Teroris Brutal Beraksi Fatal

Teroris Brutal Beraksi Fatal

                   

                              Oleh: 

                   Rizka Agnia Ibrahim


Masih terasa hangat, kabar duka yang menjadi pengobar kemarahan dan sekaligus penyulut semangat untuk menyadarkan umat. Kesedihan yang tak terkira menyelimuti hati kaum Muslimin di seluruh dunia. Korban yang tewas membuat nyali nyaris tak waras, ingin sekali membalas ulah teroris bengis dan brutal.

Seperti dilansir Reuters, Jumat (15/3/2019), Komisioner Kepolisian Selandia Baru, Mike Bush, dalam konferensi pers menyebut korban tewas dalam serangan teroris untuk dua masjid di Christchurch, New Zealand (Selandia Baru) itu mencapai 49 orang, penembakan brutal tersebut itu ‘direncanakan sangat matang’. Perdana Menteri (PM) Jacinda Ardern telah menyebut penembakan brutal ini sebagai ‘serangan teroris’ dan mengecamnya.

Bush menjelaskan bahwa 41 orang tewas dalam penembakan di Masjid Al noor, Deans Ave, kemudian 7 orang lainnya tewas di sebuah masjid pinggiran Linwood, dan 1 orang tewas saat dirawat di rumah sakit. Pelaku terdiri dari 4 orang, 3 pria, dan 1 wanita, telah ditangkap otoritas setempat terkait pembantaian ini. Salah satu pelaku penembakan sempat menyiarkan aksi brutalnya via layanan live streaming di internet. Direkam melalui kamera yang dipasang pelaku pada helm yang dipakai pelaku. Durasi 17 menit tersebut kemudian dihapus dari internet oleh otoritas Selandia Baru.

Pelaku menyebut namanya sebagai Brenton Tarrant. Mengarah pada seorang pria kulit putih berusis 28 tahun kelahiran Australia. Nama tersebut pula yang mengarahkan pada akun Facebook bernama ‘brenton.tarrant.9.’ dan akun Twitter bernama @brentontarrant, yang memosting foto senapan dan perlengkapan militer yang ditulisi nama-nama juga pesan terkait nasionalisme kulit putih. Senapan yang sama sempat terlihat dalam siaran live streaming pelaku penembakan masjid di Christchurch. Bahkan akun facebook-nya mengarahkan pada unggahan manifesto setebal 87 halaman yang dipenuhi pandangan anti-imigran dan anti-Muslim.

Selain tragedi itu, ada kabar yang tak kalah membuat kaum Muslimin geram dan marah. Senator Australia Fraser Anning memberikan sebuah statemen, terkait pembantaian, yakni menyalahkan imigran Muslim yang menjadi penyebab aksi teror tersebut. Senator tersebut memang cukup dikenal sangat kontroversial, menyebut penembakan massal yang dilakukan Brenton Tarrant dan pelaku lain itu menyoroti meningkatnya ketakutan atas bertambahnya keberadaan Muslim. Anning yang mewakili negara bagian Queensland di Senat Australia itu, berkomentar lewat serangkaian cuitan di Twitter.

“Penembakan hari ini di Christchurch menyoroti ketakutan yang berkembang dalam komunitas kita baik di Australia maupun Selandia Baru atas meningkatnya keberadaan Muslim,” tulisnya dalam cuitan lain.

Jacinda Ardern mengecam pernyataan Anning, menurutnya komentar tersebut sangat memalukan. Pernyataan Anning pun memicu aksi nekat seorang remaja berusia 17 tahun bernama Will Connolly, ia mengepruk kepala Anning yang sedang diwawancara media dengan menggunakan telur hingga pecah berantakan di kepala dan pakaian Anning.

Ucapan Anning pun telah memicu reaksi hingga lahirnya petisi yang saat ini sudah ditandatangani oleh hampir satu juta orang. Petisi tersebut berjudul ‘Remove Fraser Anning from parliament’.

Sesungguhnya aksi teroris brutal ini bukanlah kali pertama menghantam kaum Muslimin. Dunia Barat yang memilih geming tak memberi keadilan. Sungguh ini pembantaian yang berulang. Suriah dibiarkan terus berdarah, Palestina yang diabaikan dalam hina, dan Rohingya ditindas tanpa daya, bahkan hilang nyawa demi nyawa. 

Barat membisu bahkan untuk kejadian Selandia Baru. Berbeda halnya saat kaum kafir yang menjadi korban, corong tuduhan begitu cepat mengarah pada Islam, tanpa perlu meneliti lebih dalam, mereka memastikan teroris ada di kubu Islam. Hal yang semakin ironis, saat pemimpin Muslim di dunia pun memilih bungkam tanpa berjuang memberi perlindungan pada kaum Muslimin. Mereka merasa nyaman dengan sekat-sekat yang ada. Senjata tak lagi berguna, karena tak ada komando untuk bergerak menuntaskan terorisme nyata yang ditodongkan kepada umat Muslim di seluruh dunia.

Entah berapa volume darah yang akan tercurah, ketiadaan Khilafah membuat kita terus terluka, tertindas kebiadaban penjajah. Tak ada penyeru jihad yang bisa membulatkan tekad agar umat bersatu melawan kezaliman yang terjadi. 

Peristiwa Selandia Baru mengingatkan kita pada sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Sesungguhnya al-Imam (khalifah) itu (laksana) perisai, di mana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasan)nya. Jika seorang imam (khalifah) memerintahkan takwa kepada Allah ‘Azza wa jalla dan berlaku adil, maka dia (khalifah) mendapatkan pahala karenanya, dan jika dia memerintahkan selain itu, maka ia mendapatkan siksa.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, An-Nasa’i, Abu dawud, Ahmad)

Sudah saatnya khilafah kembali tegak agar ruang aman bagi kaum Muslimin bukan sekadar impian, akan tetapi harapan nyata yang bisa mengokohkan keimanan dan juga persatuan umat di seluruh penjuru dunia.

Wallahu a’lam


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak