Oleh : Bunda Kayyisa Al Mahira
Menag Yakut kembali membuat kegaduhan di tengah masyarakat. Pernyataan kontroversialnya memicu kemarahan umat Islam karena dinilai membandingkan suara azan dan gonggongan anjing. Pernyataan ini disampaikan Yaqut saat menjelaskan soal surat edaran yang mengatur penggunaan toa di masjid dan musala.
Yakut menyatakan “Karena kita tahu, misalnya ya di daerah yang mayoritas muslim. Hampir setiap 100-200 meter itu ada musala-masjid. Bayangkan kalau kemudian dalam waktu bersamaan mereka menyalakan toa bersamaan di atas. Itu bukan lagi syiar, tapi gangguan buat sekitarnya. Yang paling sederhana lagi, kalau kita hidup dalam satu kompleks, misalnya. Kiri, kanan, depan belakang pelihara anjing semua. Misalnya menggonggong dalam waktu bersamaan, kita ini terganggu nggak?”
Pernyataan tersebut sontak menuai kemarahan umat Islam. Berita ini pun sempat menjadi trending topik di beberapa media sosial. Bantahan pun langsung disampaikan Menag Yaqut dengan mengirim siaran pers isinya bantahan yang disampaikan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Biro Humas, Data, dan Informasi Thobib Al Asyhar. Thobib mengeklaim Menag Yaqut Cholil Qoumas tidak membandingkan suara adzan dengan suara anjing. Menurutnya, pemberitaan yang menyebut Menag membandingkan dua hal tersebut sangat tidak tepat. “Menag sama sekali tidak membandingkan suara adzan dengan suara anjing, tapi Menag sedang mencontohkan tentang pentingnya pengaturan kebisingan pengeras suara," demikian rilis Thobib Al-Asyhar yang dikirim Menag Yaqut kepada Republika.co.id, Kamis (24/2/2022).
Menurut Thobib, saat ditanya wartawan tentang Surat Edaran (SE) Nomor 05 Tahun 2022 tentang Pedoman Penggunaan Pengeras Suara di Masjid dan Mushala dalam kunjungan kerjanya di Pekanbaru, Menag menjelaskan hidup di masyarakat yang plural diperlukan toleransi. Sehingga perlu pedoman bersama agar kehidupan harmoni dan tetap terawat dengan baik. Termasuk tentang pengaturan kebisingan pengeras suara apa pun yang bisa membuat tidak nyaman (Republika.co.id, Kamis (24/2/2022).
Saat melihat tayangan video yang disampaikan oleh Menag, publik pun bisa menilai bahwa ada penyamaan suara azan dan suara anjing jika dilakukan dengan bersama-sama akan mengganggu orang lain. Maka hal sungguh sangat tidak layak membandingkan suara azan yang mulia dengan gonggongan anjing.
Azan secara syar’i adalah pemberitahuan masuknya waktu shalat dengan lafazh-lafazh yang khusus. (Al Mughni, 2: 53, Kitabush Shalat, Bab Azan. Dinukil dari Taisirul Allam , 78). Selanjutnya Ibnul Mulaqqin rahimahullah berkata, “Para ulama’ menyebutkan 4 hikmah adzan : (1) menampakkan syi’ar Islam, (2) menegakkan kalimat tauhid, (3) pemberitahuan masuknya waktu shalat, (4) seruan untuk melakukan shalat berjama’ah.” (Taudhihul Ahkam, 1: 513)
Azan memiliki banyak keutamaan. Sebagaimana yang disabdakan oleh Baginda Nabi SAW ”Apabila diserukan azan untuk shalat, syaitan pergi berlalu dalam keadaan ia kentut hingga tidak mendengar adzan. Bila muadzin selesai mengumandangkan adzan, ia datang hingga ketika diserukan iqamat ia berlalu lagi …” (HR. Bukhari no. 608 dan Muslim no. 1267)
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu juga, ia mengabarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ”Seandainya orang-orang mengetahui besarnya pahala yang didapatkan dalam azan dan shaf pertama kemudian mereka tidak dapat memperolehnya kecuali dengan undian niscaya mereka rela berundi untuk mendapatkannya…” (HR. Bukhari no. 615 dan Muslim no. 980).
Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu mengabarkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ”Tidaklah jin dan manusia serta tidak ada sesuatu pun yang mendengar suara lantunan azan dari seorang muazin melainkan akan menjadi saksi kebaikan bagi muadzin pada hari kiamat.” (HR. Bukhari no. 609)
Ibnu ’Umar radhiallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Diampuni bagi muazin pada akhir adzannya. Dan setiap yang basah atau pun yang kering yang mendengar adzannya akan memintakan ampun untuknya.” (HR. Ahmad 2: 136. Syaikh Ahmad Syakir berkata bahwa sanad hadits ini shahih).
Demikianlah kemuliaan azan menurut pandangan Islam. Maka kaum muslimin yang masih memiliki keimanan dan kecintaan pada Islam tentu tidak akan pernah membandingkan azan dengan ngonggongan anjing hewan najis yang jika menyentuhnya saja harus dibersihkan dengan tanah dan air.
Ujaran yang memojokan ajaran Islam ini, bukan yang pertama kali, sebelumnya pernah ada juga pernyataan kontroversial yang dilontarkan oleh seorang tokoh yang membandingkan azan dengan kidung. Hujatan pada syariah dan simbol Islam terus bergulir. Ironisnya dilakukan oleh tokoh dan pemangku kebijakan yang merupakan representasi pemerintah yang seharusnya menjaga agama umat dan memastikan setiap rakyatnya yang memeluk Islam menjalankan aturan agamanya.
Inilah bukti nyata bahwa saat sistem yang diterapkan ditengah-tengah masyarakat bukan sistem Islam melainkan sistem kapitalis sekuler yang liberal, maka pelaksanaan agama tidak didukung oleh negara. Alih-alih didukung malah secara masif ada upaya untuk memojokkan , melemahkan dan menjauhkan umat Islam dari agamanya. Moderasi beragama diaruskan, bahkan islamophobia pun dideraskan di tengah umat. Menyamakan suara azan dan gonggongan anjing yang menimbulkan kebisingan dan merusak keharmonisan inilah buktinya.
Umat Islam saat ini harus waspada dan semakin berpegang teguh pada Islam. Kini tengah berlangsung berbagai upaya untuk melemahkan dan menjauhkan Islam dari umatnya. Umat harus paham dengan agamanya, berpegang teguh dengannya dan yakin bahwa Islam adalah agama yang benar, sempurna dan diridhai Allah SWT. Islam mampu menyelesaikan semua permasalahan kehidupan. Jika Syariat Islam diterapkan secara kaffah niscaya akan membawa kebahagiaan dan keberkahan untuk semua.
Wallahu a’lam bishshawab.
Tags
Opini