Oleh: Rustina, S.Pd.
Ciparay Kab. Bandung.
Hari Pendidikan Nasional selalu datang dengan suasana yang sama: kutipan Ki Hajar Dewantara kembali diangkat, filosofinya diulang, “Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.” Sebuah konsep pendidikan yang begitu utuh: di depan memberi teladan, di tengah membangun semangat, dan di belakang memberi dorongan. Namun, di tengah peringatan itu, muncul sebuah meme yang terasa sederhana, tetapi menampar: “Ing ngarsa MBG, ing madya MBG, tut wuri MBG.”
Sekilas mungkin hanya candaan, tetapi justru di situlah letak kejujurannya. Meme seperti ini tidak lahir dari ruang hampa. Ia muncul dari kegelisahan yang dirasakan banyak orang bahwa pendidikan hari ini perlahan kehilangan arah. Filosofi yang seharusnya hidup dalam praktik justru terasa tinggal slogan. Keteladanan makin jarang terlihat, pembinaan makin lemah, dan dorongan sering kali hanya menjadi formalitas.
Program seperti MBG yang berfokus pada pemenuhan kebutuhan dasar, seperti gizi, sebenarnya bukan sesuatu yang salah. Bahkan, hal itu penting. Anak yang lapar tentu sulit belajar dengan baik. Namun, persoalannya bukan di situ. Yang menjadi kegelisahan adalah ketika solusi pendidikan seolah dipersempit menjadi hal-hal yang bersifat teknis dan fisik. Seakan-akan dengan memastikan anak kenyang, maka masalah pendidikan selesai. Padahal, realitas menunjukkan sebaliknya.
Di saat berbagai program digencarkan, kita justru menyaksikan meningkatnya kekerasan antarpelajar, praktik kecurangan seperti joki ujian dengan bayaran fantastis, penyalahgunaan narkoba di kalangan siswa, hingga merosotnya adab terhadap guru. Ini bukan sekadar masalah individu. Ini adalah tanda bahwa ada yang tidak beres pada fondasi pendidikan itu sendiri. Masalahnya bukan hanya pada fasilitas, tetapi pada arah dan nilai yang dibangun.
Di titik ini, kritik terhadap “MBG” bukan berarti menolak programnya, melainkan mempertanyakan posisi dan porsinya. Pendidikan tidak bisa direduksi menjadi sekadar urusan fisik. Perut yang kenyang tidak otomatis melahirkan kejujuran. Tubuh yang sehat tidak serta-merta melahirkan adab. Jika fondasi nilai diabaikan, maka yang lahir tetap generasi yang sama—cerdas secara akademik, tetapi rapuh secara moral, bahkan berani menghalalkan segala cara demi hasil.
Dalam Islam, pendidikan tidak pernah dipisahkan dari pembentukan kepribadian. Allah Swt. menegaskan, “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa” (QS. Al-Hujurat: 13). Ini menunjukkan bahwa ukuran keberhasilan bukan sekadar capaian duniawi, melainkan kualitas iman dan akhlak. Ilmu tidak berdiri sendiri; ia harus terikat dengan tanggung jawab kepada Allah.
Keteladanan juga menjadi inti pendidikan. “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu” (QS. Al-Ahzab: 21). Ini sejalan dengan konsep ing ngarsa sung tulada—bahwa pendidikan dimulai dari contoh nyata, bukan sekadar teori atau kebijakan. Ketika ilmu tidak berbuah pada perilaku, Al-Qur’an pun memberi peringatan keras: “Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?” (QS. As-Saff: 2–3).
Solusi dalam Islam tidak berhenti pada kritik, tetapi menghadirkan sistem pendidikan yang berorientasi pada pembentukan manusia bertakwa. Pendidikan harus dibangun di atas akidah Islam sehingga seluruh proses belajar tidak hanya mengejar nilai akademik, tetapi juga membentuk pola pikir dan pola sikap yang sesuai syariat. Guru tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga pendidik dan teladan akhlak. Negara pun wajib menjamin sistem pendidikan yang mampu menjaga generasi dari kerusakan moral, pemikiran sekuler, dan budaya permisif yang merusak karakter.
Selain itu, lingkungan keluarga dan masyarakat juga harus menjadi bagian dari pendidikan. Orang tua memiliki tanggung jawab utama dalam menanamkan iman, adab, dan kebiasaan baik sejak dini. Dengan sinergi antara keluarga, sekolah, masyarakat, dan negara, pendidikan tidak hanya melahirkan generasi cerdas, tetapi juga generasi yang memiliki kepribadian Islam dan kesiapan menjadi pemimpin peradaban.
Maka, ketika hari ini pendidikan terasa kehilangan daya dalam membentuk manusia, yang perlu dievaluasi bukan sekadar program tambahan, melainkan fondasinya. Selama pendidikan hanya berputar pada aspek teknis dan capaian angka tanpa membangun ruh dan nilai, maka krisis ini akan terus berulang.
Pada akhirnya, meme “Tut Wuri MBG” bukanlah masalah. Ia hanyalah cermin. Cermin bahwa ada jarak antara apa yang diidealkan dan apa yang dijalankan. Mungkin justru dari hal-hal sederhana seperti itulah kita diingatkan kembali bahwa pendidikan seharusnya tidak hanya membuat manusia pintar, tetapi juga membuatnya benar.
Wallahu a‘lam bish shawab.
Tags
Opini