Perangkap Digital Kapitalistik bagi Generasi Muda




Oleh : Sri Setyowati
Aliansi Penulis Rindu Islam



Kehidupan masyarakat saat ini tidak bisa dipisahkan dari dunia digital. Hal ini ditunjukkan dengan banyak peran dunia nyata yang digantikan dengan dunia digital. Beragam aktivitas masyarakat mulai dari komunikasi hingga ekonomi tak dapat dipisahkan dari dunia digital ini.

Dalam laporan terbarunya, Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) yang bertema “Profil Internet Indonesia 2025” menunjukkan bahwa pengguna internet di Indonesia mencapai 229.428.417 jiwa pada semester pertama tahun ini. Jumlah pengguna tersebut mengalami kenaikan yang signifikan dari dua tahun sebelumnya.

Pada tahun 2023 jumlah pengguna internet di Indonesia berada di kisaran 215 juta jiwa. Namun, pada tahun 2024 jumlah penggunanya menjadi 221,5 juta jiwa. Ini menunjukkan bahwa teknologi digital telah merambah hampir seluruh lapisan masyarakat Indonesia yang diperkirakan jumlah penduduknya mencapai 284,43 juta jiwa tahun ini. Artinya, 80,66 persen populasi penduduknya sebagai  pengguna internet.

Dari hasil survei APJII menunjukkan bahwa Generasi Z (lahir 1997–2012, usia 12–27 tahun) adalah kelompok paling dominan dalam penggunaan internet yaitu 25,54 persen dari total pengguna. Setelah itu, didominasi oleh Generasi Milenial (lahir antara tahun 1981–1996, usia 28–43 tahun) sebesar 25,17 persen, dan yang terakhir Generasi Alpha (lahir tahun 2013 ke atas) sebesar 23,19 persen. (cloudcomputing.id, 12/08/2025)

Generasi Z, Milenial dan Alpha tumbuh sebagai _digital native_, yaitu generasi yang tumbuh bersama teknologi. Pemakaian internet didominasi oleh mereka yang penggunaannya bisa 1-5 jam per hari.

Perkembangan teknologi digital akan memberikan dampak positif bagi generasi yang kreatif. Kemudahan akses informasi dan komunikasi juga ilmu dapat diperoleh dengan ujung jari saja. Namun, akan berdampak negatif bagi generasi yang berpikir dangkal. Mereka yang ingin menyelesaikan persoalan dengan cepat tetapi justru terjebak dalam platform online hingga terjerumus ke dalam kehancuran. Seperti  pinjaman online, judi online, pornografi, dan lainnya.

Paham kapitalis sekuler yang mendominasi kehidupan saat ini semakin menjauhkan generasi dari pemahaman Islam yang benar. Konten yang ditayangkan membentuk cara berpikir kapitalistik sekuler dengan mengukur segala sesuatu berdasarkan materi semata. Hingga mempengaruhi perilaku yang cenderung konsumtif, hedonis, dan jauh dari nilai-nilai Islam.

Konten -konten merusak yang tersebar di ruang digital akan membawa dampak terhadap pola pikir dan pola sikap pada generasi yang cenderung masih labil dan ikut-ikutan tren. Mereka akan terbawa arus pemikiran yang rusak dan merusak, sementara standar hidup mengikuti tren media belum tentu benar.

Ruang digital tanpa batas menimbulkan rasa ingin tahu yang besar terhadap sesuatu hingga mereka betah berlama-lama berselancar di media sosial. Inilah perangkap para kapitalis digital yang menjadikan remaja sebagai komoditas. Masifnya aktivitas generasi dalam ruang digital menjadi sumber keuntungan bagi kapitalis digital. Tidak peduli apakah tayangan tersebut merusak atau tidak, yang penting dapat untung.

Mengingat dampak serius yang ditimbulkan akibat pengaruh hegemoni ruang digital yang sekuler kapitalistik, penyelamatan generasi menjadi hal yang sangat penting. Generasi tidak akan mudah dikendalikan oleh korporasi digital bila memiliki kesadaran yang kuat tentang Islam. 

Harus ada perubahan, cara berpikir sekuler diarahkan menjadi pemikiran Islam. Karena itu dipastikan  ada pembinaan pemikiran dan kepribadian Islam dalam dunia nyata untuk membentuk generasi dengan pemikiran Islam yang kuat dan tangguh serta menjadi motor penggerak dalam menyuarakan kebenaran.

Dalam pandangan Islam, generasi muda adalah aset peradaban masa depan, penggerak perubahan serta penerus risalah Islam. Negara wajib memberikan perlindungan jiwa dengan membentuk kepribadian Islam. Pembinaan dimulai dari keluarga sebagai sekolah pertama bagi anak. Penanaman akidah Islam menjadi pondasi utama untuk membentuk generasi yang bertakwa.

Amar makruf nahi munkar harus ditegakkan dalam masyarakat sehingga konten-konten yang tidak bermanfaat akan segera dihentikan.

Poin terpenting adalah peran negara dalam menyelenggarakan pendidikan yang berlandaskan akidah Islam sehingga terbentuk kepribadian Islam dengan pola pikir dan pola sikapnya sesuai syariat.

Pengelolaan ruang digital harus mendidik dan bernilai dakwah sesuai syariat. Hal ini dapat dimulai dengan melibatkan diri dan bergabung dengan jemaah dakwah ideologis. Hanya dengan penerapan Islam kafah, masa depan generasi muda akan terselamatkan. 

Wallahu a'lam bishshawab

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak