Peringatan Hari Anak Dunia, Apa Kabar Nasib Anak Palestina?

Oleh. Messy Ikhsan

Setiap tahunnya eforia peringatan Hari Anak Sedunia rutin diperingati oleh berbagai negara di dunia. Hari Anak Sedunia dikukuhkan pertama kali pada tahun 1954 dan rutin diperingati pada tanggal 20 November sebagai upaya untuk meningkatkan kesejahteraan seluruh anak di dunia, seperti dilansir dari lama resmi PBB.

Walau peringatan Hari Anak Sedunia rutin dilaksanakan setiap tahun, tapi masalah tentang kehidupan anak-anak semakin hari kian runyam. Hak-hak kehidupan mereka terabaikan dan tak mendekap jaminan sosial yang layak. Dari masalah gizi, krisis kemiskinan, pendidikan yang mahal, minus perlindungan dari berbagai ancaman, dan lainnya yang jauh dari kata baik. Bahkan kesulitan hidup itu semakin membelenggu anak-anak Palestina. Sudah puluhan tahun genosida terjadi, tapi PBB dan dunia hanya membisu melihat kebiadaban zionis terhadap anak-anak Palestina?
 
Kalaupun suara dukungan itu ada, muncul dari rakyat biasa atas nama kemanusiaan tanpa solusi nyata untuk benar-benar menyelesaikan masalah anak-anak Palestina. PBB, dunia, dan negara-negara muslim hanya berpaku tangan seolah semuanya baik-baik saja. Akhirnya, peringatan Hari Anak Sedunia hanya sekadar euforia dan seremonial belaka, tak benar-benar menjadi hak-hak anak dunia termasuk anak Palestina agar mendapatkan kehidupan yang layak, aman, dan sejahtera. Nyatanya tidak lebih dari sekadar pengkhianatan nyata bagi hak-hak anak Palestina, khususnya hak hidup yang dijunjung tinggi mengatasnamakan hak asasi manusia

Peringatan Hari Anak Sedunia nyata menggambarkan standar ganda Barat soal hak anak. Hari Anak Sedunia yang diinisiasi oleh lembaga internasional di bawah PBB tiap 20/11 hanya kedok untuk menutupi ketidakpedulian mereka terhadap nasib dan masa depan 2 milyar anak usia 0-15 tahun di seluruh dunia.

Pengkhianatan nyata tampak pada nasib anak-anak Palestina hari ini. Jangankan hak-hak atas makanan, pendidikan, kesehatan, sanitasi, dan perlindungan atas kekerasan, hak hidup saja mereka tak mendapatkan jaminan. Betapa banyak anak-anak Palestina yang menjadi korban penjajahan Zionis Yahudi, bahkan banyak yang menjadi korban ketika masih dalam kandungan.

Nyata keselamatan anak-anak kalah penting dengan agenda dan tujuan negara yang hari ini tegak dengan nasionalisme. Kepentingan ekonomi negara dan jabatan jauh lebih menjadi prioritas daripada nasib anak-anaknya di berbagai wilayah konflik lainnya buah dari pengkhianatan penguasa di negeri-negeri muslim. Ini adalah buah busuk sistem kapitalisme sekularisme.

Islam memandang anak adalah calon generasi masa datang yang harus dijaga keselamatannya dan kesejahteraannya, dan hak-hak lainnya. Oleh karena itu, negara harus memenuhi hak anak sesuai tuntunan Islam. Negara Islam memiliki sumber daya yang besar yang mampu menjamin kesejahteraan dan keselamatan anak

Islam menjaga jiwa/hak hidup setiap insan, termasuk anak-anak. Hanya Islam yang menjamin pemenuhan hak anak yang hakiki, mulai dari hak hidup dan berkembang, hak nafkah, keamanan, pendidikan, penjagaan nasab, dan lainnya. Ini bisa diwujudkan ketika negara menerapkan syariat Islam secara kafah yang memperkuat fungsi keluarga, lingkungan masyarakat dan negara. Negara sebagai basis perlindungan anak yang hakiki. Hal ini hanya akan terwujud melalui tegaknya sistem Islam. Tanpa Khilafah, hak-hak anak terus akan terdiskriminasi. Tidakkah kita muak dengan hal tersebut?

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak