Menggalang Kekuatan Global untuk Membebaskan Palestina



Oleh: Windy Febrianti



Dikutip dari laman (aljazeera.com, 21/4/25) sebanyak 51.240 warga palestina telah dipastikan tewas dan 116.931 terluka dalam perang Israel di Gaza sejak dimulai 18 bulan yang lalu. 
Pasca-gencatan senjata, situasi Gaza memang jauh lebih mencekam. Bumi Gaza pun kerap disirami hujan darah diikuti serpihan daging manusia akibat gelombang serangan bom Zion*s yang makin masif dan brutal. Mereka pun tidak segan-segan menyerang pengungsian dan membakar hidup-hidup para korban, hingga langit Gaza pun riuh dengan tangis dan jeritan yang sangat memilukan.

Terkait kasus ini program pangan dunia perserikatan bangsa-bangsa (WFP) telah memperingatkan tentang krisis kemanusiaan yang semakin memburuk di jalur Gaza, dengan menyatakan bahwa setidaknya dua juta orang, yang sebagian besar mengungsi, saat ini hidup tanpa sumber pendapatan apapun, dan sepunuhnya bergantung pada bantuan kemanusiaan untuk memenuhi kebutuhan pangan utama mereka. WFP menekankan bajwa situasi kritis ini diperparah oleh penutupan perbatasan yang sedang berlangsung oleh Israel, yang mencegah pengiriman pasokan pangan penting ke jalur Gaza. Dengan tidak adanya pasokan pangan yang masuk ke dalam Gaza warga palestina terpaksa mulai memakan daging kura-kura untuk memenuhi kebutuhan protein mereka.(CNNIndonesia.com, 19/4/25).

Penderitaan rakyat Gaza tak kunjung berakhir. Tidak hanya mendapat ancaman rudal dan bom, mereka juga terancam kelaparan, kedinginan, hingga kematian. Sebagaimana kita ketahui, entitas Zion*s melancarkan perang genosida di Gaza sejak 7 Oktober 2023 yang menewaskan lebih dari 45.200 orang. Penjajah Zion*s  tak menghiraukan kecaman dunia. Mereka semakin brutal berbuat di luar batas kemanusiaan.

Disisi lain, para penguasa Arab beserta pemimpin muslim lainnya hanya mencukupkan diri dengan kecaman tanpa aksi nyata. Bahkan meski seruan jihad dan tuntutan pengiriman tentara yang disampaikan para ulama dunia yang tergabung dalam International Union Of Muslim Scholars (IUMS) pada 4 April 2025 pun akhirnya berlalu begitu saja. Para penguasa muslim di dunia sama sekali tidak menggubrisnya. Mereka tampak benar-benar berhitung atas konsekuensi yang akan diterima jika mereka membantu Gaza. Tampak betapa besar ketakutan mereka kepada Amerika, dan betapa besar pula cinta mereka kepada kursi kekuasaannya.

Allah memerintahkan  umat Islam memberi pertolongan pada saudaranya sesama muslim. Allah juga menyatakan umat muslim adalah bersaudara. Rasulullah SAW bersabda
"Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mengasihi, mencintai, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga dan panas (turut merasakan sakitnya).” (HR. Bukhari no. 6011 dan Muslim no. 2586). 

Oleh karenanya wajib bagi kaum muslim untuk menolong saudaranya. Seperti halnya saudara kita di Gaza saat ini sedang dijajah oleh penjajah Zionis, mereka membutuhkan pertolangan. 

Akan tetapi selama umat Islam masih terikat pada Nasionalisme warisan penjajah, mereka tidak akan pernah benar-benar bersatu, dan jihadpun tidak akan digerakkan. Maka, umat Islan harus mencampakaan Nasionalisme, menyadari bahwa penjajahan hanya bisa di hentikan dengan persatuan umat dalam satu kepemimpinan global, yaitu Khilafah (perisai).
Umat wajib menyeru kepada semua muslim diseluruh dunia degan seruan yang sama. Mengingatkan akan persatuan umat dan kewajiban menolong saudaranya. Umat juga harus bergerak menuntut para penguasa muslim melaksanakan kewajiban menolong saudara-saudara kita di Palestina dengan melaksanakan jihad dan mengakkan Khilafah.

Gerak umat harus ada yang memimpin agar terarah. Pemimpin dakwah itu adalah jamaah dakwah Ideologis yanh menyerukan jihad dan tegaknya Khilafah. Para pengemban dakwah harus terus bergerak dengan mengerahkan seluruh kemampuannya agar persatuan umat terwujud dan berjuang bersama.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak