Evakuasi Jadi Kontroversi




Oleh. Leni Setiani 
Aktivis Muslimah 




Pernyataan orang nomor satu di Indonesia yaitu Presiden Prabowo Subianto menjadi kontroversi bahwa Indonesia siap menerima 1000 warga Gaza. Hal ini disampaikan saat suasana ketar ketir nya pemerintah akibat 32% pemberlakuan tarif impor oleh presiden Amerika Serikat untuk semua negara. 

"Jika pemerintah Palestina dan pihak terkait ingin mengevakuasi mereka ke Indonesia, kami siap kirim pesawat-pesawat untuk menjemput. Kita perkirakan jumlahnya sekitar 1000 orang untuk gelombang pertama" (beritasatu.com 9/4/25).

Pernyataan itu membuat pengamat isu geopolitik Timur Tengah Smith Alhadar, menyebut Prabowo harus mewaspadai protes dari dalam negeri. Alasannya, rencana kontroversial ini muncul kan masyarakat indonesia sedang resah dengan berbagai masalah ekonomi dan politik. 

"Rencana ini justru mengancam pemerintahannya. Bisa terjadi demo besar-besaran. Dia bisa melakukan suatu bunder di tengah keresahan masyarakat," ucap Smith (bbc.com 11/4/25).

Banyak pihak meyakini, bahwa evakuasi warga gaza hanya kedok penjajah untuk memuluskan agenda pengusiran warga Gaza. Diduga juga, rencana prabowo tersebut merupakan upaya appeasement (perbedaan) untuk membujuk Trump agar mengurangi tarif yang diperkirakan mengguncang perekonomian negeri. Jika dugaan ini benar, sangat disayangkan karena dikhawatirkan akan mendukung ambisi Trump dan zionis yang ingin menguasai gaza secara utuh dengan mengusir warganya dari sana.


Busuknya Sistem Sekularisme Kapitalisme

Sejak Januari, Trump memang telah berambisi untuk merelokasi Gaza dengan dalih Proyek Rivera Timur Tengah. Atas dasar inilah ia beralasan bahwa Gaza harus dikosongkan terlebih dahulu untuk direkonstruksi.

Di satu sisi, seluruh tanah arab tidak ada yang mau menyetujui relokasi sementara warga Gaza, karena terbukti tak ada warga palestina yang kembali setelah pindah ke negara lain. Maka sangat mengherankan, Indonesia yang sama sekali tidak memiliki hubungan birokrasi dengan Israel, berani-beraninya mempersilahkan Gaza untuk dievakuasi ke tanah air.

Bukan kah sangat terlihat, sistem sekularisme kapitalisme mampu menghadirkan para penguasa lemah tak berdaya dihadapan negara adidaya. Sistem ini, selain memisahkan agama dengan kehidupan, juga menjadikan hati para penguasa muslim menjadi cinta dunia dan takut mati.

Para penguasa muslim  dengan tenangnya menjalin hubungan simbiosis mutualisme yang mesra dengan musuh umat Islam selain syithan, yaitu para penjajah negeri muslim dan mereka menggunakan berbagai cara untuk mendapatkan keuntungan tak seberapa walau saudara seiman menjadi tumbal penjajah.

Islam Menghapus Penjajahan

Padahal, di masa kekhilafahan Islam, Islam memiliki seorang pemimpin yang mampu membebaskan tanah palestina, yaitu Umar bin Khatab dan Shalahuddin Al Ayyubi. Atas izin Allah Mereka dan pasukan tentara kaum muslimin dapat memenangkan peperangan atas spirit jihad fisabilillah, bukan karena haus akan kekuasaan atau sekadar mendapatkan keuntungan duniawi.

Di bawah kekhilafahan Islam, seluruh umat Islam memiliki perisai yakni Khalifah, yang akan senantiasa menjaga harta jiwa dan raga kaum muslimin. Rasulullah Saw bersabda, "Sesungguhnya imam/khalifah adalah perisai, orang-orang berperang di belakangnya dan menjadikannya pelindung. Jika ia memerintahkan ketakwaan kepada Allah 'Azza wa Jalla dan berlaku adil, baginya terdapat pahala dan jika ia memerintahkan yang selainnya, ia harus bertanggung jawab atasnya.” (HR Muslim).

Oleh karenanya, tak ada solusi yang mampu menyelesaikan persoalan palestina kecuali dengan khilafah dan jihad. Maka dari itu, sepatutnya seluruh umat Islam bersatu memperjuangkan syari'at Islam dapat diterapkan secara kaffah dalam bingkai daulah khilafah, sehingga Khalifah dapat mengirimkan tentara untuk mengusir penjajah di palestina bahkan penjajah di seluruh negeri muslim . Wallahu'alam bishowab

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak