Oleh: lastrilimbong
Perang dagang yang semakin memanas antara negara-negara besar seperti Amerika Serikat dan Tiongkok bukanlah sekadar perselisihan antar dua negara. Dampaknya nyata dan terasa hingga ke daerah-daerah di Indonesia, termasuk Subang. Salah satu artikel dari Purwasuka.viva.co.id mengungkapkan kekhawatiran Dinas Ketenagakerjaan Subang terhadap ancaman efisiensi tenaga kerja di sektor industri akibat perang dagang ini.
Sebab, sebagian besar industri di wilayah tersebut bergerak di bidang jasa maklon atau produksi barang pesanan untuk ekspor. Ketika tarif impor di Amerika naik, tentu permintaan dari negara itu akan menurun. Ini membuat industri lokal goyah dan tidak sedikit pekerja yang harus menerima kenyataan pahit: dirumahkan atau bahkan kehilangan pekerjaan.
Situasi ini menunjukkan betapa rapuhnya ketergantungan ekonomi kita terhadap pasar global. Ketika negara-negara adidaya membuat kebijakan sepihak demi melindungi kepentingan mereka, negara-negara berkembang seperti Indonesia ikut terkena imbas, meski tidak terlibat langsung dalam konflik itu. Lalu, sampai kapan kita akan terus bergantung pada sistem ekonomi kapitalis global yang jelas-jelas tidak berpihak kepada kepentingan rakyat?
Di sinilah kita perlu mulai membuka mata dan hati terhadap solusi yang telah ditawarkan Islam sejak berabad-abad lalu. Yaitu sistem ekonomi Islam. Sistem ini bukan sekadar teori, melainkan sistem hidup yang teruji dan menyeluruh, dirancang untuk menjamin keadilan, kesejahteraan, dan keberlanjutan. Bagaimana Islam menjaga stabilitas perekonomian negara?
1. Konsep Kepemilikan yang Adil dan Terukur
Dalam Islam, kepemilikan dibagi menjadi tiga jenis: milik individu, milik negara, dan milik umum. Sumber daya alam yang bersifat vital seperti air, listrik, minyak, dan gas harus dikelola oleh negara untuk kepentingan seluruh rakyat, bukan dikuasai oleh korporasi swasta, apalagi asing. Ini berbeda jauh dengan sistem kapitalis yang memberi ruang besar kepada swasta untuk menguasai sektor-sektor strategis. Ketika kepemilikan dikelola sesuai syariat, maka kemaslahatan umat menjadi prioritas utama, bukan keuntungan segelintir pihak.
2. Penggunaan Harta yang Bertanggung Jawab
Islam tidak melarang umatnya untuk memiliki kekayaan. Namun, cara memperoleh dan menggunakannya diatur agar tidak merusak tatanan sosial. Praktik riba, penipuan, monopoli, dan spekulasi dilarang karena dapat menimbulkan ketimpangan dan krisis. Sementara dalam sistem kapitalis, justru praktik-praktik seperti inilah yang sering dianggap sah, bahkan dijadikan motor penggerak ekonomi.
Dengan menghindari praktik-praktik yang merugikan itu, sistem ekonomi Islam menjamin stabilitas ekonomi tanpa harus menunggu intervensi pasar global. Setiap individu bebas berusaha, tetapi tetap dalam koridor syariat yang menjunjung tinggi keadilan.
3. Distribusi Kekayaan yang Merata dan Berkelanjutan
Salah satu kekuatan utama sistem ekonomi Islam adalah mekanisme distribusi kekayaannya. Zakat, infaq, sedekah, dan larangan menimbun kekayaan adalah instrumen-instrumen penting yang membuat kekayaan tidak berputar hanya di kalangan orang kaya. Negara juga punya tanggung jawab langsung untuk memastikan kebutuhan pokok rakyat seperti pangan, kesehatan, pendidikan, dan tempat tinggal terpenuhi.
Bayangkan jika sistem ini diterapkan secara menyeluruh: tak akan ada lagi cerita tentang rakyat kelaparan di negeri yang kaya, atau buruh-buruh yang kehilangan pekerjaan hanya karena negara lain menerapkan kebijakan sepihak.
Jadi, Mengapa Harus Terus Mengandalkan Kapitalisme?
Perang dagang hanyalah satu dari sekian banyak bukti bahwa sistem ekonomi kapitalis menyimpan banyak kelemahan. Ia membuka celah bagi dominasi negara kuat atas negara lemah, memperparah kesenjangan, dan membuat rakyat kecil menjadi korban.
Sistem ekonomi Islam, sebaliknya, hadir sebagai solusi yang adil, berimbang, dan menyejahterakan. Bukan hanya teori, tapi sistem yang pernah diterapkan secara nyata dan terbukti mampu mengangkat kesejahteraan masyarakat secara luas. Kini, tinggal kita sendiri yang menentukan: tetap menjadi penonton di tengah krisis, atau mulai membangun kesadaran dan gerakan untuk menerapkan sistem ekonomi Islam secara menyeluruh.
Tags
Opini
