Oleh : Citra
Bukan untuk pertama kalinya saya melihat kesakitan suami ketika dirawat di Rumah Sakit. Rasanya sudah 4 atau 5 Rumah Sakit yang suami sudah kunjungi untuk perawatan, tapi untuk yang sekarang suami saya sudah begitu kesusahan menanahan penyakitnya. Nafasnya tidak bisa lepas dari alat bantu. Yang terucap dari lisan yang kian melemah hanya kata maaf untuk saya dan anak anak. Saya sering menguatkan beliau dengan candaan, "Gak usah minta maaf ayah. Kita juga sama kok, banyak dosa. Ayo semangat yah", beliau hanya mengangguk terdiam. Padahal dalam hati saya menangis, saya menjerit. Ya Allah, saya tidak tega melihat kepayahan suami. Sampai akhirnya, malam itu, saat tubuh saya terasa lemah, tidak sanggup untuk bermalam di RS, saya putuskan untuk pulang sejenak. Panggilan dari mertua yang meminta saya segera datang ke RS menimbulkan berbagai prasangka. Ketika sampai di RS, semuanya menyapa dalam keadaan bercucuran air mata. Apa yang saya khawatirkan terjadi. Mata pun tak lagi meneteskan airmatanya. Rasa tidak percaya dan penolakan menghantui saya. Saya yakin suami saya tidak apa-apa.
Apalah daya, Allah berkendak lain. Allah lebih sayang suami saya. Allah panggil beliau ke sisi-Nya. Pikiran dan perasaan saya campur aduk, tak tentu arah. Bagaimana nasib saya dan anak-anak ke depannya sepeninggal suami? Bagaimana ini, bagaimana itu, semua berkemelut dalam diri.
Saya lupa, Allah yang mengurus kami. Allah yang menjamin kehidupan kami. Astagfirullah, ampuni kami ya Allah.
Hari berganti minggu dan bulan, Allah kuatkan saya dan anak-anak untuk menyapa masa depan. Menjalani hari-hari dengan semangat dan gairah yang baru. Saya menyadari bahwa selama ini saya telah salah, bergantung pada suami. Padahal, seharusnya Allahlah satu-satunya yang pantas untuk dijadikan tempat bergantung. Semakin kuat tekad hijrah saya untuk memperbaiki diri. Dengan harapan kelak Allah kumpulkan kembali saya dan keluarga di surga-Nya, nanti.
Merenungkan kisah hidup saya, saya teringat akan sosok amirul mukminin Umar bin khothob yang sangat memperhatikan nasib seorang istri yang ditinggal suaminya.
Kisah Umar itu amat terkenal, dan banyak menjadi panutan bagi para pemimpin sesudahnya. Umar memang dikenal sebagai khalifah yang amat memperhatikan rakyat.
Di masa itu, tengah terjadi masa paceklik. Dan Umar tidak tinggal diam, dia pantang makan makanan yang enak seperti daging dan susu hingga ada rakyatnya yang tidak kelaparan.
Umar juga rajin berkeliling melihat kondisi rakyatnya, apabila ada yang kekurangan makanan dia segera mengirimkan bahan makanan dari gudang.
Hingga pada suatu malam, Khalifah Umar dengan ditemani sahabatnya, kembali melakukan penyamaran dan blusukan ke perkampungan warga. Di suatu tenda, dia mendengar rengekan anak kecil dan seorang ibu yang sedang memasak.
Umar bersama sahabatnya memperhatikan dari jauh. Si ibu masak lama sekali, mengaduk-aduk panci. Tak lama si anak tertidur, rengekan pun hilang dibawa lelap.
Umar kemudian menghampiri si ibu dan menanyakan soal masakan yang dia masak. Si ibu bertutur, kalau dia memasak batu dan hanya sebagai alasan menunggu anaknya yang kelaparan lelap tertidur.
Umar pun bersegera ke tempat penyimpanan makanan. Ia menggendong satu karung gandum dan lauknya untuk diberikan kepada sang janda dan anak-anaknya. Saat sampai di tenda, Umar masuk dan lalu memasakkan sebagian gandum yang dibawanya, dan menyuruh ibu untuk membangunkan anak-anaknya. Si ibu menangis tak menyangka seorang pria membantunya memberi makan untuk dia dan anak-anaknya.
Sungguh besar perhatian, amirul mukminin, sebesar rasa takutnya akan hari pertanggung jawaban. Beruntungnya sang janda hadir di tengah masa Islam tegak. Masa para pemimpinnya takut pada Allah. Tak lalai sedikit pun pada pengurusan rakyatnya.
Semoga Allah hadirkan kembali sosok amirul mukminin yang Cinta kepada rakyat, tanpa pencitraan dan maksud tertentu. Pemimpin yang takut azab Allah kala menyiakan dan melalaikan urusan rakyatnya. Yang hadir dari rahim Islam dan penerapannya secara kaffah.
Wallahu'alam bish shawab