Bawang Merah Naik Bikin Emak-emak Marah

Oleh Verawati S.Pd

(Praktisis Pendidikan dan Pengarus Opini Islam)


Menurut Informasi pangan Jakarta (IPJ) Perhari Rabu 10 April 2019 harga bawang merah tertinggi 60 ribu rupiah di pasar Pos dan terendah 25 ribu di Senen Blok III-IV. Kenaikan ini sudah hampir berlangsung satu bulanan. Namun belum ada tanda-tanda penurunan harga, dalam kondisi seperti ini keberadaan bawang merah pun semakin langka dan kualitasnya juga menurun. 


Tidak hanya bawang merah yang mengalami kenaikan bawang putih pun demikian. Menurut Deputi Pangan dan Pertanian Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Musdalifah Machmud harga bawang putih saat ini mengalami kenaikan. Bahkan, badan pusat statistik (BPS) mencatat harga bawang mencapai Rp 48 ribu per kilogram (kg). "Harga bawang tinggi, lagi naik harganya Rp 45 ribu kalau BPS catat itu Rp 48 ribu rata-rata," katanya kepada). Pemerintah menugaskan Perum Bulog untuk mengimpor 100 ribu ton bawang putih. Hal itu dilakukan karena harga mengalami kenaikan. detikFinance.com Jumat (22/3/2019)


Tentu, kenaikan dua pokok bumbu dapur ini bikin Emak-emak marah dan gerah. Terlebih akan menghadapi bulan suci Ramadhan. Bisa dipastikan barang-barang kebutuhan yang lainpun akan ikut naik. Nah...Kenaikan barang-barang seperti ini kerap terjadi dan terus berulang. Beberapa tahun yang lalu harga cabai menembus 100 rb/kg. Apa sebenarnya akar permasalahnnya dan apa solusinya? Akankah kita terus dicekoki dengan kata “wajar”, “ sudah jadi tradisi menjelang Ramadhan”. Benarkah demikian ?


Apa yang terjadi pada kenaikan harga bawang merah dan bawang putih adalah buah sistem kapitalisme yang diemban saat ini. Sistem kapitalisme terlihat nyata pada sistem ekonominya yaitu kapital ( pemilik modal ). Asas ekonomi kapitalisme yang sudah membenak adalah meraih keuntungan materi semata, semboyannya yaitu “dengan modal yang sekecil-kecilnya mendapatkan untung yang sebesar-besarnya”. Dengan asas dan semboyan itulah mereka menjadikan harga sebagai menilai suatu barang dan metode distribusi kekayaan serta pendorong laju produski. 


“ Para ahli ekonomi Barat berpendapat bahwa harga (price) adalah pendorong laju produski, karena yang mendorong manusia untuk mencurahkan jerih payahnya adalah imbalan kompensasi (reward) yang berupa materi. (Syeh Taqiyuddin An-Nabhani dalam buku sistem ekonomi Islam). Padahal kenyataannya tidak. Allah swt lah yang telah menciptakan kekayaan alam ini untuk manusia gunakan. Seperti air, tanah, gas, api dan lain-lain. Bukan semata-mata hasil jerih payah manusia. karena itu sudah tersedia di alam.


Di negeri kapitalis, kekuasaan para konglomerat demikian nyata, demikian juga dominasi pengusaha atas konsumen. Misal adanya para kartel yang menguasai komoditas barang tertentu. Misal di Indonesia ada kartel bawang putih. Merekalah yang berkuasa menetukan harganya. Hal ini diungkapkan juga oleh Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Viva Yoga Mauladi menduga harga bawang putih yang meningkat drastis karena ulah permainan kartel yang ingin meraup keuntungan besar. “Potensi permainan kartel pasti ada,” kata Viva usai menerima asosiasi pedagang bawang putih di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa ( jpnn.com 11/4/2019). sejatinya para kartel itulah yang menentukan harga, bukan pasar ataupun keridhoan penjual dan pembeli. 


