Peran Pemuda : Meningkatkan Kesadaran Politik Islam




Oleh : Nabila Sinatrya


Pemuda merupakan sumber daya strategis bagi suatu bangsa. Di tangan mereka lah masa depan suatu bangsa digantungkan. Maka proses pembentukan pemuda yang tangguh harus dilakukan jika suatu bangsa ingin tetap mempertahankan eksistensinya. Pemuda menjadi sumber kekuatan atas potensi fisik dan pemikiran yang dapat menciptakan realitas, bahkan keadaan yang lebih baik, juga menjadi pihak yang dituntut dan ditantang untuk menggagas perubahan, memecahkan kebuntuan, dan menemukan solusi atas permasalahan yang terjadi pada umat, bangsa, bahkan dunia.

Bagi pemuda muslim, idealisme perubahan lahir dari keyakinan ideologi Islam. Karena kapitalisme yang  berlawanan dengan fitrah manusia telah gagal membangun dunia. Sehingga butuh memperdalam kesadaran politik (wa’yu siyasi) hingga mampu mengambil peran yang tepat untuk perubahan dunia menuju Khilafah.

Ditahun politik 2024, berdasarkan exit poll Pilpres 2024 dari Indikator Politik, 71% responden yang merupakan Gen Z memilih Prabowo-Gibran. Data dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) 2024 menyebutkan, 40% pemilih adalah Gen Z. Melansir dari tribunnews.com (01/10/2024) bahwa Anggota DPR RI termuda di usia 23 tahun dari Partai Gerindra.

Dominasi Gen Z menjadi keuntungan besar bagi pemangku kepentingan politik, karena suaranya bisa dimanfaatkan untuk kemenangan pemilihan, diperparah dengan masih banyaknya kalangan muda yang buta politik. Sehingga dengan semangat, KPU mengedukasi Gen Z melalui sosialisasi pemilu atau pilkada ke kampus, sekolah, hingga pesantren tentang kesadaran politik agar suaranya bisa membawa perubahan.  

Disisi lain survei yang digelar pada 29 Mei hingga 9 Juli 2023 oleh IDN Research Institute, bekerja sama dengan Advisia sebagai Research Partner di lakukan di 10 kota di Indonesia bahwa kepercayaan terhadap demokrasi sudah menurun. Hasil survei diketahui 83,3% Gen Z tidak puas dengan demokrasi, rinciannya 59% itu sangat tidak puas kemudian 24,3% menyatakan kurang puas.

Melihat tidak terarahnya para pemuda adalah hasil dari pendidikan yang berasas kapitalisme-sekulerisme, yang tujuannya memfokuskan pada kesuksesan materi tanpa mengakui adanya peran agama. Kapitalisme telah meletakkan pemuda pada peran penting dalam menjaga eksistensi kapitalisme global. Agar pemuda bisa berperan optimal maka perlu ada program untuk membangun lingkungan yang mampu meningkatkan kapasitas mereka, sekaligus panggung kontestasi-peluang untuk tampil sebagai subjek dalam pembangunan


Kesadaran politik berasas kemaslahatan tidak akan bertahan lama untuk mewujudkan perubahan sistemik yang revolusioner. Jika persoalan hari ini sistemik harusnya kesadaran politiknya bisa mewujudkan perubahan sistemik, yang hanya bisa didasarkan pada ideologis.

Kapitalisme global sangat ambisius membidik pemuda diseluruh dunia untuk mengikuti doktrin yang mereka aruskan. Melihat realitas eksistensi sistem kapitalisme yang disetir oleh korporasi-korporasi global, maka mustahil perjuangan membangkitkan umat dilakukan dengan amal Individu. Maka butuh peran bersama yang dimulai dengan menyadarkan generasi muda dalam pembinaan, serta menyebarluaskan Islam ketengah-tengah masyarakat sampai kita layak untuk mendapat pertolongan dari Allah swt.

 Wallahu’Alam bishowab

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak