gen Z ialah kekhawatiran terhadap masa depan (60%), tekanan finansial (57%), ekspektasi sosial (42%), serta perasaan tidak berdaya menghadapi situasi di luar kendali (36%). Dampaknya antara lain perubahan suasana hati (62%), gangguan tidur (50%), kecemasan berlebih (38%), dan kesulitan mengendalikan emosi (38%).

Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan kesehatan mental tidak hanya dipengaruhi oleh faktor individu, tetapi juga berkaitan erat dengan sistem kehidupan yang melingkupinya. Dalam pandangan Islam, sistem sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan telah melahirkan orientasi hidup yang berpusat pada materi dan kebebasan individu. Akibatnya, manusia dibebani berbagai tuntutan duniawi tanpa memiliki landasan keimanan yang kokoh sebagai penopang jiwanya.

Di bawah sistem seperti ini, generasi muda menghadapi tekanan untuk selalu produktif, sukses, dan mampu memenuhi standar sosial tertentu. Pada saat yang sama, mereka semakin jauh dari tuntunan syariat Islam yang seharusnya menjadi pedoman dalam menjalani kehidupan. Kondisi tersebut dapat memunculkan kegelisahan, kehilangan arah, serta rapuhnya ketahanan mental ketika berhadapan dengan berbagai persoalan hidup.

Islam menawarkan solusi yang bersifat menyeluruh. Ajaran Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah Swt., tetapi juga mengatur hubungan antarmanusia dan tata kelola kehidupan. Ketika Islam diterapkan secara kaffah, lahirlah kehidupan yang dipenuhi ketenangan, keadilan, dan keberkahan sebagai wujud rahmatan lil 'alamin.

Sejarah peradaban Islam membuktikan lahirnya generasi muda yang memiliki kepribadian Islam, akhlak mulia, serta kemampuan yang unggul dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan. Keimanan yang kuat menjadi fondasi bagi mereka untuk membangun peradaban yang gemilang dan memberikan manfaat bagi umat manusia.

Dalam perspektif Islam, negara berperan sebagai pengurus dan pelayan urusan rakyat. Negara berkewajiban memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, mewujudkan keadilan, serta menyelenggarakan sistem pendidikan yang membentuk generasi bertakwa, berilmu, berkepribadian Islam, dan bertanggung jawab.

Karena itu, Gen Z perlu menyadari perannya sebagai agen perubahan. Dengan menjadikan Islam sebagai mabda (ideologi) kehidupan dan menumbuhkan kepedulian terhadap persoalan umat, generasi muda diharapkan mampu berkontribusi dalam mewujudkan masa depan yang lebih baik. Dengan demikian, cita-cita Indonesia Emas tidak sekadar menjadi slogan, melainkan tujuan yang diperjuangkan bersama melalui penerapan Islam secara kaffah.

Allah Swt. berfirman,

"Kami ceritakan kepadamu (Muhammad) kisah mereka dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahkan petunjuk kepada mereka." (QS. Al-Kahf [18]: 13)

Wallahu a'lam bish-shawab.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak