Oleh ; Arini
Polda Sulawesi Selatan mengungkap kasus perdagangan manusia yang melibatkan 77 mahasiswa di Kota Makassar.
Para korban diduga dijerat melalui program kerja musim liburan atau yang dikenal sebagai Ferienjob di Jerman.
Dari keterangan Direktorat Kriminal Umum (Ditkrimum) Polda Sulawesi Selatan, para mahasiswa dijanjikan untuk dipekerjakan sesuai dengan program bidang studinya di Jerman.
Namun, setelah tiba di sana mereka malah diperkerjakan sebagai pekerja kasar. Kasus ini berawal dari empat laporan polisi yang diterima Polda Sulawesi Selatan.
Beritasatu.com,Jumat (22/11/2024).
Maraknya perdagangan manusia yang terjadi tak lepas dari jerat kemiskinan yang semakin kuat mencekik leher masyarakat. Pelaku akhirnya gelap mata dan berusaha menghalalkan segala cara demi mendapatkan rupiah dan keuntungan. Sedangkan korban, tergiur dengan adanya tawaran gaji tinggi mengingat susahnya mendapat pekerjaan dan rendahnya upah di dalam negeri. Akhirnya bermodal nekat dan harapan, mereka pergi untuk mengadu nasib agar bisa memperbaiki taraf hidup dan perekonomian keluarga. Miris tapi nyata, inilah yang terjadi di Indonesia, negeri yang kaya akan sumber daya alam tapi rakyatnya miskin dan kelaparan.
Permasalahan perdagangan manusia tak akan tuntas kecuali adanya peran negara secara aktif dan berkelanjutan untuk menindak tegas pelaku dan memberikan jaminan kesejahteraan kepada seluruh rakyatnya.
Oleh karena itu untuk menanggulangi masalah perdagangan orang ini, perlunya ketegasan pemerintah untuk merubah sistem.
Sistem yang dimaksud adalah kapitalisme yang tegak di atas asas sekularisme yang menafikan peran agama dalam pengaturan kehidupan. Dengan asas rusak ini, wajar jika kapitalisme melahirkan berbagai kerusakan.
Dengan demikian, satu-satunya solusi untuk keluar dari berbagai permasalahan ini hanyalah dengan mencampakkan kapitalisme dari pengaturan kehidupan dan menggantinya dengan sistem kehidupan yang sempurna, yakni Islam.
Islam sebagai solusi tuntas
Dalam sistem Islam yaitu khilafah, berkewajiban menjaga kehormatan, jiwa dan harta benda seluruh rakyatnya. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw dalam sebuah hadits :
“Imam adalah raain atau penggembala dan dia bertanggung jawab atas rakyatnya” (HR.Bukhari).
Maka, ketika dunia di bawah tatanan sistem Islam, kasus perdagangan manusia tidak akan dibiarkan terjadi. Negara Islam akan menerapkan sistem ekonomi Islam yang sangat berbeda dengan sistem ekonomi kapitalisme. Berbeda dengan kapitalisme yang menghitung kesejahteraan masyarakat secara kolektif, ekonomi islam mengukur kesejahteraan masyarakat secara individual, sehingga tidak akan terjadi kesenjangan sosial.
Adapun cara negara Islam menjamin kesejahteraan rakyatnya yakni melalui dua mekanisme, baik secara langsung maupun tidak langsung. Mekanisme tidak langsung yaitu negara akan membuka lapangan pekerjaan seluas-luasnya dan memastikan setiap warga laki-laki mendapatkan pekerjaan yang layak untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. sehingga setiap individu terjamin kebutuhan sandang, pangan dan papan mereka. Hal ini akan membunuh kemiskinan dan melahirkan kesejahteraan di tengah masyarakat.
Mekanisme kedua yang akan dijalankan oleh pemerintah yakni memberikan jaminan pemenuhan kebutuhan publik seperti pendidikan, kesehatan, dan keamanan. Negara akan membiayai penuh setiap fasilitas tersebut sehingga tidak ada diskriminasi pada setiap warganya, baik muslim atau non muslim miskin atau kaya semuanya akan mendapatkan pelayanan yang gratis dan berkualitas. Dengan sistem ekonomi Islam saja,sudah bisa memberantas terjadinya perdagangan manusia. Karena setiap warga sudah mendapatkan haknya.
Selain itu, kebijakan luar negeri dalam negara Islam akan menjamin keamanan warga negara dan warga asing. Negara akan memastikan keamanan warganya di luar negeri jika mereka berkunjung keluar negeri untuk berbagai kepentingan. Adapun warga asing yang datang ke dalam negara Islam harus memiliki paspor atau izin dari khalifah sehingga mereka ada dalam pengawasan dan perlindungan negara.
Karena sistem Islam memberikan kesejahteraan, keadilan dan jaminan keamanan.
Wallahu a'lam bishawab.
Tags
Opini
