Perempuan Dalam Jerat Kapitalisme.


Oleh. Reni Tresnawati. (Pengamat Generasi)


 Beberapa waktu lalu diperingati Hari Perempuan Internasional atau International Woment's Day. Tepatnya tanggal 8 Maret 2019. Tema yang diangkat pada peringatan 2019 ini "*Balance For Better*".


 Dengan mengangkat tema tersebut tahun ini,diharapkan ada keseimbangan atau kesetaraan dalam berbagai aspek kehidupan. Terutama dalam dunia kerja, gap day atau beda gaji masih terjadi antara pria dan wanita, dimana wanita dibayar lebih rendah dari pria. Seperti yang dilansir Detik.com, 8 Maret 2019.


Tema yang di usung bertujuan agar keseimbangan antara pria dan wanita terkait gaji dalam bekerja akan setara. Mengingat pekerja wanita lebih rendah dari pria. Mereka menginginkan wanita dan pria setara derajatnya. Namun tentu saja tidak bisa, karena antara pria dan wanita berbeda peran dan fungsinya. Yang bisa menyetarakan derajat pria dan wanita hanyalah ketakwaannya kepada sang Pencipta alam semesta.


Sistem kapitalisme sudah menggeser peran dan fungsi wanita kearah yang bertolak belakang dengan kodrat wanita yang seharusnya ada di rumah dan mengatur keluarga dan rumah tangganya. Sedangkan kaum kapitalis malah menjauhkan perempuan dari kewajibannya mengurus anak dan suami. Dengan didirikannya perusahaan-perusahaan yang lebih membutuhkan tenaga kerja wanita, secara tidak langsung perempuan dipaksa untuk meninggalkan keluarganya. Banyak alasan yang akhirnya perempuan harus bekerja sehari penuh, dari pagi sampai malam. Bahkan ada yang pulang pagi lagi, sementara suami dan anak ditinggal di rumah. Yang akhirnya suami menjadi bapak rumahtangga. Miris sekali.


 Di era kapitalis perempuan dijadikan faktor produksi yang berharga  murah sekaligus menjadi target pasar produksi (pengokoh hegemoni kapitalisme). Dan perempuan pun dengan senang hati menerima perlakuan itu karena biasanya faktor ekonomi dan gaya hidup yang menuntut mereka untuk tetap bisa hidup. Itulah kapitalisme yang mendefinisikan keberdayaan perempuan sebagai aspek materi. 


Sistem kapitalisme yang segala sesuatu diukur dengan materi belaka. Beda halnya dengan sistem Islam yang sangat memuliakan perempuan.


 Islam mendefinisikan keberdayaan perempuan dengan menjalankan kodratnya sesuai peran dan fungsinya. Perempuan ditempatkan pada tempat yang semestinya yaitu sebagai ummu warabbatul bait, yang mengelola rumahtangga, mengasuh dan mendidik keluarganya, dengan nilai-nilai Islam agar bisa menjadi rumah yang dipenuhi dengan ketaatan pada aturan-aturan Allah yang akan menghantarkan kepada keridhaan dan keberkahan Allah SWT.


Perempuan juga sebagai ibu generasi (ummu ajyal) yang bisa mencetak bibit-bibit unggul, karena dari rahimnyalah akan lahir generasi-generasi baru yang akan meneruskan perjuangannya untuk membela Islam yang saat ini sedang didiskriminasi dan sebagai generasi penerus harus dididik  agar bisa menegakkan secara optimal penyebaran aturan-aturan Allah secara kaffah atau menyeluruh ke penjuru dunia serta menebar kembali peradaban Islam yang pernah berjaya dengan gemilang di seluruh dunia. Wallahu a'lam.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak