Mencetak Generasi Pelopor Perubahan




Oleh: Yayat Rohayati



Perubahan besar sebuah bangsa tidak lahir secara tiba-tiba, melainkan dibentuk oleh generasi yang ditempa dengan nilai, ilmu, dan keteladanan. Di tengah arus perubahan zaman yang begitu cepat, kita membutuhkan generasi yang mampu menjadi pelopor perubahan tersebut. 

Namun, cita-cita besar itu kerap berbenturan dengan realita generasi yang semakin miris. Diantaranya; banyak generasi yang kecanduan gadget. Menurut data yang dinukil dari kompas.com, 29/11, jumlah pengguna media sosial di Indonesia mencapai 180 juta jiwa. 81℅ pengguna adalah gen Z, dan bisa menghabiskan waktu 1-5 jam perhari. 

Dari kondisi tersebut lahir kerusakan-kerusakan generasi, seperti; generasi mental breakdown atau gangguan mental, karena otak dan jiwa terus dirangsang dengan berbagai konten tapi tidak diberi ruang untuk tenang dan tumbuh. Banyak generasi yang terjerat pinjaman online (pinjol), karena gaya hidup hedonis terdampak dari paparan media sosial. Pelaku kejahatan di usia muda semakin meningkat dan pergaulan remaja semakin bebas tanpa kendali, karena tontonan yang akhirnya menjadi tuntunan dalam berkehidupan. 

Kecanggihan teknologi tanpa pendampingan dan pengawasan, telah menjadi pintu masuknya krisis karakter generasi. Pengawasan bisa dilakukan dari lingkup terkecil yaitu keluarga. Seorang ibu selain mengawasi, peran utamanya adalah mendidik dengan baik agar terbentuk generasi kuat iman maupun fisik. Namun fakta di lapangan, banyak ibu yang abai akan pengawasan dan pendidikan anak-anaknya. Hal ini disebabkan kondisi ekonomi yang sedang tidak baik-baik. Sulitnya lapangan kerja bagi para suami, PHK di mana-mana, sehingga menuntut para ibu keluar rumah membantu perekonomian keluarga. Akhirnya anak-anak tumbuh dalam didikan orang lain dan gadget. 

Negara pun absen dari perannya dalam pengawasan dan perlindungan generasi. Sebab, dalam kapitalisme yang berorientasi materi, fungsi negara hanya sebagai regulator pembuat kebijakan, yang berpihak pada segelintir orang atau para pemilik modal. Tak ada ketakutan akan pertanggungjawaban di yaumil akhir. Karena sekularisme yang melekat telah menjauhkan agama dari kehidupan. Agama hanya boleh mengatur terkait hubungan manusia dengan Tuhannya dalam beribadah. Sedangkan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara tidak boleh memakai aturan agama. 

 Dalam Al-Qur'an dinyatakan bahwa Allah swt. menciptakan manusia dengan tujuan agar mereka beribadah hanya kepada Allah. Ibadah dalam hal ini terkait ibadah secara keseluruhan, bukan sebatas sholat, puasa, zakat, ibadah haji. Segala amal perbuatan yang dilakukan di dunia semata-mata untuk mendapat ridho-Nya adalah termasuk ibadah. 

Salah satu ibadah seorang muslimah adalah perannya sebagai ibu. Dalam IsIam, ibu memegang peran utama dan mulia, sebagai pendidik pertama bagi generasi. Ibu akan menanamkan dan memperkokoh akidah pada anak-anaknya, serta senantiasa mengajarkan syari'at. Yang tak kalah penting yaitu menempatkan anak-anak pada lingkungan yang baik, sebab 80℅ lingkungan sangat berpengaruh pada karakter, dan kepribadian seseorang. 

Peran mulia ibu tak luput dari keberadaan negara yang berjalan sesuai fungsinya, yakni meriayah dan melindungi. Dalam IsIam, negara akan menyaring konten atau tayangan di media sosial. Kecanggihan teknologi akan dimanfaatkan untuk pendidikan dan dakwah. 

Kurikulum pendidikan dalam IsIam disusun berlandaskan akidah IsIam. Dengan asas akidah IsIam yang kuat, generasi akan memiliki pola pikir dan pola sikap IsIami. Inilah cikal bakal terbentuknya generasi pelopor perubahan. 

Oleh karena itu, untuk mencetak generasi cemerlang pembawa perubahan, marilah kita sama-sama mengambil peran yakni dengan berdakwah mengembalikan IsIam ke tengah-tengah kehidupan dan mengubah kemungkaran menjadi kebaikan. 

Rosulullah saw. bersabda:

"Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu pula, maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemahnya iman." (HR. Muslim) 

Walllahu a'lam.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak