Oleh : Radhiatur Rasyidah, S.Pd.I (Anggota Akademi Menulis Kreatif & Pemerhati Generasi)
Viral, pro-kontra film Dua Garis Biru yang lolos sensor untuk tayang di bioskop-bioskop Indonesia. Film ini mengisahkan tentang percintaan tak halal oleh dua anak manusia yang masih remaja. Hingga akhirnya terjadilah kehamilan di luar nikah.
Sekilas itu hanyalah kisah biasa, namun efek dari itu sangat luar biasa. Bagaimana tidak, kawlamuda merasa itu bagian dari cerita mereka yang memang sudah jamannya. Merekapun merasa seolah menjadi tokoh utama.
Di sisi lain, para orang tua juga ada yang menganggap film itu layak jadi tontonan anak-anak agar mereka tahu hal apa saja yang harus dihindari. Dengan begitu, kejadian hamil diluar nikah dapat dihindari.
Lantas, apa maksud munculnya film itu? Apakah dengan adanya film tersebut generasi menjadi tercerahkan untuk tidak melakukan pelanggaran-pelanggaran terhadap syariat? Jawabnya tentu tidak. Justru dengan adanya penayangan film tersebut, generasi akan menjadi semakin tertantang untuk melakukan hal-hal yang dilarang.
Katanya film ini sarat dengan sex's education. Dengan begitu maka generasi akan mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan dapat dijadikan pedoman bagi hidup mereka. Namun nyatanya, bisa jadi justru fakta pergaulan bebaslah yang akhirnya mereka telan mentah-mentah tanpa ada filter yang kuat. Walhasil, apakah layak langkah-langkah menuju perbuatan yang diharamkan dikampanyekan?
Sangat disayangkan, film yang menuai kontroversi ini, akhirnya tayang di bioskop mulai Kamis, 11 Juli 2019. Bahkan ternyata di kota idaman (Banjarbaru) pun akhirnya menayangkan film tersebut pada Ahad, 14 Juli 2019. Sungguh benar-benar membuat hati miris dan pilu.
Persoalan pada film ini bukan hanya soal ada atau tidaknya sex's education. Lebih dari itu, film ini menyangkut tentang untung dan rugi para Kapitalis. Wajarlah bila para Kapital menggunakan berbagai macam cara agar untung itu terus berada di sisi mereka. Tak masalah jika ada sisi lain yang dikorbankan, yaitu generasi muda.
Terbersit dalam pikiran kita, mengapa persoalan ini marak terjadi? Jika sebelumnya ada pro-kontra terkait dengan film Dilan yang sarat akan percintaan para pemudanya. Mengapa sekarang kembali terjadi peristiwa itu? Tidak lain, masalah ini akan terus terjadi karena sistem yang bercokol saat ini.
Liberalisme, sekulerisme dan kapitalismelah yang kemudian menjadi pangkal dari semuanya. Dengan adanya liberalisme maka orang bebas dalam hal mengutarakan pendapat serta pikirannya. Bahkan menuangkannya dalam bentuk sebuah film menjadi sah-sah saja. Ditambah lagi dengan tidak adanya pondasi yang kuat yaitu aqidah Islam maka tidak ada pembeda lagi mana yang benar dan salah. Semua dianggap benar, walaupun sejatinya hal tersebut malah bertentangan dengan syariat Islam.
Kemudian ditambah lagi dengan siapa yang punya modal, maka merekalah yang seolah memiliki dunia. Semakin komplit lagi dengan adanya pemisahan agama dari kehidupan. Sehingga mereka tak merasa bersalah dengan rusaknya anak bangsa. Bagi mereka yang penting bisa menumpuk banyak harta.
Sekularisme dan liberalisme menyuburkan kerusakan mental dan menghancurkan generasi secara massif. Hanya sistem Islam yang mampu melindungi generasi dari kerusakan media dan pergaulan bebas secara komprehensif.
Pokok-pokok pendidikan seks(sex education) dalam Islam secara praktis yang bisa diterapkan pada anak sejak dini yang dikutip dari tulisan Zulia Ilmawati, Psikolog Pemerhati Masalah Anak dan Remaja dalam tulisannya Pendidikan Seks Untuk Anak-anak:
1. Menanamkan rasa malu pada anak
2. Menanamkan jiwa maskulinitas pada anak laki-laki dan jiwa feminitas pada anak perempuan.
3. Memisahkan tempat tidur mereka
4. Mengenalkan waktu berkunjung (meminta izin dalam 3 waktu)
5. Mendidik menjaga kebersihan alat kelamin.
6. Mengenalkan mahram-nya.
7. Mendidik anak agar selalu menjaga pandangan mata.
8. Mendidik anak agar tidak melakukan ikhtilât.
9. Mendidik anak agar tidak melakukan khalwat.
10. Mendidik etika berhias.
11. Ihtilâm dan haid.
Itulah beberapa poin tentang pendidikan seks pada anak yang bisa dilakukan sebagai pembiasaan sehari-hari. Tentunya tanpa harus memberikan tontonan yang malah menjerumuskan mereka ke dalam pergaulan bebas. Hanya dengan menerapkan sistem Islam maka semua bisa berjalan dengan baik. Dan mampu menjaga tatanan keluarga, anak, remaja dan hal lain sesuai dengan perintah dan larangannya Allah SWT. Semoga Islam dapat diterapkan dengan segera agar perisai ummat ini kembali terwujud.
Wallahu a'lam bisshawab.
Tags
Opini
