Bendera Tauhid Membentang Rezim Meradang



Oleh. Reni Tresnawati 



Beberapa waktu lalu, viral sebuah foto yang diduga siswa-siswi Madrasah Aliyah Negeri 1(MAN 1) Sukabumi, sedang membentangkan bendera tauhid Ar-Rayah dan Al-Liwa dan bendera merah putih di lingkungan sekolah. Salah satu pengunggah foto itu adalah milik akun @Karolina_beell. Dalam unggahannya Karolina mengatakan khawatir jika sekolah negeri di bawah Kementerian Agama (Kemenag) terafikasi penegakan Khilafah. 


Hingga saat ini, foto siswa-siswi yang membawa bendera itu masih ramai dibicarakan. Sehingga foto tersebut menjadi sorotan Ace Hasan Syadzlly, anggota Komisi VIII DPR, yang membidangi bidang keagamaan dan bermitra dengan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin. Ace langsung mention Menteri Agama (Menag) di cuitannya. 


Ace meminta agar segera di klarifikasi tentang penggunaan atribut bendera tauhid ini. "Seharusnya madrasah, apalagi yang di kelola Kemeneg RI harus mengedepankan semangat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari pada penggunaan bendera yang identik dengan organisasi terlarang". 


Dan cuitannya Ace pun langsung ditanggapi Kementerian Agama (Kemenag). Lukman pun dengan sigap mengadakan investigasi. Mengerahkan tim khusus untuk meminta penjelasan terkait telah dikibarkannya bendera tauhid. (Tempo.com, 21/7/19).


Pengerahan tim khusus yang dilakukan Kementerian Agama (Kemenag) dirasa mengada-ada. Sepertinya Indonesia darurat radikalisme. Padahal, mestinya pemerintah bangga, bahwa telah ada yang menyosialisasikan bendera tauhid. Sebagai umat Muslim, sudah sepatutnya mendukung aksi para pelajar tersebut yang sudah berani mengibarkan bendera Ar-Rayah dan Al-Liwa.


Di tengah-tengah kekisruhan orang yang selalu mempermasalahkan bendera tauhid. Pemerintah seharusnya membuat adem rakyatnya, bukan malah tambah membuat kisruh di masyarakat. Sangat disayangkan, rezim hari ini begitu bencinya terhadap agamanya sendiri (Islam). 


Islamophobia telah menghantui mereka. Dengan sikap Menteri Agama seperti itu, menandakan bahwa itu semua dibuat untuk kepentingan pemerintah saja. Bukan untuk kepentingan umat Islam secara utuh. Dengan sikap Menteri Agama yang memperlihatkan kesigapan dalam menanggapi masalah pengibaran bendera tauhid. Menunjukkan sikap mencari muka, agar disebut loyal kepada pemerintah. 


Saat ini rezim yang berkuasa mengakomodinir kepentingan Islamophobia. tentu saja semua instansi di bawahnya harus ikut kebijakannya jika ingin disebut pihak yang loyal. Jadi masalahnya loyalitas pada jabatan, bukan pada agama dan umat. Bendera tauhid yang menjadi kebanggaan umat Islam, dipersekusi. Dicap radikal. 


Padahal, setiap mereka salat tulisan tauhid yang ada di bendera itu, mereka ucapkan dengan khidmat. Namun, ucapannya hanya di lisan saja. Tidak diaplikasikan dalam perbuatannya. Ketika mereka mati pun tulisan tauhid dipakai sebagai penutup keranda, sewaktu mereka menjadi mayat. Tetapi mereka tidak sadar akan hal itu. 


Sebagai umat yang beragama (Islam), harusnya antara lisan dan perbuatan itu sama. Sama-sama menunjukkan kebanggaan dan kekaguman terhadap Panji Rasulullah. Mereka pun harusnya sadar dengan tulisan tauhid itu yang akan menghantarkan mereka kepada sang Pencipta sebagai pengiring terakhir. 


Mestinya mereka mencintai, menjaga dan membela kesucian bendera Rasulullah dari orang-orang zalim dan musuh-musuh Islam, yang akan menghancurkan ajaran-ajaran Islam secara kaffah. Wallahu'alam bisowab. 



*(Ibu dan Pemerhati Generasi) 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak