Oleh. Maftucha S. Pd
(Anggota Aliansi Penulis Rindu Islam)
"Negara dalam pandangan Islam memiliki tanggung jawab untuk kesejahteraan rakyatnya karena penguasa adalah pelayan umat"
Banyaknya angka pengangguran di Indonesia akibat sulitnya mencari pekerjaan membuat masyarakat banyak yang beralih menjadi pekerja di sektor informal. Sektor makanan adalah yang paling dominan dipilih oleh masyarakat karena hanya di sektor ini saja yang bisa menjanjikan mereka bisa meraup rupiah untuk bertahan hidup.
Kecilnya Peluang Kerja di sektor Formal
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), per Februari 2025, terdapat 86,58 juta orang (59,40 persen dari total tenaga kerja) yang berstatus pekerja Informal. Ini artinya separuh dari tenaga kerja Indonesia tidak mendapatkan kepastian jaminan sosial dan menjadi penjamin mandiri finansial mereka.
Bagi Gen-Z, GIG worker menjadi pilihan yang cukup relevan karena kebanyakan Gen-Z ini memiliki keahlian, hanya saja mereka tidak terserap sebagai pekerja formal atau di sebuah perusahaan tertentu.
Banyaknya PHK dan sulitnya mendapatkan pekerjaan bagi angkatan pekerja baru memang menjadi alasan utama membludaknya pekerja informal, UMKM, dan GIG. Pekerja informal ini bisa tumbang kapan saja mengikuti perkembangan ekonomi masyarakat kelas menengah ke bawah.
Ada banyak alasan kenapa peluang kerja di sektor formal meniadi begitu sulit. Menurunnya kondisi ekonomi, latar belakang pendidikan masyarakat, serta kebijakan politik pemerintah yang tidak berpihak pada rakyat, ini menjadi faktor yang mempersulit mendapatkan pekerjaan di sektor formal.
Investasi vs Serapan Tenaga Kerja
Investasi saat ini memang melaju sangat tinggi. Kementerian Invetasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) merilis data realisasi investasi periode Juli - September (kuartal III) 2023 senilai Rp374,4 triliun. Menurutnya angka ini naik sebesar 21,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya. (KumparanBisnis, 08/11/2023)
Namun, kenaikan investasi ini tidak berdampak pada penyerapan tenaga kerja. Alasannya karena investasi yang masuk ke Indonesia ada di sektor padat modal dan teknologi (otomatisasi) sehingga sedikit yang menggunakan tenaga manusia.
Seharusnya pemerintah bukan hanya menggenjot investasi di sektor padat modal. Akan tetapi, juga pada sektor padat karya yang membutuhkan tenaga kerja dalam jumlah yang banyak, seperti pertanian, perkebunan, tekstil, konstruksi, dan seterusnya.
Kurangnya kualitas tenaga kerja juga membuat para investor lebih memilih tenaga ahli luar yang lebih kompeten dan memiliki keahlian. Lagi-lagi ini kembali pada kualitas pendidikan yang selama ini diberikan kepada masyarakat.
Kompleksnya Persoalan di Negeri ini
Sesungguhnya setiap aspek dalam kehidupan ini berkaitan erat. Baik ekonomi, pendidikan, kesehatan, keaman, politik dalam dan luar negeri, semuanya tidak lepas dari sistem politik yang digunakan.
Demokrasi kapitalisme yang saat ini diterapkan oleh hampir seluruh negara di dunia ini telah melahirkan ketimpangan dalam semua sisi. Apalagi demokrasi kapitalisme meniadakan peran agama dalam kehidupan.
Sistem ekonomi kapitalisme yang liberal menjadikan distribusi kekayaan di negeri ini tidak merata, hanya orang yang memiliki modal saja yang bisa menikmati kekayaan, yang kaya makin kaya, sedangkan rakyat biasa hanya dibiarkan menikmati remah-remah yang bahkan tidak cukup untuk mengenyangkan perut mereka.
Demikian juga dengan sistem pendidikan di negeri ini, hanya berorientasi pada pasar atau mencetak buruh, bukan melahirkan generasi yang mumpuni dalam mengembangkan sains dan teknologi. Orang pintar di negeri ini tidak laku karena hanya akan menghabiskan dana untuk riset. Kurikulum dan fasilitas sekolah apa adanya yang penting lulus dan syukur-syukur bisa kerja.
Hasil pendidikan seperti ini kering, anak tidak memiliki adab dan tidak memiliki orientasi hidup yang jelas, belajar hanya formalitas. Inilah generasi yang tidak akan bisa memberikan kontribusi untuk membangun sebuah peradaban yang unggul.
Islam Sistem yang Sempurna
Tidak ada sesuatu yang sempurna kecuali sesuatu tersebut berasal dari Allah Swt. Tuhan pencipta alam semesta. Islam datang dengan membawa seperangkat aturan untuk manusia.
Islam adalah way of life yang bisa menyelesaikan seluruh persoalan manusia termasuk masalah yang dihadapi oleh banyak negara saat ini yaitu menciptakan lapangan pekerjaan seluas-luasnya.
Negara dalam pandangan Islam memiliki tanggung jawab untuk kesejahteraan rakyatnya. Konsep ini berawal dari keharusan bagi setiap laki-laki untuk mencari nafkah karena laki-laki adalah penanggung jawab istri dan anak-anak mereka.
Untuk itu negara harus menjamin adanya lapangan pekerjaan bagi kaum adam ini. Langkah pertama adalah negara harus mengelola seluruh kekayaan alamnya sendiri. SDA tidak boleh dikelola oleh swasta, baik asing maupun lokal. Hal ini dikarenakan kekayaan alam adalah harta milik umum yang tidak boleh dikuasai oleh individu manapun. Sebagaimana hadis Rasulullah Saw. yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ahmad yang artinya:
"Kaum muslim berserikat dalam tiga perkara yaitu rumput, air, dan api" (H.R Abu Dawud dan Ahmad)
Khilafah akan mengelola secara langsung industri pertambangan, migas, maupun energi sehingga bisa menyerap tenaga kerja secara maksimal. Negara Islam juga akan menggerakkan ekonomi riil bukan sektor keuangan spekulatif seperti bursa saham atau yang sejenisnya.
Karena industri yang dibangun oleh Khilafah harus independent, tidak boleh ada intervensi asing maka pasti membutuhkan keahlian yang mumpuni, maka sistem pendidikan yang dibangun juga harus berkualitas. Kita bisa membaca bagaimana literatur jejak Khilafah dalam bidang pendidikan.
Tentu saja Khilafah tidak hanya berfokus pada pengembangan sains dan teknologi. Akan tetapi, aspek spiritual juga harus dijadikan sebagai pondasi pendidikan, agar generasi yang lahir menjadi generasi yang berakhlaq mulia.
Demikianlah konsep Islam dalam menyelesaikan persoalan ekonomi dan sosial di tengah masyarakat. Karena kesempurnaan tersebut kita sebagai umat Islam wajib untuk mengetahui, mempelajari, dan menerapkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Wallahu a'lam bishawab. []
Tags
Opini