oleh: Nayla Adzkiya Amin
Menjadi guru di Indonesia bukanlah hal yang mudah, ditekan dari segala sisi, dituntut untuk menjadi sempurna tetapi gaji tidak memadai. Persoalan gaji guru adalah persoalan yang tidak ada habisnya.
Menurut tempo.com (2/12/24), dalam acara perayaan puncak Hari Guru Nasional di Velodrome, Jakarta Timur, Kamis, 28 November 2024, Prabowo mengatakan, guru berstatus Aparatur Sipil Negara (ASN) akan mendapatkan tambahan penghasilan sebesar satu kali gaji pokok.
Kabar “Kenaikan gaji guru” ditanggapi dengan beragam reaksi. Apalagi setelah ada penjelasan bahwa yang naik bukanlah gaji, melainkan tunjangan kesejahteraan yang diperoleh setelah lulus program sertifikasi guru. Banyak guru yang sudah tidak percaya lagi terhadap kata-kata manis yang penguasa layangkan untuk seorang guru.
Guru-guru merasa sama saja hasilnya jika gaji mereka dinaikkan sementara harga-harga keperluan juga semakin naik. Sehingga, fakta memprihatinkannya adalah banyak guru yang menjadi korban pinjol dan judol demi memenuhi kebutuhan mereka, atau melakukan pekerjaan sampingan yang dapat mengganggu aktivitas utama sebagai guru atau merusak kesehatan tubuhnya dikarenakan banyaknya kegiatan.
Menjadi seorang guru tentunya memiliki banyak resiko, di antaranya adalah selalu siap dengan kondisi siswa, kondisi sekolah, dan kondisi yang kurang memadai dari segi kesejahteraan pekerjaan. Tetapi, guru juga selalu dituntut untuk menjadi guru yang baik dan dapat dicontoh anak-anaknya, atau bahkan dituntut pula menjadi pribadi yang berprestasi agar bisa dicontoh dengan baik oleh muridnya.
Dengan banyaknya tuntutan pekerjaan dan sedikitnya kesejahteraan yang diberikan, guru menjadi manusia yang seolah tidak boleh lelah. Padahal di balik pahlawan tanpa tanda jasa itu juga hadir beragam kebutuhan yang juga harus dipenuhi sebagai manusia. Guru saat ini hanya dianggap sebagai pekerja, yang memproduksi sebuah barang.
Maka wajar sekali jika guru memiliki segudang tuntutan yang tidak berujung, juga dengan kesejahteraannya yang selalu dibawah rata-rata. Seharusnya, guru adalah pekerjaan yang dimuliakan dan menjadi pekerjaan yang bukan menjadi pekerjaan sampingan atau pekerjaan yang dengan urutan paling akhir dalam list impian.
Melihat mirisnya kesejahteraan guru, maka kita juga melihat bagaimana pendidikan di Indonesia saat ini, jika tenaga pendidik tidak mendapatkan kesejahteraan yang layak, maka di waktu bersamaan pula Indonesia belum memiliki kualitas sistem pendidikan yang bagus. Sungguh ini adalah kesalahan sistemik dalam pendidikan kali ini. Begitulah saat sistem hidup yang diterapkan adalah sistem kapitalisme- sekulerisme yang menuntut manusia membuat hukum sendiri.
Tenaga pendidik yang tidak sejahtera, buruknya sarana dan kualitas pendidikan, serta lain sebagainya. Solusi tepat untuk permasalahan ini adalah menjadikan negara sebagai pengurus, yang diberikan amanah sebagai regulator dan fasilitator. Sistem yang diterapkan sudah seharusnya adalah sistem Islam yang selalu memprioritaskan guru. Hal itu karena guru dianggap sebagai tonggak pemegang peradaban.
Dalam Islam guru dianggap tonggak peradaban karena guru menjadi akar bagi manusia untuk tetap berakal. Guru selalu dimuliakan, hal ini terbukti saat masa Islam guru sangat dihormati, dijamin kesejahteraannya, dan mempunyai peran strategis guna membangun peradaban yang gemilang.
Guru bukan sekadar pendidik, namun juga membina masyarakat dengan pemikiran berlandaskan Islam untuk menghasilkan kualitas masyarakat yang mampu menjalani kehidupan dan terus berkembang. Tak heran banyak ilmuwan yang lahir di era ini, bahkan ilmunya bermanfaat hingga kini.
Realitas ini sulit ditemukan hari ini, sebab fakta hari ini bertolak belakang, guru terus merasakan beban amat tinggi dan berakibat pada kualitas masyarakat dan peradaban. Maka solusi utamanya adalah memperbaiki sistemnya dengan kembali kepada penerapan Islam secara menyeluruh.
Dengan itu, negara akan bertanggung jawab penuh dengan memastikan guru mendapatkan haknya dan menjalankan kewajibannya. Maka terciptalah kesejahteraan, generasi yang cerdas, dan kondisi sosial yang terkondisikan. Di sinilah guru menjadi toggak perubahan menuju kegemilangan peradaban.
Tags
Opini
