Di Balik Seremoni Hardiknas: Potret Suram Dunia Pendidikan




Oleh: Tsuroyya

Kasus kekerasan kembali mencoreng dunia pendidikan. Seorang pelajar bernama Ilham Dwi Saputra (16) tewas setelah menjadi korban pengeroyokan di Bantul. Ia sempat mendapatkan perawatan, namun akhirnya meninggal dunia akibat luka yang dideritanya. Polisi telah menangkap dua pelaku, sementara lima lainnya masih dalam pengejaran. (KumparanNEWS, 21 April 2026)

Peristiwa ini bukan sekadar tragedi kriminal biasa, melainkan cerminan nyata wajah suram dunia pendidikan hari ini. Ironisnya, kejadian seperti ini berlangsung di tengah peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang setiap tahun dirayakan dengan penuh seremoni. Pidato, slogan, dan berbagai kegiatan simbolis seakan menunjukkan perhatian besar terhadap pendidikan, tetapi realitas justru berbicara sebaliknya: kondisi pendidikan semakin buram dan memprihatinkan.

Berbagai persoalan serius terus bermunculan dan berulang tanpa penyelesaian tuntas. Kasus kekerasan, perundungan, hingga pelecehan seksual di lingkungan sekolah dan kampus semakin meningkat. Ruang yang seharusnya menjadi tempat aman untuk menimba ilmu justru kehilangan fungsi perlindungannya. Rasa aman yang menjadi hak dasar peserta didik perlahan terkikis, digantikan oleh ketakutan dan ketidakpastian.

Tidak hanya itu, praktik kecurangan akademik juga semakin meluas. Mulai dari menyontek, plagiarisme, hingga maraknya joki dalam ujian masuk perguruan tinggi menjadi fenomena yang seolah dianggap biasa. Bahkan, kasus perjokian dalam UTBK yang terungkap di beberapa perguruan tinggi menunjukkan bahwa manipulasi telah merambah hingga level yang lebih sistematis. Hal ini tentu menjadi pertanyaan besar: bagaimana masa depan bangsa jika generasi mudanya terbiasa menghalalkan segala cara demi meraih kesuksesan?

Fenomena lain yang tak kalah mengkhawatirkan adalah meningkatnya penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar dan mahasiswa. Tidak sedikit dari mereka yang bukan hanya menjadi pengguna, tetapi juga terlibat sebagai pengedar. Lingkungan pendidikan yang semestinya steril dari pengaruh negatif justru menjadi sasaran empuk bagi peredaran narkoba, diperparah dengan kemudahan akses melalui media sosial dan jaringan digital.

Di sisi lain, degradasi adab juga semakin terlihat. Pelajar yang berani menghina guru, bahkan melaporkan atau memenjarakan guru karena teguran atau pendisiplinan, menunjukkan adanya pergeseran nilai yang sangat mendasar. Hubungan antara pendidik dan peserta didik yang seharusnya dilandasi penghormatan dan adab kini mulai terkikis.

Semua fenomena ini tidak bisa lagi dianggap sebagai kejadian sporadis atau kesalahan individu semata. Ini adalah indikasi kuat adanya persoalan sistemis dalam dunia pendidikan. Karena itu, peringatan Hardiknas seharusnya menjadi alarm keras bagi seluruh pihak untuk melakukan evaluasi mendalam, bukan sekadar rutinitas tahunan tanpa makna perubahan.

Akar persoalan ini tidak lepas dari kegagalan arah dan implementasi sistem pendidikan yang ada. Pendidikan hari ini cenderung melahirkan generasi yang mengalami krisis kepribadian, berpola pikir sekuler, bersikap liberal, dan bertindak pragmatis. Orientasi pendidikan bergeser dari pembentukan manusia beradab menjadi sekadar pencapaian akademik dan kesuksesan materi.

Dalam sistem yang berlandaskan paradigma sekuler kapitalistik, pendidikan lebih diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pasar daripada membentuk karakter. Ilmu dipisahkan dari nilai-nilai agama, sehingga kehilangan ruh pembentuk kepribadian. Akibatnya, lahirlah generasi yang cenderung mencari jalan instan, menghalalkan segala cara, dan tidak memiliki standar moral yang kokoh dalam bertindak.

Kondisi ini diperparah oleh lemahnya penegakan hukum. Sanksi yang diberikan kepada pelaku, terutama yang masih berstatus pelajar, sering kali terlalu ringan dengan alasan usia. Akibatnya, tindakan kriminal kerap dianggap sebagai kenakalan biasa yang dapat dimaklumi. Tidak adanya efek jera membuat perilaku menyimpang berpotensi terus berulang.

Selain itu, minimnya penanaman nilai-nilai agama dalam sistem pendidikan semakin memperlebar ruang kebebasan tanpa arah. Pemahaman agama yang dangkal tidak mampu menjadi benteng bagi pelajar dalam menghadapi berbagai pengaruh negatif. Akibatnya, mereka mudah terjerumus pada tindakan kriminal dan kemaksiatan tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang.

Dalam perspektif Islam, pendidikan merupakan aspek mendasar yang tidak hanya bertujuan mentransfer ilmu, tetapi juga membentuk kepribadian yang utuh. Pendidikan berlandaskan akidah Islam akan melahirkan insan yang cerdas sekaligus bertakwa, sehingga memiliki kesadaran untuk menjauhi kecurangan dan perbuatan tercela.

Islam menempatkan pembentukan syakhsiyah Islamiyah sebagai fokus utama pendidikan, yakni keselarasan antara pola pikir dan pola sikap yang berlandaskan akidah. Dengan demikian, ilmu tidak hanya menjadi pengetahuan, tetapi juga tercermin dalam perilaku yang berakhlak mulia.

Negara dalam sistem Islam memegang peran sentral sebagai penanggung jawab utama pendidikan. Negara tidak hanya menyediakan fasilitas, tetapi juga memastikan kurikulum, lingkungan, dan sistem pendidikan berjalan sesuai dengan tujuan pembentukan generasi yang beriman dan beradab. Pengawasan dilakukan secara menyeluruh, baik di sekolah, keluarga, maupun masyarakat.

Selain itu, Islam menetapkan sistem sanksi yang tegas bagi setiap pelaku kejahatan, termasuk pelajar. Penegakan hukum yang konsisten akan memberikan efek jera sekaligus menjaga ketertiban. Negara juga menciptakan suasana kehidupan yang mendorong ketakwaan, sehingga masyarakat terbiasa berlomba dalam kebaikan.

Sinergi antara keluarga, lingkungan, dan negara menjadi kunci dalam membangun generasi yang berkualitas. Pendidikan tidak berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari sistem kehidupan yang menyeluruh dan terintegrasi. Dengan landasan ini, akan lahir generasi yang tidak hanya cerdas dan kreatif, tetapi juga memiliki integritas dan tanggung jawab moral.

Refleksi Hardiknas seharusnya menjadi momentum muhasabah yang jujur atas arah pendidikan saat ini. Wajah suram yang terus terulang adalah tanda bahwa pendidikan sedang kehilangan tujuan hakikinya. Tanpa perubahan mendasar, berbagai persoalan ini akan terus berulang dan semakin kompleks.

Sudah saatnya pendidikan dikembalikan pada fitrahnya, yakni membentuk manusia yang berilmu, berakhlak, dan memiliki arah hidup yang benar. Ketika pendidikan dibangun di atas fondasi yang kokoh, ia tidak hanya melahirkan generasi cerdas, tetapi juga generasi yang mampu membawa perubahan menuju peradaban yang lebih baik.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak