Anak-Anak Gaza dan Solusi Pembebasan Palestina

Oleh: Adilah, Pelajar 

Konflik Palestina–Israel yang terus berlangsung telah menimbulkan dampak kemanusiaan yang sangat besar, terutama bagi anak-anak di Jalur Gaza. Ribuan anak menjadi korban jiwa, mengalami luka-luka, kehilangan anggota keluarga, tempat tinggal, serta akses terhadap pendidikan dan layanan kesehatan. UNICEF melaporkan bahwa rata-rata satu anak Palestina dibunuh pasukan Israel setiap hari di Gaza selama lebih dari delapan bulan terakhir, sejak gencatan senjata diumumkan pada Oktober 2025.

Juru bicara UNICEF James Elder menyatakan, pasukan Israel telah menewaskan sedikitnya 265 anak-anak di Gaza sejak gencatan senjata diumumkan. Ia menyebut situasi gencatan senjata tersebut sebagai sebuah "ilusi yang kejam dan mematikan."

Secara keseluruhan berdasarkan data dari otoritas kesehatan Palestina per Kamis (18/6), serangan Israel di Gaza sejak 7 Oktober 2023 telah menewaskan sedikitnya 73.018 warga Palestina, termasuk lebih dari 21.280 anak-anak dan melukai 173.273 orang.

Khusus sejak gencatan senjata resmi diberlakukan pada 11 Oktober 2025, tercatat ada 1.007 korban jiwa dan 3.165 orang luka-luka akibat serangan Israel. Tim penyelamat juga berhasil mengevakuasi 784 jenazah dari wilayah-wilayah yang sebelumnya tidak dapat diakses.

Laporan terbaru Komisi Penyelidikan Internasional Independen Perserikatan Bangsa-Bangsa, Selasa (23/6/2026), menyebutkan, otoritas dan tentara Israel secara sengaja menargetkan anak-anak Palestina selama perang yang terjadi sejak serangan Hamas ke Israel, 7 Oktober 2023. Israel telah secara langsung menargetkan anak-anak Palestina di Gaza dengan menembak organ vital mereka menggunakan senjata presisi, seperti drone quadcopter dan penembak jitu, serta menggunakan senjata berdaya ledak tinggi dalam serangan terhadap bangunan perumahan, sekolah, dan kamp pengungsian yang dipadati anak-anak. Temuan tersebut membuat komisi menyimpulkan adanya indikasi genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan kejahatan perang di Gaza, serta kejahatan perang di Tepi Barat yang diduduki Israel.

Anak-anak merupakan kelompok yang paling rentan dalam konflik ini. Kondisi tersebut memunculkan kecaman dari berbagai pihak.
Tingginya jumlah korban anak-anak di Gaza bukanlah sekadar dampak yang tidak disengaja dari peperangan, melainkan menunjukkan adanya pola penyerangan yang dinilai sistematis terhadap masyarakat sipil Palestina.

Disamping itu anak-anak menjadi kelompok yang paling menderita akibat konflik. kehilangan nyawa, banyak anak mengalami cacat permanen, trauma psikologis, kehilangan keluarga, dan kehilangan kesempatan memperoleh pendidikan yang layak. Jika kondisi ini terus berlangsung, maka generasi masa depan Palestina akan menghadapi kesulitan besar untuk bangkit karena telah kehilangan sumber daya manusia yang menjadi penerus bangsa.

Lebih lanjut, konflik di Palestina tidak dapat dipisahkan dari proyek politik Zionisme. tujuan utama Zionisme adalah mempertahankan dan memperluas penguasaan atas wilayah Palestina dan mewujudkan Israel Raya. Oleh karena itu, operasi militer yang menyebabkan banyak korban sipil, termasuk anak-anak, merupakan bagian dari strategi yang lebih luas untuk melemahkan rakyat Palestina.

Berbagai upaya penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi belum memberikan hasil yang nyata. Resolusi-resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa belum mampu menghentikan kekerasan maupun memberikan perlindungan yang efektif kepada rakyat Palestina. Selain itu, negara-negara Muslim belum mengambil langkah politik dan militer yang cukup kuat untuk menghentikan penderitaan rakyat Palestina. Bahkan mereka lebih berpihak pada Amerika dan zionis disebabkan nasionalisme dan politik kapitalistik yang sudah mencengkram jiwa-jiwa para pemimpinnya.

Satu-satunya solusi terhadap persoalan Palestina adalah dengan menegakkan Khilafah. Khilafah merupakan institusi politik Islam yang memiliki kewajiban menerapkan syariat Islam secara menyeluruh, termasuk menjaga keamanan umat Islam dan membebaskan wilayah yang diduduki dengan Jihad fii sabilillah. Keberadaan Khilafah akan menyatukan negara-negara Muslim dalam satu kepemimpinan sehingga memiliki kekuatan politik, ekonomi, dan militer yang cukup untuk melindungi rakyat Palestina. Rasulullah Saw. Bersabda:
إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ

”Sesungguhnya al-Imam (Khalifah) itu perisai, di mana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung dengannya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dll)

Di bawah sistem Khilafah, anak-anak Palestina akan memperoleh perlindungan yang lebih baik. Perlindungan tersebut tidak hanya mencakup keselamatan jiwa, tetapi juga pemenuhan hak atas pendidikan, kesehatan, kesejahteraan, dan kehidupan yang layak. Dengan berakhirnya konflik dan adanya pemerintahan yang menerapkan syariat Islam secara menyeluruh, masa depan anak-anak Palestina dapat dipulihkan.

Untuk itu perjuangan menegakkan Khilafah merupakan bagian dari Qadhiyah Masiriyah (persoalan utama) umat saat ini. Pembebasan Palestina tidak dapat dipisahkan dari perjuangan mewujudkan kepemimpinan Islam yang menyatukan umat. Umat Islam perlu meningkatkan kesadaran politik, memperkuat persatuan, serta mendukung perubahan sistem pemerintahan sesuai dengan Islam.

Imam al-Ghazali menyatakan, “Kekuasaan itu penting demi keteraturan agama dan keteraturan dunia. Keteraturan dunia penting demi keteraturan agama. Keteraturan agama penting demi keberhasilan mencapai kebahagiaan akhirat. Itulah tujuan yang pasti dari para nabi. Karena itu kewajiban adanya Imam (Khalifah) termasuk hal-hal yang penting dalam syariah yang tak ada jalan untuk ditinggalkan. (Al-Ghazali, Al-Iqtishâd fî al-I’tiqâd, hlm. 99).

Penderitaan anak-anak Gaza merupakan bukti bahwa konflik Palestina telah mencapai tingkat krisis kemanusiaan yang sangat serius. Solusi yang selama ini ditempuh masyarakat internasional tidak akan mampu menghentikan konflik secara menyeluruh. Karena itu, hanya Khilafah sebagai solusi politik yang mampu membebaskan Palestina dan memberikan perlindungan bagi generasi mendatang.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak