By : Ummu Aqsha
Ketua DPR RI Puan Maharani membuka pertemuan Indonesia-Africa Parliamentary Forum (IAPF) di Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali. Sementara, IAPF merupakan forum parlemen Indonesia dengan negara-negara Afrika yang digelar dalam rangkaian Forum Tingkat Tinggi (FTT) Indonesia-Africa Forum (IAF) ke-2 dan High Level Forum on Multi Stakeholder (HLF MSP).
"Jadi semua event internasional dan konferensi internasional posisi Indonesia itu jelas bahwa kita tetap berusaha mendorong [perdamaian] melalui pemerintah, melalui diplomasi parlemen, melalui semua keputusan yang Indonesia ambil," ungkap Puan di sela-sela perhelatan IAPF di Nusa Dua, Bali, Minggu (1/9/2024). Puan menegaskan bawah upaya maksimal akan dilakukan Indonesia untuk misi yang mulia ini, termasuk melalui , kemerdekaan Palestina itu adalah satu hal yang harus dilakukan bagaimana caranya yaitu melalui diplomasi dan negosiasi secara damai.
Dalam sambutan pembukaan acara konferensi Indonesia-Africa Parliamentary Forum (IAPF) Puan memang menekankan isu perdamaian yang harus menjadi perhatian bersama. Selain Indonesia, IAPF dihadiri parlemen dari 20 negara Afrika.
Awalnya, dia menyebut keadaan geopolitik yang memanas memberi dampak langsung pada rakyat di seluruh dunia termasuk Indonesia dan Afrika. Oleh karenanya, dia meminta Parlemen memberikan kontribusi lebih untuk menyelesaikan persoalan-persoalan global.
Akar Masalah Krisis Palestina
Seruan kemerdekaan Palestina di forum internasional tersebut sejatinya terlalu klise. Seruan tersebut tidak sejalan dengan realitas dan kebutuhan Palestina atas krisis yang berlarut-larut di sana serta tidak menyentuh akar masalahnya.
Masalah utama krisis Palestina adalah pendudukan Israel atas wilayah Palestina. Krisis tersebut bermula pada 1897 dari gagasan Theodor Herzl, bapak Zion*s internasional yang menginginkan pendirian negara Yahudi. Menurutnya, semua penindasan terhadap bangsa Yahudi bisa diakhiri jika mereka memiliki negara sendiri. Tambahan lagi, adanya doktrin tentang tanah terjanji, seolah-olah Tuhan telah menyerahkan wilayah Palestina, sebagian Mesir, sebagian Suriah, dan Lebanon yang membentang dari Sungai Nil di Mesir hingga Sungai Eufrat di Irak untuk mereka.
Sejak gagasan itu lahir, sejatinya Herzl dan kaum Zionis telah menyadari bahwa Palestina bukanlah tanah tidak bertuan. Saat itu Palestina berada di bawah kekuasaan Khilafah Utsmani. Melalui Herzl, Zionis mencoba meminta wilayah Palestina kepada Khalifah Sultan Abdul Hamid II, tetapi beliau menolak mentah-mentah. Akhirnya mereka menyimpulkan bahwa cita-cita negara Yahudi hanya bisa terwujud jika pelindung wilayah itu, yakni Khilafah Utsmani, dihancurkan lebih dahulu. Itulah yang kemudian mereka lakukan dan berhasil pada 1924.
Setelah runtuhnya Khilafah Utsmani, terjadilah eksodus besar-besaran komunitas Yahudi dari berbagai wilayah di dunia ke Palestina. Puncaknya pada 1948, atas sokongan Inggris dan PBB, negara ilegal Israel dideklarasikan. Jadi selama entitas Zion*s Yahudi masih ada dan menjajah wilayah Palestina, selama itu pula persoalan Palestina akan terus membara.
