Oleh : Dinna Chalimah,
Pemerhati Sosial, Ciparay Kab. Bandung
Gelombang serangan udara yang mengakhiri gencatan senjata di Gaza menandai eskalasi besar dalam konflik Israel-Palestina. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memperingatkan bahwa serangan ini "baru permulaan" dan akan terus berlanjut hingga Israel mencapai tujuan perangnya, yakni menghancurkan Hamas dan membebaskan seluruh sandera yang ditahan oleh kelompok militan tersebut.
Negosiasi gencatan senjata lebih lanjut, kata Netanyahu dalam pidato televisi Selasa (18/3/2025) malam, akan berlangsung "di bawah tembakan". Ini adalah pernyataan pertamanya setelah serangan yang menewaskan lebih dari 400 orang dalam satu hari, menjadi hari paling berdarah sejak awal perang pada 2023. (cnbcIndonesia.com)
Perjanjian gencatan senjata pada bulan Januari kemarin antara Israel dan Palestina telah ditandatangani oleh kedua belah pihak. Seluruh warga dunia senang atas respon dari perjanjian gencatan senjata ini bahkan sempat memenuhi berita di sosial media, seakan bahwa penderitaan Palestina telah usai. Mirisnya mereka yang bergembira tidak sadar bahwa Zionis Israel laknatullah sering kali buat onar dengan mengkhianati perjanjian yang mereka buat sendiri.
Benar, pengkhianatan itu terjadi lagi atas perjanjian gencatan senjata kembali menyasar warga Palestina dengan serangan yang mematikan dilancarkan oleh Zionis Israel di tepi Barat. Kejadian ini terjadi pada Hari Selasa dini hari, saat warga Palestina hendak menjalankan sahur. Bom yang dilancarkan di Tepi Barat menewaskan 500 warga dan ratusan orang mengalami luka-luka. (m.antaranews.com,18/3).
Kejadian pengkhianatan yang terus berulang ini seharusnya kita belajar dan berpikir kritis bahwa perjanjian dan gencatan senjata yang dilakukan oleh Israel, hanya memberikan wacana saja, faktanya mereka terus menyerang Palestina tanpa ampun. Ini tentu bukan solusi atas kebiadaban Zionis Israel. Besarnya empati sosial warga dunia di sosial media atas kebiadaban Israel, membuat gencatan senjata ini hanya sebatas sebuah ilusi. Karena kecaman dan kutukan warga dunia yang disematkan pada Israel, tidak mampu menghentikan kebiadaban mereka terus membunuh warga Palestina.
Sampai saat ini dalm kondisi berpuasa di bulan Ramadhan pun masih membara dan mengalami kesyahidan terus menerus, kelaparan, kesengsaraan dan kepedihan yang amat mendalam. Terlebih dari itu kehilangan ayah, ibu, anak, sanak keluarga dan kerabat adalah hal yang menjadi pemandangan yang memilukan bagi mereka.
Solusi tuntas atas permasalahan Palestina dan muslim di belahan dunia lainnya yang mengalami penindasan ini akan berakhir dengan ditegakkannya kepemimpinan Islam yaitu sebuah negara yang menerapkan sistem Islam yang disebut Khilafah. Islam telah mengharamkan dan melaknat orang yang telah melakukan penindasan, perampasan, pembunuhan, dan segala bentuk kezaliman.
Dibawah naungan kepemimpinan Islam, darah kaum muslimin akan dipertaruhkan. Bagi Israel dan sekutunya yang telah menumpahkan darah seluruh jiwa dengan sengaja dan penuh dengan kebiadaban, maka Khalifah akan bertindak tegas dengan mengarahkan seluruh pasukan untuk membumihanguskan Israel dan sekutunya tanpa ampun. Karena dengan peranglah bahasa yang bisa dipahami oleh Israel dan Amerika sampai berhenti dan mundur dari tanah Palestina.
“Siapapun yang membunuh seseorang bukan karena (orang yang dibunuh itu) telah membunuh orang lain atau karena telah berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia.” (TQS. Al-Maidah : 32).
Wallahu a'lam bish shawwab
Tags
Opini