Kata “Wajar” harga naik sesungguhnya adalah pendapat para kapitalis yang hanya mementingkan keuntungan materi semata. termasuk penguasa kita pun sering mengatakan demikian. Para ekonom kapitalis juga menjadikan harga sebagai metode distribusi kekayaan. Sehingga kita jumpai barang dengan kelas-kelas yang berbeda. Tentunya si miskin hanya akan mengakses kelas bawah, beras paling jelek, pendidikan paling rendah dan pelayanan kesehatan seadanya dan sebagainya. Berbeda dengan si kaya, mereka akan menikmati kelas yang paling bagus bahkan mewah. Akhirnya kita akan paham kenapa para menteri sering ngomong ” daging mahal, makan keong saja”, “ kalau mau makan cabe ya tanam sendiri” dan lain sebagainya karena cara pandang mereka adalah kapitalis. Akhirnya inilah fakta yang terjadi yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. 


Islam menyejahterakan individu per individu


Islam memandang bahwa peran negara yang paling utama berkaitan dengan ekonomi adalah pemenuhan kebutuhan-kebutuhan pokok masyarakat individu per individunya secara sempurna. Berikut kemungkinan kebutuhan sekunder dan tersier sesuai dengan kesanggupannya. Kisah yang populer adalah dari Khalifah Umar bin Khattab. beliau sering malam-malam berkeliling melihat kondisi masyarakatnya, karena khawatir ada yang tidak bisa memenuhi kebutuhan pokoknya. Betul saja ada keluarga yang belum makan. Maka pada saat itu juga Khalifah langsung membawakan sekarung gandum yang dipikulnya sendiri. inilah bukti bahwa Islam menjamin pemenuhan kebutuhan pokok individu perindividu bukan berdasarkan pada ketersediaan barang saja.


Selain itu, negara akan berupaya untuk memenuhi dengan menerapkan berbagai kebijakan. Seperti terkait dengan hak milik individu, umum dan negara. Islam juga mendorong terjadinya usaha salah satunya dengan menghidupkan tanah mati. Sedangkan dalam hal harga Islam menyerahkan dengan mekanisme pasar yang betul-betul dijaga. Islam melarang beredarnya barang haram, melarang penimbunan, monopoli, praktek kecurangan, penipuan dan spekulasi. Jadi Islam sangat mendorong perdagangan namun mencegah terjadinya liberalisasi perdagangan.


Terdapat riwayat yang menceritakan tentang pasar. Pada zaman Rasulullah Saw, harga-harga pernah mengalami kenaikan sangat tinggi. Orang-orang lalu berseru kepada Rasulullah." Wahai Rasulullah, tentukan lah harga untuk kami," Rasulullah lalu menjawab, " Allah-lah sesungguhnya penentu harga, penahan dan pembentang dan pemberi rezeki" sesungguhnya aku berharap agar bertemu kepada Allah tidak ada seorang pun yang meminta kepadaku tentang adanya kezaliman dalam urusan darah dan harta" ( HR Ashabus Sunan)


Berdasarkan hadits tersebut, mayoritas ulama sepakat bahwa negara haram ikut campur dalam menentukan harga. Tugas negara adalah menjamin berlangsungnya mekanisme pasar dengan baik. sehingga kenaikan yang harga tidak dianggap wajar atau tradisi karena negara akan membantu untuk penyediaan barang-barang. inilah sistem ekonomi dalam Islam. tentu sistem ekonomi ini tidak bisa dilepaskan dari sistem-sistem yang lain dan tidak akan bisa diterapkan melaikan harus terwujudnya Pemerintahan Islam yaitu Daulah Khilafah. Sistem yang diridhai Allah sehingga kesejahteraan umat akan terwujud.


Sebagaimana firman Allah swt dalam Surat Al-A'raf ayat 96 menyebutkan, "Jikalau sekiranya penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi jika mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya".


Wallahu’alam bishoab

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak