Oleh: Dian Puspita Sari*
Sobat muda yang dirahmati Allah, pasti sudah pada tahukan, kalau Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang tercinta ini bakalan pindah ke Kalimantan? Yups, tepatnya di provinsi Kalimantan Timur yaitu wilayah Kabupaten Penajam paser Utara dan sebagian wilayah Kutai Kertanegara. Meskipun rencana ini sebenarnya menerima banyak kritikan dari para tokoh, sampai saat ini Pak Presiden masih menetapkan untuk tetap pindah.
Dengan kata lain,fix Kal-tim bakal jadi the next Metropolitan City, sebagaimana yang diberitakan di channel youtube suara.com pada tanggal 26 Agustus 2019 yang lalu.Huuuffhh
Bagaimana dengan respon dari 250 juta rakyat Indonesia terkait pemindahan Ibukota ini? Kalau sobat muda mengikuti beritanya pasti tahu deh, tanggapannya macam-macam. Ada yang senang banget dengar Ibukota pindah ke Kalimantan. Alasannya sih biar ada pemerataan pembangunan dan ekonomi gitu. Eemm katanya juga, biar bisa mengurangi beban Jakarta yang sudah carut marut dengan segala permasalahan dan polusinya.
Tapi, selain itu juga ada lho masyarakat yang menilai sebaliknya. Ada yang merasa khawatir dan takut dengan dampak lingkungan ataupun kerusakan moral yang bakal terjadi kalau Kalimantan jadi Metropolitan. Ada juga yang meragukan kesiapan Kalimantan sebagai Ibukota. Baik dari segi tatakota dan atau yang lainnya. (detiknews.com, 27/08/2019)
Selain itu ternyata ada juga para ahli yang menilai bahwasanya saat ini nggak urgent buat Indonesia pindah Ibukota. Sebab, menurut mereka masih banyak sekali urusan negeri ini yang jauh lebih urgent dan harus segera diselesaikan. (liputan6.com). Bener juga ya. Misalnya aja Papua yang sedang membara. Korupsi yang merajalela sampai kasus kriminalitas remaja yang nggak luput menghiasi berita dan masih banyak lainnya.
Ada lagi nih Sob yang nggak kalah penting. Banyak pihak mempertanyakan kenapa Ibukota meski dipindah? Padahal siapapun tahu pindahan itu pasti perlu biaya. Pindah rumah aja biayanya nggak sedikit. Apalagi pindah ibukota. Sedangkan faktanya, saat ini situasi keuangan negara kita selalu defisit alias besar pasak daripada tiang.
Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) selalu tekor. Utang luar negeri yang terus-terusan numpuk. Imbasnya, masyarakat dipalak dengan pajak. Sedih kan? Sudahlah cari makan aja susah, masih nanggung beban negara. Terus sekarang beban itu mau ditambah dengan proyek pindahan yang sejatinya belum diperlukan.
Sebagai generasi bangsa ini, tentu kita nggak boleh tutup mata pada masalah ini. Remaja keren itu adalah remaja yang peduli urusan bangsanya. Dan harusnya berada di garda depan, sebab remaja hari inilah yang akan melanjutkan estafet kepemimpinan negeri ini di masa datang. Karenanya remaja kudu melek politik sejak sekarang.
Suatu saat sobat muda-lah yang bakal menggantikan posisi para pemimpin kita hari ini. Dan nggak mungkin bisa menjadi membawa negeri ini menjadi lebih baik kalau nggak belajar dari sekarang. Catet ya Sob!
Karenanya dari sekarang jadilah remaja yang selalu update dengan kondisi negeri ini dan nasib umat secara umum. Lalu belajar menganalisa fakta plus mencari solusi untuk mengatasi semua masalah yang terjadi dan menjadikan negeri ini lebih baik nantinya.
Sebagai remaja muslim, khususnya yang domisili seputaran Kalimantan tentunya tidak boleh merespon masalah perpindahan ini sebagaimana remaja alay. Hanyut dalam euforia gemerlap ibukota dengan berbagai konser musik dan dunia hiburan lainnya. Larut dalam mimpi bisa shoping sana-sini di mall-mall tinggi dan bergengsi. Dan berkhayal hidup serba mudah dengan infrastruktur yang serba wah. Sadarlah wahai sobat, hidup nggak sesederhana itu.
Sebab kalau kita mau mencermati, sebenarnya ada banyak kepentingan dan perselingkuhan antara penguasa dan pengusaha dalam proyek ini. Pemerataan ekonomi dan pembangunan yang dijadiin alasan itu cuma bakalan dirasain sama sebagian kecil masyarakat aja. Sisanya, ya kayak di Jakarta. Sebab, ada benarnya juga ungkapan "Ibukota lebih kejam daripada ibu tiri". Luarnya aja keliatan manis, ujung-ujungnya menyiksa juga kan.
Berbagai analisa politik terkait rencana ini pun sudah banyak disampaikan. Lagi, lagi dan lagi aroma kapitalisme-lah yang tercium nyata dari rencana pemindahan Ibukota ini. Bahkan nggak cuma pemain lokal, pemain internasional pun ada. Proyek One Belt One Road OBOR Cina salah satunya. (portalmakassar.com, 27/08/2019)
So, buat para remaja yang ngaku “aku cinta Indonesia”, ayo segera kaji Islam lebih mendalam. Karena cuma dengan mengkaji Islam pikiran kita bakal cemerlang. Bisa jadi remaja yang bukan cuma kebanggaan orangtua, tapi juga bangsa dan agama. Menjadi remaja agen perubahan.
Remaja yang bisa memahami bahwa beban berat negeri kita tercinta ini nggak akan berkurang cuman dengan pemindahan Ibukota. Mampu membaca akar masalah yang ada pada kesalahan sistem yang diterapkan. Maka sejatinya sebelum memutuskan pindah ibukota, sistem negeri inilah yang harusnya dihijrahkan. Dirubah dari sistem sekuler kapitalis buatan para penjajah pada sistem pemerintahan Islam ciptaan Allah subhanahu wata’ala.
Wallahu'alam bisshawwab []
*) Founder dan Koordinator Komunitas Remaja Shalihah (KRS) Kab. Banjar, Warga Pekauman Ulu Martapura, Kalimantan Selatan