Meluruskan Arah Perubahan Menuju Cahaya Islam


Oleh: Nisaa Qomariyah, S.Pd. 

Pengajar dan Muslimah Peduli Negeri



Melihat konstelasi politik dalam negeri akhir-akhir ini membuat masyarakat resah. Berbagai preblematika datang, mulai dari menjelang pemilihan presiden hingga pelantikan presiden, yang rencananya akan diselenggarakan tanggal 20 Oktober 2019. Problematika terus muncul seolah tiada akhir. 


Menolak lupa Tragedi 22 Mei 2019, berbagai elemen masyarakat mendatangi kantor BAWASLU untuk menolak adanya dugaan kecurangan yang dilakukan oleh kubu 01. Sepanjang ruas jalan MH Thamrin telah dipenuhi lautan manusia yang menuntut keadilan. Karena terpilihnya Capres 01 dalam kontestasi pilpres memupuskan arah perubahan yang diidamkan rakyat.

Aksi rakyat menuntut keadilan yang berakhir duka. Delapan orang tewas sebab arogansi aparat. Sementara ratusan orang luka-luka. Sedangkan 50 orang yang dilaporkan hilang ke KOMNAS HAM, belum jelas rimbanya. Menambah catatan buram setelah musibah meninggalnya 700 petugas KPPS. Sedangkan tanda tanya besar siapa yang bertanggung jawab di balik semua tragedi ini, belum juga terjawab sampai sekarang. Namun, kejadian itu malah ditutup begitu saja. Ibarat tidak terjadi sesuatu apapun.


Masalah belum juga usai. Masyarakat dibuat takut dengan adanya peristiwa Wamena Papua. Pada tanggal 23 September 2019 Wamena telah berubah menjadi lautan api dan darah. Sampai detik ini pula masih menyisakan luka, duka , dan tanya. Pembantaian secara sadis dan tak bermanusiawi telah di ekspos secara telanjang. Banyaknya manusia berjatuhan meninggal dunia. (law-justice.co, 30/09/2019 ).

Dilansir tribunnews.com, 26/09/2019, seorang dokter umum bernama dr. Soeko Marsetiyo yang bersedia meninggalkan keluarganya di Yogyakarta untuk melayani masyarakat pedalaman Papua selama 5 tahun terakhir, menjadi salah satu korban tewas kerusuhan Wamena, Kabupaten Jayawijaya. Selain itu, terdapat pula seorang dokter Muslimah yang diperkosa beramai-ramai, kemudian dihabisi dengan cara dibelah kepalanya dengan kapak. Sungguh sadis dan biadab!


Ironis. Tragedi berdarah di Wamena ditanggapi dengan lambat oleh pemerintah. Penguasa hanya menghimbau kepada semua pihak untuk tidak memprovokasi peristiwa kerusuhan di Wamena Papua menjadi konflik etnis. Peristiwa tersebut pun seolah dibuat tenggelam dengan pemberitaan media mainstream, yang lebih suka mengarahkan isu ke panggung kepalsuan di Senayan dan jelang pelantikan presiden. Padahal semestinya pemerintah mencurahkan segenap perhatian terhadap konflik di Papua, agar cepat mereda dan segera tuntas.


Dari rangkaian episode buram fenomena politik, semestinya umat semakin terbuka mata dan hatinya. Bahwa demokrasi tak mengantarkan pada cita-cita perubahan yang diharapkan rakyat. Tak ada keamanan dan kesejahteraan bagi rakyat. Sebaliknya menjadi alat untuk memenuhi kepentingan para elit dan kapitalis di negeri ini. Semata-mata demi melanggengkan syahwat kekuasaannya. 

Paradigma politik demokrasi memandang politik sebagai ajang untuk mengeruk materi dan melanggengkan syahwat kekuasan. Demokrasi hanya menjadikan rakyat dan isu-isu Islam sebagai kuda tunggangan bagi para pemburu kekuasan. Hanya jabatan dan kedudukan tinggi yang dicapai tanpa peduli bagaimana kondisi rakyat. Padahal rakyat membutuhkan solusi pasti bukan janji palsu.


Padahal sebenarnya berpolitik adalah aktivitas mulia. Dalam pandangan Islam politik adalah mengurusi urusan rakyat, mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi. Akidah Islam sendiri merupakan pemikiran politik. Dan Islam adalah agama yang bersifat politik. Hal ini karena Islam mengatur seluruh interaksi baik antara hamba dan Al-Khaliq, mengatur pemenuhan kebutuhan dasar dan naluri manusia, mengatur interaksi manusia dengan sesama manusia, dan mengatur interaksi manusia dan alam sekitarnya. Mulai dari level individu sampai level negara dalam seluruh aspek kehidupan.


Politik Islam inilah yang akan membentuk kesadaran umat tentang pentingnya Islam sebagai solusi dari seluruh problematika negeri ini. Sebab melihat kondisi hari ini, jelas hanya Islam yang mampu mengantarkan rakyat menuju perubahan hakiki. Hanya Islam yang mampu menyelamatkan negeri dari krisis dan konflik.

Maka, saatnya umat  Islam bersatu untuk keluar dari jeratan sistem demokrasi yang sudah lama menyelimuti. Bersatu dan bergerak menyampaikan ke tengah umat bahwa hanya sistem Islam yang dapat menuntaskan problematika umat. Meyakinkan memang hanya aturan Allah Ta'ala yang dapat  membebaskan rakyat dari cengkeraman sistem demokrasi. Dan menjadikan Islam sebagai satu-satunya sistem paripurna yang sudah dirindukan umat sejak lama. Seperti firman Allah Ta'ala dalam QS. Ali-Imran: 85 yang artinya:

“Barangsiapa yang mencari selain Islam sebagai ad-Din (sistem dan aturan hidup), maka Allah tidak akan terima, dan di akhirat kelak dia akan menjadi orang yang merugi.”

Wallahu a’lam bi ash-shawab.  


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak