Oleh. Maftucha S. Pd
(Anggota Aliansi Penulis Rindu Islam)
"Setiap suatu urusan akan menemui kegagalan jika diserahkan kepada yang bukan ahlinya, inilah yang kita rasakan saat ini, di mana para pemimpin banyak berbicara. Namun, tidak menyelesaikan akar persoalan"
Rasulullah Saw. bersabda "Sesungguhnya akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan tipuan. Pada saat itu, seorang pembohong dianggap. Jujur dan orang yang jujur dianggap pembohong. Seorang pengkhianat dianggap amanah dan orang yang amanah dianggap pengkhianat. Dan pada saat itu. Ruwaibidhah akan berbicara."
Sahabat bertanya," Siapakah Ruwaibidhah itu ya Rasulullah?" Beliau menjawab," Orang bodoh yang turut campur (berbicara) dalam urusan orang banyak (umat)." (HR. Ibnu Majah, Ahmad, dan al Hakim)
Ruwaibidha
Sungguh kita berlindung kepada Allah dari fitnah akhir zaman, termasuk datangnya orang-orang ruwaibidha. Saat ini kita tentu bisa merasakan dan menyaksikan banyaknya manusia yang pandai berbicara (baik persoalan agama ataupun lainnya). Namun justru bertentangan dengan kebenaran.
Kita juga menyaksikan bahwa banyak dari pemimpin di negeri ini dipilih bukan karena kepakaran atau keahlian mereka dalam memimpin suatu urusan. Akan tetapi mereka justru dipilih karena ketenaran, kekayaan yang mereka miliki, atau kontribusi mereka kepada penguasa ketika dulu masih mencalonkan diri.
Dalam hadis tersebut juga dikabarkan bahwa orang yang jujur dianggap pembohong dan sebaliknya, begitu juga orang yang amanah dianggap penghianat dan sebaliknya. Inilah yang kita rasakan saat ini, di mana suara rakyat yang menyampaikan kebenaran dianggap sebagai musuh, orang yang taat dalam agamanya dianggap radikal dan seterusnya.
Penyebab Munculnya Ruwaibidha
Sesungguhnya segala sesuatu sudah ditetapkan oleh Allah Swt, tidak ada satu-pun peristiwa di dunia ini tanpa seijin-Nya. Namun, segala sesuatu memiliki hukum kausalitas atau sebab akibat. Tidak mungkin ada asap jika tidak ada api.
Munculnya Ruwaibidho (baik kalangan agama maupun pada umumnya) tidak lepas dari terkikisnya keimanan pada diri manusia. Tentu ini tidak berlangsung secara singkat. Akan tetapi berlangsung lama dan tersistematis.
Dulu, Indonesia dikenal dengan orang yang kuat dalam memegang adat ketiimurannya. Banyak pemuda-pemudi yang mampu mempertahankan keperawanannya. Namun, bagaimana dengan saat ini? Banyak dari mereka menikah dini secara paksa akibat hamil sebelum menikah.
Dulu para bothi bisa dihitung jari, sekarang bak jamur setelah musim hujan, mereka berkembang biak dan berani mengumbar kelakuan haram mereka di kehidupan umum. Astaghfirullah.
Terkikisnya keimanan ini akibat umat Islam yang notabene mayoritas di negeri ini meninggalkan agama mereka. Aturan. Islam dijauhkan dalam arena kehidupan, sehingga tidak ada nilai-nilai Islam yang membekas dalam perkataan dan perilaku mereka. Sekularisme telah menggeser ketakwaan yang seharusnya mewarnai dalam kehidupan.
Oleh karena itu lahirlah penguasa yang orientasinya adalah kekuasaan saja, sedangkan pada urusan yang berkaitan dengan umat penguasa abai. Tidak ada yang peduli apakah kebutuhan rakyatnya terpenuhi, pendidikan dan kesehatan apakah semua bisa mengaksesnya?
Kembali kepada Islam
Dunia membutuhkan Tatanan kehidupan yang baru, yang bisa mewujudkan peradaban yang mulia. Tidak hanya terbatas pada kemajuan sains dan teknologi. Akan tetapi juga pada keluhuran akhlak manusia.
Ketika Islam diterapkan dalam kehidupan bernegara, maka akidah umat akan dijaga agar tidak terkotori, sehingga bisa memengaruhi aspek kehidupan yang lainnya. Ketika manusia bertakwa, maka segala sesuatu yang mengarah pada keburukan akan bisa dicegah dengan sendirinya.
Akidah adalah akar dari seluruh persoalan, jika akidahnya lurus maka perilaku dan ucapan manusia akan terkendali. Dia tidak akan berkata kecuali itu adalah kebenaran.
Sedangkan Khalifah dipilih karena ketakwaan, keadilan, dan kemampuannya dalam menjalankan amanah sebagai pelayan umat, bukan mencari jabatan untuk memperkaya diri sendiri. Karena setiap amanah akan dimintai pertanggungjawaban.
Mewujudkan Islam kembali, seperti yang pernah terjadi memang bukan perkara mudah, dibutuhkan dakwah kepada umat agar mereka sadar dan mau memperjuangkan Islam di tengah masyarakat. Melepaskan seluruh aturan yang berasal dari hawa nafsu manusia menjadi berhukum pada aturan yang bersumber dari wahyu Ilahi. Wallahu a'lam bishawab.
Tags
Opini