Pencitraan di Balik Seruan
Seruan untuk kemerdekaan Palestina saat ini sejatinya tidak lebih dari sekadar pencitraan. Seruan tersebut tidak membawa dampak bagi kebaikan Palestina, juga tidak akan didengar oleh Zion*s. Buktinya, sudah berbulan-bulan seruan dilayangkan oleh dunia internasional, termasuk PBB selaku organisasi global, tetapi nyatanya tidak membawa pengaruh apa-apa. Alih-alih membaik, kondisi Palestina malah memburuk. Wilayah Palestina makin sempit. Rafah, yang tidak lain adalah benteng terakhir kaum muslim di sana ketika seluruh wilayah sudah dikuasai dan dibombardir Zion*s, tetap saja ikut dihancurkan. Jika sudah begini, lantas apa lagi yang hendak diharapkan dari demokrasi kapitalisme?
Solusi tuntas krisis Palestina tidak cukup dengan kecaman dan narasi yang berbusa-busa, apalagi dengan perundingan, perdamaian, maupun solusi dua negara. Sungguh, Palestina membara bukan karena kebakaran, melainkan pembantaian, bahkan genosida. Ini adalah kebiadaban yang nyata.
Sayang, banyak umat yang belum paham tentang hukum syarak untuk menyelesaikan masalah Palestina. Negara-negara muslim yang mengecam pun enggan mengirimkan pasukan militernya, apalagi bantuan politik untuk menegakkan institusi pelaksana syariat Islam kafah. Mereka sibuk dengan kekuasaannya masing-masing. Ini adalah bukti nyata rusaknya kepemimpinan para penguasa negeri-negeri muslim.
Rasulullah saw. bersabda
“Hampir saja para umat (yang kafir dan sesat, pen.) mengerumuni kalian dari berbagai penjuru, sebagaimana mereka berkumpul menghadapi makanan dalam piring.” Kemudian seseorang bertanya, “Katakanlah wahai Rasulullah, apakah kami pada saat itu sedikit?” Rasulullah berkata, “Bahkan kalian pada saat itu banyak. Akan tetapi, kalian bagai sampah yang dibawa oleh air hujan. Allah akan menghilangkan rasa takut pada hati musuh kalian dan akan menimpakan dalam hati kalian wahn.” Kemudian seseorang bertanya, “Apa itu wahn?” Rasulullah berkata, “Cinta dunia dan takut mati.” (HR Abu Daud dan Ahmad).
Berdasarkan hadis ini tidak heran jika seruan untuk kemerdekaan Palestina tidak akan berhasil. Kita mengetahui bahwa di balik Zion*s Yahudi ada negara-negara adidaya Barat yang mendukungnya. Para penguasa di negeri-negeri muslim juga antek Barat, bukan penguasa pembela umat Islam. Jelas mereka mustahil membantu Palestina dengan bantuan militer. Selain karena cinta dunia dan takut mati, kekuasaan para pemimpin negeri muslim itu pun berlangsung atas restu sekaligus di bawah tekanan Barat.
Hakikat Krisis Palestina
Berlarut-larutnya masalah Palestina hingga tidak kunjung terselesaikan semata karena umat Islam di seluruh dunia tidak menerapkan solusi yang benar. Untuk itu, umat wajib memahami hakikat tentang fakta Palestina agar bisa memberikan solusi yang benar. Berikut ini adalah beberapa hakikat tentang fakta Palestina.
Seruan hentikan genosida atau pemusnahan masal di palestina tanpa pengiriman pasukan atau tentara adalah pencitraan belaka.
Kerisis yang terjadi di Gaza membuat sebagian besar Muslim ambigu dalam bersikap di satu sisi mereka begitu marah kepada entitas yahudi dan iba luar biasa pada warga Gaza. Namun di sisi lain ada sebagian dari umat masih berharap pada negara negara Barat. Sikap ambigu ini muncul karena ketidak jernihan melihat krisis Gaza dan Palestina. Terlihat dari seruan seruan ini terbukti
tidak mampu menggentikan serangan Zionis bahkan seruan lembaga internasional yaitu PBB maupun pejabat atau penguasa negri negri muslim tidak sanggup mengentikan agresi serangan tersebut. Bahkan sebagian terang terangan menempatkan diri mereka sebagai antek antek penjaga kepentingan AS dan negara Zionis.
Solusi Islam
Umat Islam harus memiliki metode dan agenda tersendiri untuk memberikan solusi tuntas bagi Palestina, juga negeri-negeri muslim lainnya. Umat Islam tidak membutuhkan forum-forum internasional yang hanya berisi formalitas, tetapi kosong dari persatuan hakiki dan ikatan akidah Islam. Krisis Palestina bukanlah permasalahan lokal di sana, tetapi permasalahan bagi umat Islam seluruhnya karena kaum muslim itu bersaudara.
Allah Taala berfirman, “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara.” (TQS Al-Hujurat [49]: 10).
Juga sabda Rasulullah saw. dalam hadis, “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga (tidak bisa tidur) dan panas (turut merasakan sakitnya).” (HR Bukhari dan Muslim).
Memang benar, solusi tercepat untuk menuntaskan krisis Palestina adalah bantuan berupa pasukan militer oleh negeri-negeri muslim yang terdekat. Namun, akar permasalahannya adalah pendudukan dan penjajahan oleh Zion*s sehingga satu-satunya solusi adalah dengan mengusir penjajah itu kemudian merebut kembali tanah Palestina sebagai wilayah milik kaum muslim. Solusi strategis untuk krisis Palestina adalah dengan tegaknya Khilafah yang akan menjalankan politik luar negeri berupa jihad fisabilillah dalam rangka mengusir Zion*s dari tanah Palestina.
Dan juga Islam membangun ukhuwah atas dasar akidah. Negara berperan penting dalam menanamkan sikap umat terhadap soudara sesama muslim terlebih yang di jajah adalah Palestina.
Tegaknya Khilafah tidak turun dari langit begitu saja sebagai hadiah dari Allah, tetapi harus diperjuangkan dan hal itu menjadi kewajiban umat Islam. Untuk itu, umat Islam harus memiliki pemahaman dan rasa butuh terhadap tegaknya Khilafah sehingga mereka sadar urgensi penegakannya. Mereka harus terus diedukasi dan dibina perihal permasalahan utama di balik keterpurukan dunia Islam, yakni akibat ketiadaan Khilafah. Ihwal tegaknya Khilafah ini harus menjadi kesadaran umum dan opini umum di tengah umat.
Islam juga membina akan kesadaran politik Islam dan juga akan melakukan dakwah dan jihad.
Inilah urgensi keberadaan kelompok dakwah yang tegak di atas landasan ideologi Islam dan berperan mencerdaskan umat dengan ideologi Islam itu sehingga mampu mewujudkan kesadaran umum dan opini umum di tengah-tengah umat terkait dengan penerapan ideologi Islam sebagai ideologi negara. Kekuatan pemikiran Islam yang bersanding dengan thariqah-nya cukup untuk mendirikan Khilafah dan mewujudkan kehidupan yang islami. Jika pemikiran ini telah meresap ke dalam hati, merasuk dalam jiwa, dan menyatu di dalam tubuh kaum muslim, selanjutnya Islam bisa dipraktikkan dalam kehidupan.
Demikianlah teladan dari Rasulullah saw. saat membina para sahabat, yakni dengan memastikan kekuatan pola pikir (akliah) dan pola sikap (nafsiah) mereka sejak proses pembinaan (tatsqif) di Darul Arqam. Kemudian beliau mendakwahi penduduk Makkah dan seluruh bangsa Arab pada musim haji sehingga dakwahnya tersebar ke seluruh penjuru jazirah.
Kemudian dakwah bertolak menuju seluruh bagian dunia Islam lainnya dan setelah itu satu wilayah atau beberapa wilayah dijadikan titik sentral,tempat yang di dalam nya dapat di dirikan Daulah Islam dan menjadi besar dan mengemban risalah Islam ke seluruh dunia seperti yang Rosulullah SAW lakukan yakni beliau menyampaikan dakwahnya kepada seluruh umat manusia.
Wallaahu ta'ala a'lam bi ashshawaab.
Tags
Opini
